Saturday, 9 Jumadil Awwal 1444 / 03 December 2022

Kasyf ar- Raibah 'An Ahkam al-Ghibah Sepuluh Pemicu Ghibah dan Penawarnya

Ahad 30 Oct 2016 17:00 WIB

Red:

Ghibah, dalam banyak kesempatan, adalah perkara yang samar. Mereka para peghibah, beranggapan perbincangan ihwal kekurangan objek ghibah adalah hal biasa.

Mengapa dorongan ingin menggunjing dan membicarakan keburukan sesama muncul dalam kehidupan sehari-hari secara kolegial? Sering kali bahkan dilakukan secara sengaja. Tak memandang umur, jabatan, dan kedudukan seseorang. Ghibah seolah dianggap lumrah. Orang kaya berghibah, mereka yang dhuafa juga demikian. Kehormatan sang objek begitu renyahnya dilumat. Tak peduli dampak dan efek domino yang diakibatkan dari aktivitas tersebut. Jawaban atas pertanyaan mengapa inilah yang hendak diungkap Imam Zainuddin al-Juba'i al-Amili as-Syami (w 965 H) dalam karyanya yang cukup langka dan fenomenal berjudul Kasyf ar- Raibah 'An Ahkam al-Ghibah. Dalam mukadimahnya, tokoh yang pernah mengembara mencari ilmu ke berbagai negara itu menekankan sebab utama mengapa ghibah bisa terjadi.

Ghibah terasa seolah indah dan benar, kata al-Juba'i. Para pelaku ghibah kerap tak menyadari, apa yang ia lakukan merupakan bagian dari ghibah. Ia seolah membenarkan tidakannya itu. Menguliti aib sesama dengan ringan tanpa beban. Ghibah, dalam banyak kesempatan, adalah perkara yang samar. Mereka para peghibah beranggapan perbincangan ihwal kekurangan objek ghibah adalah hal biasa dan lumrah.

Maka, dalam konteks inilah, al-Juba'i membeberkan faktor apa sajakah yang bisa memicu ghibah. Tak hanya terhenti di situ, kitab ini juga memaparkan pembahasan yang tak kalah penting, yaitu langkah-langkah antisipatif menghindari ghibah.

Setelah menguraikan definisi dan kategorisasi ghibah, al-Juba'i mengatakan, ada 10 hal yang bisa memicu perbuatan menggunjing keburukan orang lain. Pertama adalah timbulnya kemarahan dalam diri pelaku ghibah terhadap si objek. Amarah terhadap seseorang mendorong pelaku membeberkan aib yang bersangkutan. Terlebih jika ruh keagamaan dan sikap wara' hilang dari mereka yang tengah dirundung amarah.

Jika amarah tersebut tak tersalurkan atau ternetralisasi dengan permintaan maaf atau jiwa besar mengikhlaskan, yang akan terjadi selanjutnya adalah amarah itu mengendap dan semakin mengeras dalam batinnya.

Amarah itu menjelma menjadi dendam kesumat, selamanya akan mengingat dan menyebutkan keburukan si fulan. Berhati-hatilah, kata al-Juba'I, amarah dan dendam pemicu dominan ghibah.

Kedua, solidaritas yang salah tempat. Berkumpul dalam perkumpulan, yang mungkin tujuan awalnya baik, ternyata di tengah-tengah perbincangan tersebut pelaku ghibah mengawali melontarkan isu, gosip, dan kabar burung tentang seseorang, lalu mengajak kita benar-benar ikut dalam pusaran ghibah.

Dalam kondisi demikian, kita kerap menyadari larangan berghibah, tetapi karena menjaga perasaan dan solidaritas salah tempat tadi, akhirnya kita turut menjerumuskan diri bersama-sama si pelaku ghibah.

Ketiga, mendegradasi kredibilitas si objek ghibah. Ini bisa jadi muncul karena misal faktor persaingan tak sehat atau untuk tujuan mereduksi kredibilitas seseorang dalam hal persaksian. Pelaku dalam kondisi semacam ini melakukan serangan lebih awal untuk menjatuhkan lawannya itu di depan publik.

Faktor pemicu ghibah yang keempat dalam pandangan al-Juba'i ialah cuci tangan atas perbuatan yang sama-sama pernah dilakukan dengan si objek ghibah. Ia ingin mencitrakan diri seolah-olah bersih dan sepenuhnya tak terlibat, padahal fakta tidak demikian. Pelaku ghibah akan menguak aib yang sebenarnya, ia juga melakukannya. Ia berbohong untuk dirinya sendiri, tetapi ia jujur menguliti keburukan orang lain.

Al-Jubai melanjutkan, pemicu ghibah yang kelima ialah keinginan mengangkat status pelaku dan menjatuhkan martabat si objek dengan merendahkan dan atau menyebarkan kekurangan intelektualitasnya, misal, kepada orang lain.

Seperti tudingan bahwa si fulan itu bodoh, tak pandai bicara, dan minim wawasan. Tujuannya hanya satu, meninggikan derajat dan nilai si pelaku di mata orang.

Pemicu ghibah selanjutnya yang keenam, menurut al-Juba'I, ialah dengki. Ia tak ingin saudaranya mendapat nikmat. Jika publik memuji lawannya, kedengkian si pelaku akan membakar hatinya dan menggerakkannya melakukan ghibah.

Bagaimana agar publik berhenti memuji saingannya itu. Caranya sangat tak santun dan tak beretika. Ia akan membuka aib orang tersebut di depan khalayak. Harapannya, rangkaian pujian demi pujian yang selama ini tertuju pada si objek akan terhenti.

Faktor yang ketujuh, al-Juba'i, mengingatkan kita, hendaknya mengindari menggunakan kekurangan dan aib seseorang sebagai bahan candaan. Sadar atau tidak, candaan tak pantas kita terhadap si fulan di belakangnya bermuatan ghibah. Meski sekadar ingin mencairkan suasana, memancing gelak tawa, ketahuilah hal itu sama sekali tak pantas.

Al-Juba'i menjelaskan, faktor kedelapan tak jauh berbeda dengan pemicu sebelumnya, yaitu keinginan merendahkan dan menghina si fulan. Menurut al-Juba'i, sekalipun pembeberan keburukan itu dilakukan di hadapannya dan ia mengetahui dan mendengar, itu pun bisa dikategorikan sebagai ghibah. Sebab, ia tak menutupi aib, malah membuka dan menjadikannya bahaan ejekan.

Sementara, pemicu ghibah kesembilan, menurut al-Juba'i, sangatlah tipis dan halus muatannya. Ini terkadang terjadi di kalangan orang-orang terdidik. Seperti perkataan demikian, Kasihan si fulan. Saya ikut prihatin. Tak ada yang salah dengan kalimat ini. Hal yang keliru ialah biasanya kalimat ini disusul dengan membeberkan kekurangan-kekurangan si fulan yang melatarbelakangi mengapa si pelaku ghibah prihatin.

Dan, penyulut ghibah yang terakhir, dalam pandangan al-Juba'i adalah kemurkaan karena Allah SWT. Kok bisa? Ya, ini lagi-lagi kerap menghinggapi mereka yang terdidik dan kalangan khusus seperti ulama. Seseorang bisa saja marah karena si fulan bermaksiat, melanggar larangan-larangan-Nya. Tetapi, secara spontan ia justru kerap membuka aib si fulan tersebut di hadapan orang lain.

Obat

Al-Juba'i menawarkan obat penawar mengantisipasi ghibah. Tentu dosis umum mencegah ghibah adalah menahan lisan. Selalu mawas, introspeksi, dan sibukkanlah diri dengan mengurusi kekurangan diri sendiri daripada mengorek-korek aib orang lain. Dalam sebuah riwayat, Rasulullah SAW mengingatkan, beruntunglah mereka yang disibukkan dengan aibnya sendiri daripada mencari kekurangan orang lain.

Ingatlah dampak mengerikan akibat ghibah. Ghibah akan menghapus kebaikan yang pernah dilakukan seseorang berhari-hari, berpekan-pekan, berbulan-bulan, hingga bertahun-tahun.

Pahala kebaikannya itu akan sirna. Bahkan, seperti yang ditegaskan dalam sejumlah riwayat, bila tak lagi tersisa kebaikan dalam dirinya, ungkap al-Juba'i, Allah akan melimpahkan beban dan tanggung jawab keburukan korban ghibah kepada pelaku.   Sedangkan, dosis yang spesifik menangkal ghibah, menurut al-Juba'i, bisa disesuaikan dengan masing-masing pemicu ghibah yang berjumlah 10 di atas.

Penawar untuk pemicu yang pertama, misalnya, al-Juba'i menawarkan agar membiasakan diri melupakan kejahatan orang lain. Tahanlah amarah mengharapkan ridha Allah semata. Siapa tahu, dengan kita lebih dulu memaafkan, orang tersebut membalasnya dengan permintaan maaf. Rasul bersabda, Barang siapa yang mampu menahan amarahnya, padahal ia mampu melepaskan dan menuruti amarah itu, Allah akan memanggilnya secara istimewa di atas segenap makhluk dan mempersilakan ia memilih bidadari mana yang ia kehendaki.

Al-Juba'i memberikan penawar atas solidaritas salah tempat yang mendorong ghibah berjamaah. Ingatlah, Allah meridhai kita dengan meninggalkan ghibah. Bagaimana kita menyerah begitu saja dan memilih ridha para pelaku ghibah daripada ridha Sang Khalik? Begitu mereka mengajak kita berghibah, maknanya kita diajak bermaksiat kepada-Nya dan bermaksiat kepada sesama. Lalu, apa gunanya solidaritas semacam ini?

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
 
 

BERITA TERKAIT

 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA