Thursday, 18 Rabiul Akhir 1442 / 03 December 2020

Thursday, 18 Rabiul Akhir 1442 / 03 December 2020

Menuju Keseimbangan Pasar Minyak Dunia

Senin 25 Apr 2016 11:00 WIB

Red:

Kegagalan negara-negara utama penghasil minyak dunia, baik anggota Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) maupun non-OPEC, mencapai kesepakatan pengurangan produksi diperkirakan terus penurunan harga minyak dunia. Setelah sempat membaik menjelang pertemuan OPEC dan non-OPEC di Doha akhir pekan lalu, harga minyak kembali drop setelah pertemuan dipasti kan gagal mencapai kesepakatan.

Pertemuan Doha yang sebelumnya diharapkan mampu memuluskan jalan menuju stabilisasi harga energi, khususnya minyak mentah, ternyata belum memberikan hasil berarti. Sebaliknya, tidak tercapainya kesepakatan dalam Pertemuan Doha justru mengindikasikan langkah menuju stabilisasi harga dengan keseimbangan pasokan dan permintaan minyak dunia bakal mengalami banyak benturan. Kegagalan tercapainya kesepakatan juga dinilai mencerminkan stabilitas pasar minyak dunia tersandera rivalitas antarsesama anggota OPEC.

Melihat kondisi tersebut, jalan menu ju keseimbangan baru harga minyak dunia seolah masih panjang, sementara 'korban' terus berjatuhan. Pendapatan perusahaan perminyakan dunia, yang sempat menikmati keuntungan besar tahun-tahun sebelumnya, kini mulai rontok. Pemangkasan investasi eksplorasi terjadi, sebagian perusahaan malah sudah dinyatakan bangkrut. Puluhan ribu, mungkin ratusan ribu pekerja perminyakan harus kehilangan pekerjaan.

Bukan hanya perusahaan perminyak an tapi juga negara-negara utama penghasil minyak dunia. Venezuela, Nigeria, Ekuador, Brasil, dan Rusia, merupakan sebagian negara yang sedang menghadapi kesulitan perekonomian lantaran merosotnya harga minyak. Di sebagian negara malah mungkin memicu pula guncangan politik. Di Amerika Serikat (AS), praktis tidak ada lagi pengeboran minyak yang menguntungkan.

Lihat juga Angola. Awal April lalu, ne gara anggota OPEC ini malah sudah mengajukan bail out ke Dana Moneter Internasional (IMF). Angola memang menggantungkan perekonomiannya pada industri perminyakan. Sekitar 95 per sen dari pendapatan ekspor Angola disumbang sektor perminyakan. Harga minyak dunia yang terus anjlok juga menyeret turun pertumbuhan ekonomi dari 6,5 persen pada 2013 menjadi hanya 3,5 persen tahun lalu.

"Pemerintah sudah meminta dukung an IMF. Kami sadar ketergantungan tinggi pada minyak sudah memicu ren tanya sektor keuangan publik dan per ekonomian," begitu pernyataan Kemen terian Keuangan Angola dilansir Bloomberg. Ini merupakan kali kedua Angola, yang produksi minyaknya mencapai 1,6 juta barel per hari, mencari bantuan keuangan ke IMF. Sebelumnya, pada 2009, Angola sudah menerima sebesar 1,4 miliar dolar AS dari IMF. Kini, ketika pinjaman 2009 masih dalam proses pembayaran, Angola kembali mengajukan pinjaman sebesar 1,5 miliar doar AS.

Pertanyaannya, sampai berapa lama negara-negara seperti Angola atau ne gara berkembang lain yang bergantung pada ekspor komoditas, termasuk mi nyak, bisa melihat titik terang? Tidak ada yang mampu menjawab secara pasti. Banjir pasokan minyak dunia agaknya belum akan surut dalam waktu dekat. Sedangkan di sisi permintaan, diperkirakan justru melandai. Beberapa hari sebelum Pertemuan Doha digelar, OPEC bahkan merilis prediksi permintaan mi nyak dunia selama 2016 yang meng alami penurunan sebanyak 50 ribu barel per hari, menjadi 1,2 juta barel per hari.

Pengurangan prediksi permintaan minyak dunia versi OPEC itu didasarkan pada kekhawatiran terkait perkembangan situasi perekonomian di Amerika Latin dan Cina. Selain itu juga dengan memperhatikan prakiraan cuaca yang hangat serta gerakan pengurangan sub sidi bahan bakar di banyak negara. "Situasi dan kondisi saat ini banyak me munculkan faktor negatif yang menga bur kan faktor-faktor positif, dan kemungkinan besar berdampak pada penurunan permintaan," begitu salah satu pre diksi OPEC terhadap permintaan mi nyak dunia seperti dilansir Kantor Berita Reuters.

Faktor India

Kontras dengan prediksi OPEC, pre diksi yang dipublikasikan Interna tional Energy Agency (IEA) dalam Oil Market Report bulanannya, justru mengindikasi kan akan terjadi kenaikan permintaan mi nyak dunia. Menurut IEA selama Maret lalu, pasokan minyak mentah turun sebanyak 300 ribu barel per hari dibanding pasokan Maret 2015. Secara tahunan, dalam kurun Maret 2015 sam pai Maret 2016, pasokan minyak mentah dunia berkurang sampai 690 ribu barel per hari. Sebaliknya, di sisi permintaan, IEA memprediksi angka yang sama da lam kurun tiga bulan terakhir sebanyak 1,2 juta barel per hari.

IEA juga menunjukkan produksi OPEC selama Maret lalu turun sekitar 90 ribu barel per hari menjadi 32,47 juta barel per hari. IEA memprediksi produksi OPEC akan meningkat menjadi 32,8 juta barel per hari pada kuartal kedua 2016, dan bertambah lagi menjadi 33 juta barel per hari pada kuartal tiga dan empat 2016. Meski pasokan OPEC terlihat meningkat, namun IEA memperkirakan produksi non-OPEC justru meng alami penurunan cukup signifikan, sebanyak 710 ribu barel per hari menjadi 57 juta barel per hari.

Salah satu penyumbang utama penurunan pasokan minyak non-OPEC, menurut IEA, tak lain adalah melambatnya produksi minyak Amerika Serikat (AS). Sampai awal April lalu, IEA menunjuk data pengeboran minyak AS menu run sampai sekitar 80 persen dibanding puncaknya pada Oktober 2014. Angka tertinggi produksi minyak AS tercatat pada Juni 2015 yang mencapai 9,6 juta barel per hari. Namun, sampai April ini, untuk pertama kalinya sejak Oktober 2014, produksi minyak AS merosot sam pai di bawah sembilan juta barel per hari.

Secara keseluruhan, IEA memprediksi penurunan permintaan minyak dunia terjadi terutama lantaran perlambatan pertumbuhan ekonomi mulai dari Cina, AS, dan Eropa. Penurunan permintaan di negara-negara tersebut terjadi tak lain lantaran melambatnya aktivitas industri dan manufaktur. Sebut saja misalnya Cina. Perekonomian di negeri tirai bambu itu kini sedang melambat karena sedang dalam proses transisi dari pertumbuhan yang mengandalkan industri manufaktur (yang sangat mengandalkan bahan bakar) menjadi pertumbuhan dengan sektor konsumsi sebagai motor.

Cina, diakui kalangan perminyakan dunia, selama ini memang menjadi mesin utama permintaan minyak global. Namun ketika Cina sedang melakukan proses transisi model pertumbuhan ekonomi, IEA agaknya tidak terlalu kha watir soal permintaan minyak dunia. Pa salnya, IEA sudah pula melontarkan in dikasi ada satu negara yang bakal men jadi mesin utama permintaan minyak dunia, pengganti Cina. Negara dimaksud tak lain adalah sebuah kekuatan ekonomi yang sedang berkembang, India.

IEA mencatat jika pertumbuhan ekonomi India terus membaik secara fun damental, negara ini dipercaya mam pu berkontribusi pada meningginya permintaan minyak dunia. Menurut data revisi IEA untuk akhir 2015 dan data awal 2016, permintaan minyak India secara tahunan tumbuh sampai delapan persen. Selama 2016 saja, IEA memperkirakan permintaan minyak India tumbuh sekitar 300 ribu barel per hari, sebuah angka yang disebut IEA sebagai per tumbuhan terkuat yang pernah terjadi.

Berdasar penurunan yang terjadi pada produksi OPEC dan non-OPEC, dengan permintaan minyak dunia yang relatif tetap, bahkan cenderung mening kat dimotori India, IEA pun memperkirakan keseimbangan pasokan dan permintaan dunia bisa tercapai pada paruh kedua tahun ini. Seperti IEA Kalangan perminyakan dunia juga meyakini pasar minyak dunia sedang menuju titik keseimbangan lantaran permintaan minyak di banyak negara secara perlahan bakal meningkat. Kondisi inilah yang diperkirakan mampu menstabilkan kembali harga minyak dunia dalam kurun satu atau dua tahun ke depan, dengan atau tanpa kesepakatan pemangkasan produksi OPEC dan non-OPEC. ¦

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA TERKAIT

 

BERITA LAINNYA