Saturday, 9 Safar 1442 / 26 September 2020

Saturday, 9 Safar 1442 / 26 September 2020

Mimpi dan Imajinasi Anak Indonesia

Selasa 22 Mar 2016 11:00 WIB

Red:

"Ibium Ibium Odebi Odebi Kutao!" teriak mereka saat membaca mantra itu. Mereka membaca mantra untuk pergi ke suatu tempat, tetapi keempat sahabat itu tidak mengetahuinya. Lalu, tiba-tiba, wuuusshh, mereka menghilang dan berada di suatu tempat yang seluruhnya terbuat dari kue.

 

Itulah salah satu penggalan cerpen "Kimi dan Buku Ajaib" karya Rawselmahista Anra Sekarwisesa. Judul itu sekaligus menjadi judul kumpulan cerpen karya 30 anak SD di Jakarta dan sekitarnya.

 

Selma, begitu panggilan gadis cilik itu, menjadi salah satu penulis yang terpilih mengisi cerpen dalam buku yang baru saja diluncurkan dalam acara Islamic Book Fair (IBF) 2016 di Istora Senayan Jakarta, Jumat (4/3).

 

Murid kelas lima SD Islam Amalina Bintaro menulis tentang empat orang sahabat, Kimi, Chelsea, Britany, dan Lulu yang menemukan buku yang bersinar dan bersuara. Ternyata itu adalah buku ajaib. Dan, ketika dibuka, ternyata dalam buku tersebut terdapat mantra. Keempat sahabat itu kemudian membaca mantranya dan dalam sekejap mereka berada salam suatu negeri yang terbuat dari kue.

 

Selma mengaku mendapat ide cerpen tersebut dari dirinya sendiri. Dara kelahiran Jakarta, 3 Mei 2005, ini hanya membutuhkan waktu dua jam untuk menuliskan tiga lembar cerpen itu. Tidak ada kendala dalam dirinya, mungkin karena ia sudah terbiasa menulis sejak kelas dua SD.

 

Namun, memang ia belum pernah menulis buku sebelumnya, ini adalah buku pertama Selma. Tentunya, ia sangat senang dengan prestasinya ini. "Rasanya senang," ujar perempuan penyuka komik Jepang ini saat ditemui seusai peluncuran buku tersebut.

 

Bukan hanya Selma, ibundanya, Wiken Era Waradati, yang berprofesi sebagai dokter gigi pun bangga. Sejak Selma kecil, ibunda Selma sudah mengetahui bakat menulis anak keduanya itu. Walaupun hanya sebatas menulis catatan dan isinya pun mayoritas tentang khayalan. Bahkan, sejak kecil, kalau ada momen spesial, misalnya, orang tuanya ulang tahun, Selma sedang kangen atau sedang berbuat salah, ia akan mengungkapkannya dalam sebuah tulisan.

 

"Ya senang, bangga, ternyata memang ada bakat," ujarnya yang mengaku akan mendukung Selma jika ke depannya mau menjadi penulis.

 

Karya anak bangsa

Kimi dan Buku Ajaib ini berisi kumpulan cerpen yang ditulis oleh 30 anak SD dari enam sekolah. Enam sekolah tersebut adalah SDN Rawamangun 12 Pagi, SDI Amalina Bintaro, Semut-Semut The Natural School, SD Al-Azhar 13 Rawamangun, SDIT Baiturrahman Citra, dan SDIT Tugasku. Keenam sekolah adalah peserta workshop tur One Day to Write (ODTW), Batch 1.

 

Murid berusia sekitar 9 hingga 11 tahun ini ditantang menulis cerita dalam dua jam. Dan, ternyata naskah yang masuk datang dari 200 peserta. Kemudian, diseleksi lagi menjadi 30 penulis yang masuk dalam buku terebut. "Dari 200 peserta yang ikut, 99 persennya selesai dalam waktu dua jam," jelas mentor buku Kimi dan Buku Ajaib yang juga founder ODTW, Lala Elmira.

 

Ia menjelaskan, ide awal buku ini terinspirasi dari anak-anak di sekitarnya. Di mana-mana anak zaman sekarang bergaul dengan gawai, berbeda dengan dunia anak pada masanya yang masih menanti majalah Bobo.

 

Namun, Lala yakin sebenarnya anak-anak masa kini masih punya potensi menjadi penulis yang luar biasa. Mereka hanya perlu 'dibangunkan'. "Itulah yang menginspirasi kami untuk membentuk kumpulan cerpen buku Kimi ini," ungkap perempuan yang juga menjadi dosen bahasa Inggris di Universitas Indonesia.

 

Enam sekolah terpilih itu merupakan sekolah yang memiliki pelajaran tambahan jurnalistik. Dengan begitu, murid-muridnya sudah terlatih menulis. Namun, dari tidak semua yang mengirimkan naskah ke penyelenggara merupakan anak yang terbiasa menulis. Ada yang tidak terbiasa ikut kelas jurnalistik pun lolos seleksi. 

 

Dalam buku ini terdiri atas beberapa tema berbeda, ada yang horor, fantasi, persahabatan, dan keluarga. Misalnya, Naila Mesifa, ia menulis cerpen berjudul "Sebuah Misi di Queen Mary". Anak 10 tahun tersebut menulis tentang Queen Mary yang ternyata adalah sebuah kapal perompak.

 

"Dengan berbekal apa yang mereka lihat, dengar, dan rasakan, mereka membuat berbagai genre cerita yang cukup mengejutkan," ujarnya.

 

Proses pembuatan buku ini memakan waktu hanya beberapa bulan. Mulai dari pengumpulan naskah November dan Desember. Januari mulai penyuntingan dan layout. Maret sudah diluncurkan. Buku ini tersebar di seluruh toko buku di Indonesia. Dan, juga dijual di koperasi di enam sekolah tersebut. Buku setebal 216 halaman ini diterbitkan oleh Penerbit Bestari dan dibanderol Rp 47.500. n ed: nina chairani

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA TERKAIT

 

BERITA LAINNYA