Sunday, 16 Muharram 1441 / 15 September 2019

Sunday, 16 Muharram 1441 / 15 September 2019

Bermalam di Rumah Gadang

Senin 01 Sep 2014 18:00 WIB

Red:

Braaak! Saya terkejut sendiri mendengar suara yang saya timbulkan. Kebiasaan bangun tidur langsung loncat ke lantai yang jadi perkaranya. Barulah tersadar, malam itu saya bermalam di rumah gadang dari kayu hingga ke lantainya. Sebuah pengalaman baru.

Saya bermalam di sebuah rumah gadang di perkampungan Jambak, Jorong Koto Marapak, Nagari Lambah, Kecamatan IV Angkek, Kabupaten Agam. Alamat sepanjang itu mengantarkan kita ke sebuah rumah gadang di kampung yang tenang 30 menit berkendara dari Bukittinggi berlatarbelakangkan Gunung Marapi dan Gunung Singgalang.

Rumah itu berdiri di kampung tempat lahirnya beberapa ulama seperti Prof Zakiah Daradjat dan Mawardi Labay Al Sulthany. Kehidupan masyarakatnya adalah bersawah, berkebun, dan juga beternak. Di kampung yang malam harinya lengang, hanya dijumpai beberapa orang di jalan atau serombongan orang yang baru pulang dari masjid.

Tahan lama

Setelah sarapan ketan plus pisang goreng sambil mengagumi dua rumah gadang sederhana dari ambang jendela, saya mulai menjelajah keindahan rumah milik keluarga Arina Suhirman, teman saya. Rumah Gadang Nantigo (RGN), begitu nama rumah yang dibangun hampir seratus tahun yang lalu itu, tampil manis. Pada eksteriornya rumah ga dang tujuh ruang itu berwarna oranye, terlihat manis dan feminin dengan latar depan nya taman dengan bunga-bunga dahlia bermekaran.

Pada bagian dalamnya, seluruhnya kayu tanpa lumuran cat. Rumah tradisional ber bentuk panggung ini ditegakkan dengan 113 tiang. Tiang-tiang itu didirikan di atas batu sandi, batu fondasi tanpa campur tangan semen dan paku. ‘’Tiang-tiang ini dibuat dengan sistem pasak,’’ jelas Arina. Pasakpasak dan batu sandi itu membuat rumah ini tahan guncangan gempa.

Suasana tempo dulu terasa di dalam rumah ini. Dinding kayu di ruang tengah dibentuk melengkung sederhana sebagai ornamen di setiap pintu, nuansa art deco pada masa pembuatannya.

Tak hanya pada bangunan dan interiornya. Tapi, juga perabot rumah tangganya, kursi sedan, lemari-lemari kayu seperti di rumah nenek buyut dulu. Bahkan, tempat tidur berkelambu mengingatkan kita pada zaman Siti Nurbaya.

‘’Kata ibuku, persiapan membangun ru mah ini dimulai dari memilih batang-batang pohon yang akan dijadikan tiang dan papan rumah,’’ ungkap Arina, salah satu ahli waris rumah gadang itu, penuh semangat. Ibundanya, Lisma Amin lahir di kamar yang kini dinamai kamar Nafisah, 74 tahun silam.

Pohon-pohon bahan bangunan dari kaki Gunung Marapi itu dipilih yang berbatang lurus. Batang gelondongan itu berikut bambu yang akan dijadikan bilik direndam sekitar dua tahun di dalam kolam berlumpur. ‘’Proses perendaman itu membuat kayu lebih kuat menghadapi cuaca dan rayap,’’ ujarnya seraya menyapu seluruh ruangan dengan ta tapan matanya.

Rumah gadang dibangun pada 1918 oleh Idroes Dt Majolelo, tukang yang mahir membangun rumah gadang. Ia membangun Ru mah Puun, rumah barat, yang kini di gun akan sebagai homestay. Disebut sebagai RG Nantigo karena perkembangan jumlah anggota keluarga, maka dibuatlah Rumah Tangah dan Rumah Ujuang. RGN masih asli dan belum mengalami kerusakan yang cukup berarti sejak awal pembangunannya. Tiang penyangga dan la ngit-langit bambu belum pernah diganti sejak pertama kali dibangun. Hanya sebagian material papan kayu di dalam kamar diganti pada waktu renovasi tahun lalu karena banyak yang keropos dimakan usia.

Hidup dan menghidupi

Ada enam kamar cuma. Masing-masing diberi nama sesuai penghuninya dulu: Dianah, Zawadjir, Zahara, Rukayah, Zaenab, dan Nafisah.

Tiap bulan selalu saja ada tamu datang ke RGN. Kebanyakan mereka dari Singapura dan Malaysia yang ingin menikmati negeri asal-usul mereka, Minangkabau. Boleh dibilang rumah itu tak pernah menganggur. Cerita dari mulut ke mulut, akhirnya pelanggan RGN pun bertambah.

Perbaikan dengan modal awal tak lebih dari Rp 200 juta, RGN terus berkembang. Biaya itu untuk menambah satu kamar mandi baru, merenovasi kamar mandi de ngan peralatan modern, mengganti papan rumah gadang yang lapuk, mengisi rumah gadang dengan tempat tidur, dan lain-lain. ‘’Dulu orang memandang aneh saat kami merenovasi, apakah ada orang yang mau datang ke kampung yang jauh ini?’’ kenang Arina tentang tatapan aneh orang saat itu.

Namun, kini setelah tamu-tamu datang silih berganti, mereka mulai melihat manfaatnya. Apalagi RGN melibatkan warga sebagai tenaga paruh waktu selama ada tamu. Dengan menyisihkan 25 persen untuk pe rawatan dan renovasi rumah, Arina memperkirakan, modal awal yang dikeluarkan pembangunan rumah pertama kali sudah bisa impas di tahun ke-4. Dari langkahlangkah kecil ini, Arina dan keluarganya berharap kehidupan ekonomi kampung kecil itu menggeliat.

***

Jadi Turis Rumah Gadang

Hampir di setiap nagari di Sumatra Barat memiliki beberapa ru mah gadang. Pada umumnya, ki ta bisa melongok melihat ru mah ga dang itu dengan memintanya se cara sopan. Umumnya, para peng huni ru mah itu pun mengajak kita singgah. Be rikut beberapa tips yang kami lakukan.

* Makan-makanlah di warung milik warga setempat. Dari sana kita bisa mendapat informasi tentang rumah ga dang yang menarik. Terkadang m e reka mengantarkan langsung ke ru mah itu.

* Sambangilah warga yang me nya pa dengan sopan dan ramah. Per ha ti kan detail rumah gadang itu, per ha- tikan kekuatan kayu pada rumah. Ja ngan paksakan masuk bila bangunannya terlihat rapuh, seberapa pun menariknya rumah itu.

* Sering kali penjaga rumah ga dang merasa pengunjung adalah orang yang kaya. Mereka pun kemudian me nyindir-nyindir, dan meminta uang secara langsung. Tak ada salah nya bila Anda berbagi, namun tidak de ngan cara yang menyinggung pe rasaan.

* Tanyalah di mana ada rumah ga dang yang difungsikan sebagai homestay. Namun, jangan kecewa bila fa silitasnya tak seperti pada hotel ber bintang atau rumah di kota besar. Bermalam di rumah gadang adalah pengalaman yang berharga untuk dicoba.

***

Detail …

Lemari lakek

Lemari kayu yang dipasang masuk ke dalam dinding kayu rumah gadang. Lemari seperti ini ciri khas rumah gadang kawasan Pariangan

Batu sandi

Rumah gadang yang asli berdiri di atas batu sandi (umpak), tidak ditanamkan ke dalam tanah. Dengan demikian, rumah bisa bertahan menghadapi guncangan gempa bumi.

Sasak bugih

Pada sisi samping rumah gadang ditutupi anyaman bambu yang jarang. Anyaman ini berfungsi sebagai penahan angin.

Reportase oleh Nina Chairani

Fotografer: Edwin Dwi Putranto

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA