Saturday, 3 Zulhijjah 1443 / 02 July 2022

Tarif Progresif

PT KAI Resmikan Tarif Progresif KRL AC

Jumat 24 May 2013 01:27 WIB

Red: Zaky Al Hamzah

Tiket elektronik KRL

Tiket elektronik KRL

Foto: Republika/Yasin Habibi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Mulai Juni 2013 PT Kereta Api Indonesia (PT KAI) memberlakukan tarif progresif bagi penumpang Kereta Rel Listrik (KRL) AC. Tarif untuk lima stasiun pertama Rp 3.000, kemudian untuk setiap tiga stasiun berikutnya penumpang dikenakan Rp 1.000. “Untuk tarif tertinggi, tetap mengacu pada tujuan terjauh, yakni Rp 9.000,” kata Direktur Utama PT Kereta Commuter Jabodetabek (PT KCJ) Tri Handoyo, Kamis (23/5).

Dia mencontohkan, penumpang yang berangkat dari Stasiun Jakarta Kota dan turun di Stasiun Cikini membayar Rp 4.000 karena terhitung melewati enam stasiun. Sebagai perbandingan, sebelumnya tarif Jakarta Kota-Cikini Rp 7.500. “Dengan tarif progresif ini sebagian besar tarifnya turun, kecuali untuk jarak terjauh,” ujarnya di gedung Jakarta Railways Center, Jalan Ir H Juanda, Jakarta Pusat.

Menurut dia, tarif progresif itu juga akan lebih adil bagi penumpang, khususnya bagi penumpang dengan tujuan jarak dekat. Saat ini, PT KAI mulai melakukan sosialisasi tarif progresif. PT KAI sudah memasang poster tarif progresif di semua stasiun. Tri juga menyambut baik rencana pemerintah yang akan memberikan subsidi penuh bagi penumpang KRL AC sebesar Rp 4.000. “Kita sangat senang kalau ada bantuan dari pemerintah sehingga makin banyak orang yang gunakan KRL,” katanya.

Bersamaan dengan penerapan tarif progresif, sistem tiket elektronik juga akan diterapkan pada Juni 2013. Jelang penerapan kedua kebijakan baru tersebut, PT KCJ telah menerbitkan dua kartu atau tiket elektronik. Kartu pertama berwarna merah untuk KRL AC dan kartu kedua berwarna hijau untuk KRL ekonomi.Tri juga mengatakan, pihaknya sudah mengantisipasi jika ada penumpang yang turun melebihi jumlah stasiun yang seharusnya. “Nanti ada petugas yang akan menangani apabila ada penumpang yang turun tidak sesuai dengan tarif yang dibayar,” kata dia.

Menurutnya, uji coba tiket elektronik itu sudah dilakukan sejak April 2013. Hingga saat ini, kata Tri, tercatat ada 10 ribu transaksi yang sudah menggunakan kartu elektronik. Selain itu, dia melanjutkan, 90 persen stasiun di Jabodetabek juga sudah dipasangi alat-alat pendukung sistem tiket elektronik tersebut.

PT KCJ juga akan menerbitkan tiket elektronik yang bisa digunakan lebih dari satu kali perjalanan atau multi trip, mulai Juli 2013. Dengan tiket multi trip saat keluar stasiun, kartu tersebut tidak ditelan kembali oleh mesin, tetapi dibawa oleh penumpang. Menurut Tri, kartu multi trip tersebut bisa dibeli di loket-loket yang ada di stasiun. Kartu itu merupakan kerja sama antara PT KAI dan lima bank di Indonesia, yakni BRI, BNI, BCA, Mandiri, dan Bank DKI. “Kartu ini juga bisa dipakai untuk naik busway” katanya.

Dia mengatakan, penerapan sistem tiket elektronik ini juga akan sejalan dengan kebijakan tarif progresif. Sebab, dengan tiket elektronik, kata dia, penghitungan tarif progresif bisa dilakukan dengan mudah. “Tiket elektronik atau bukan, penumpang pastinya ingin perbaikan layanan. Terutama, minimalisasi gangguan perjalanan KRL,” kata Armita, pengguna KRL warga Tebet, Jakarta Selatan.

Dia juga berharap jumlah perjalanan KRL bisa ditambah agar bisa diandalkan untuk transportasi warga Jakarta. Tak berhenti di Stasiun UIPenerapan tiket elektronik mau tak mau membuat kereta tak berhenti di stasiun yang belum steril. PT KCJ mengancam tidak akan memberhentikan KRL di Stasiun UI apabila stasiun tersebut belum juga steril hingga waktu pelaksanaan tiket elektronik mulai Juni 2013.

Direktur utama PT KCJ Tri Handoyo mengatakan, seluruh stasiun di Jabodetabek saat ini sudah steril dari pedagang, kecuali Stasiun UI. “Kalau Stasiun UI belum steril hingga waktu pelaksanaan maka kereta tidak berhenti di Stasiun UI,” ujar Tri. Menurut dia, PT KAI dan PT KCJ juga sudah melakukan berbagai acara agar pedagang mau dipindahkan dari sana.

Namun, kata dia, usaha tersebut juga belum berhasil.Seperti diketahui, para pedagang di Stasiun UI hingga kini masih menolak penertiban kios yang akan dilakukan PT KAI. Sebab, menurut pedagang, kios yang mereka tempati tersebut adalah milik mereka sendiri, bukan menyewa dari PT KAI. n c01 ed: wulan tunjung palupi

Berita-berita lain bisa dibaca di harian Republika. Terima kasih.

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA