Thursday, 14 Jumadil Awwal 1444 / 08 December 2022

Masih Banyak Masjid Dikelola tak Profesional

Rabu 03 Dec 2014 13:42 WIB

Red:

JAKARTA -- Kementerian Agama (Kemenag) tidak memungkiri bahwa banyak masjid dan mushala di negeri ini yang tak terurus.  Kalaupun ada masjid yang menerapkan konsep pengelolaan profesional, jumlahnya tidak banyak.

"Manajemen masjid kita lebih banyak dikelola secara tradisional, tidak diurus secara profesional," ujar Sekretaris Jenderal  Kemenag Nur Syam kepada Republika, Senin (1/12).

Dia mengatakan, kebanyakan takmir masjid hanya menjalankan program ala kadarnya. ''Sebagian besar merupakan takmir tradisional yang hanya menyelenggarakan shalat berjamaah, pengajian, dan kegiatan seadanya," katanya.

Untuk membantu pengelolaan masjid di seluruh Tanah Air, menurut Nur Syam, Kemenag telah menyiapkan beberapa program.  "Pertama, program peningkatan sarana dan prasarana," ungkapnya. Program ini berupa pemberian bantuan sarana dan prasarana kepada masjid dan mushala. Tujuannya, untuk memperbaiki bangunan masjid.

Ada pula bantuan untuk memeriahkan kegiatan di masjid dan mushala. Selain itu, Kemenag juga telah memprogramkan bantuan berupa pelatihan manajemen masjid. ''Kegiatan tersebut ditujukan untuk meningkatkan kualitas pengelolaan masjid.''

Meski demikian, Nur Syam menyatakan, Kemenag memiliki keterbatasan anggaran untuk menyalurkan bantuan seperti itu. "Anggaran kita tidak banyak untuk masjid, anggaran masih sangat sedikit. Jumlah yang bisa diperbantukan juga masih sangat sedikit.''

Sebelumnya, fakta mengenai buruknya pengelolaan masjid dan mushala di Indonesia disampaikan Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) HR Maulany. ''Dari sekitar satu juta masjid dan mushala, hanya sekitar 850 yang baik,'' katanya.

Ia mengatakan, pengelolaan masjid dan mushala di Indonesia masih mengalami kendala. Beberapa kendala yang dihadapi, di antaranya, keterbatasan sumber daya manusia (SDM), kurangnya program pemberdayaan umat, database yang belum akurat, belum adanya panduan pengurus masjid, lembaga pendidikan, serta pelatihan pemberdayaan masjid.

Karena banyaknya kendala tersebut, Maulany berpendapat, DMI harus melakukan berbagai pelatihan kepada pengurus masjid dan mushala. Harus pula dilakukan pengelompokan struktur organisasi pengurus masjid dari kota hingga desa agar tersusun dengan baik dan terarah.

Namun, menurutnya, hal itu tidak bisa dilakukan sendiri oleh DMI. Diperlukan uluran tangan dari Kementerian Agama (Kemenag) dan unsur pemerintah lainnya. "Dengan semua kendala tersebut, kami minta kerja sama dengan Kemenag dan persetujuan dari DPR.''

Untuk memperbaiki pengelolaan masjid dan mushala di seluruh Indonesia, lanjut Maulany, DMI akan melakukan sejumlah strategi, di antaranya, mendata potensi masjid, mempersiapkan pendidikan dan pelatihan bagi pengurus masjid, memperbaiki database, dan membuat panduan bagi pengurus masjid dalam hal manajemen pemberdayaan masjid.

Ia berharap, melalui langkah itu, fungsi masjid dan mushala dapat dimaksimalkan, baik sebagai tempat ibadah, dakwah, maupun pembinaan akhlak dan karakter umat Islam. ''Kami berharap, strategi yang kita usulkan dapat dikabulkan dan dilaksanakan sesuai harapan. Jadi, masjid dan mushala terkelola dengan baik.''

Rasa prihatin terhadap kondisi masjid dan mushala di Tanah Air juga disampaikan anggota Komisi VIII DPR Sodik Mudjhadid. Menurut dia, saat ini fungsi masjid dan mushala sangat minim. ''Tidak ada organisasi yang membimbing dan membinanya," ujar dia.

Ia juga melihat, banyak masjid dan mushala, terutama di pelosok perdesaan, tak terurus dengan baik. Selain kondisi bangunan yang kurang baik, banyak masjid dan mushala tidak memiliki kepengurusan yang jelas dan terstruktur. ''Padahal, masjid dan mushala merupakan lembaga atau sarana penting untuk pembinaan akhlak dan karakter umat Islam,'' katanya.

Ia juga meminta DMI untuk membuat  grand design, strategi, dan aksi untuk memberdayakan masjid dan mushala. DMI juga diminta membangun organisasi yang teratur dari atas sampai ke bawah. Sekarang ini, menurutnya, DMI lebih fokus mengatur masjid dan mushala di perkotaan.  n c60 ed: wachidah handasah

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA