Tuesday, 23 Safar 1441 / 22 October 2019

Tuesday, 23 Safar 1441 / 22 October 2019

Lapis Sejarah dan Budaya

Ahad 13 Jul 2014 17:00 WIB

Red: operator

Banyak peninggalan bersejarah hancur akibat perang.

Dalam beberapa dekade terakhir, Gaza menjadi fokus mata dunia ka rena terus diguncang persoalan kemanusiaan, politik, dan peperangan.

Wilayah dengan panjang hanya 25 mil ini menjadi tenda raksasa bagi 1,5 juta warga Palestina yang berlindung dari tekanan perang.

Tetapi, mengaca pada sejarah, Gaza merupakan jalur penting pertukaran budaya dan peradaban.Gaza merupakan penghubung Asia dan Afrika serta menjadi pelabuhan dagang penting bagi Timur dan Barat.Dick Doughty dalam artikelnya, "Gaza: Contested Crossroad", menulis tak ada arti khusus dari kata gaza di kamus Arab. Tapi, dalam bahasa lain selama 3500 tahun tanah Gaza dihuni, secara etimologi Gaza diartikan kuat, berharga, terpilih, tujuan invasi, dan hadiah bagi raja.

Gerald Butt dalam bukunya, Life at the Crossroads: A History of Gaza, mengungkapkan di masa lalu Gaza merupakan kota yang selalu berhasil lolos dari invasi pasukan Mesir, Baby lonia, Persia, Yunani, Roma, bangsa Israel dan Byzantium, Arab, Seljuk, Mamluk, Turki, dan Pasukan Salib.

Namun, invasi itu tetap meninggal kan jejak kebudayaan, teknologi, dan membuka peluang perdagangan dengan dunia luar. Saat berada di bawah invasi Yunani, Gaza mampu membangun per pustakaan besar. Dari Roma, Gaza me miliki sistem administrasi yang efektif.

Saat Byzantium menduduki Gaza, gereja agung didirikan oleh Raja Eudoxia, sekolah bahasa, forum diskusi, dewan perwakilan, dan infrastruktur yang baik. Butt mengutip catatan per jalanan seorang Italia ke Gaza pada 570 M yang menulis Gaza sebagai kota yang menyenangkan dan dikenal banyak orang. Warganya ramah serta telah mengenal banyak sentuhan peradaban dan pencapaian.

Gerald menolak karakterisasi negatif terhadap warga Gaza oleh Barat yang mereka sebut dengan orang Filistin yang materialistis dan tidak peduli budaya. Karakterisasi yang salah ini, katanya, mungkin dipengaruhi Perjanjian Lama (bagian dari Injil) yang menceritakan pascaperang antara orang Filistin dan Hebrew.

Menurut Butt, orang Filistin asli merupakan salah satu "orang laut"yang datang ke pantai selatan dan timur laut Mediterania pada abad 12 SM dan mulai bermukim di Gaza pada 1175 SM.

Orang Filistin lebih tinggi dari warga lokal dan merupakan pandai besi yang memiliki hubungan dagang dengan Pulau Aegean.

Mereka mendirikan lima negara kota di sepanjang Pantai Levantine dengan Gaza sebagai ibu kota. Meski dicitrakan buruk oleh Perjanjian Lama, Filistin masih memiliki kedekatan kultur dengan warga asli Gaza dibanding kaum Semitik lokal di sana. Namun demikian, semua peninggalan sejarah dan budaya Gaza harus hancur selama Perang Dunia I dan okupasi Israel pada 1967.

Dihuni selama lebih dari 3000 tahun sebagai wilayah persilangan budaya, Gaza menunjukkan eksistensinya. Gaza bukan hanya titik persilangan budaya, tapi juga sekaligus ikut terlibat dan menjadi bagian proses persilangan itu.

Gaza merupakan wilayah ka ya bu daya dengan kemampuan pereko no mian yang mandiri. Gaza pun memi liki masa ketika filsuf, musisi, dan teolog pernah berjaya, hal yang kontras dengan kondisi Gaza saat ini. Butt mengungkapkan, meski berulang dihancurkan, Gaza mampu bersatu, bertahan, dan bersemi kembali.

Dalam ulasan hasil pameran "Gaza at the Crossroads of Civilizations"yang diselenggarakan Musee d'Art et d'Histoire (Museum of Art and History)Jenewa, Swiss, pada 2007, tim editor Foundation for Science, Technology and Civilisation (FSTC) di laman Muslim Heritage mengutip pernyataan kurator pameran Marc-Andre Haldimann yang mengatakan Gaza pernah menjadi pintu penghubung dunia, bukan penjara tanpa jendela seperti saat ini.

Pemerintahan pra-dinasti Mesir pernah mendirikan Menara Tell Sakan pada 3500 Sebelum Masehi (SM) di tepi Sungai Wadi Ghazzeh. Dominasi Mesir berakhir di milenia kedua Sebelum Ma sehi seiring menguatnya pengaruh populasi Syro- Palestina, Hykos. Namun, Mesir kembali berhasil berkuasa di sana.

Pada 734 SM, Raja Assyria meng am bil alih wilayah Gaza dan menja dikannya perbatasan selatan. Batas ini lalu dijadikan jalan masuk Persia ke Gaza pada 539 SM. Invansi-invasi ini justru membuat perekonomian Gaza tumbuh pesat sebagai penghubung jalur perdagangan kertas dari Hadhramaut (Yaman), bahan mentah di Palestina, dan pelabuhan dagang.

Terbukanya jalur laut dimanfaatkan penganut Hellenis Yunani wilayah Boeotia untuk mendirikan Anthedon pada 520 SM di area yang terletak empat kilometer dari Gaza. Alexander Agung lalu menanamkan pengaruhnya di sana pada 332 SM. Gaza juga menjadi pelabuhan utama Imperium Byzantin.

Ekspor yang dilakukan Gaza ke Eropa sejak 5 M membuka para teolog Eropa untuk belajar di sana. Kehadiran Islam pada 637 M tidak membuat Gaza berhenti menjadi pusat pertemuan berbagai budaya. Bahkan, sekira 700- an M, Gaza melahirkan seorang imam besar, Muhammad Syafi'i.

Gaza kemudian bergantian berpindah ketangan Pasukan Salib di abad ke 11. Pasukan Muslim berhasil mengambil alih Gaza hingga era Dinasti Turki Usmani yang menjadikannya perhentian pusat dalam rute perjalanan haji.

Dick Doughty dalam artikelnya, "Gaza: Contested Crossroad", menulis, karena mengetahui strategisnya posisi Gaza, Muhammad SAW mengirim pa sukan yang dipimpin `Amr bin al-Ash pada 634 M untuk merebut Gaza dari Imperium Byzantin. Kemenangan mem buat `Amr bin Ash ditugaskan sebagai gubernur Gaza.

Di masa dinasti Islam, Gaza menjadi titik penting jalur haji dari Afrika dan utara Gaza. Pada 1187 M, Salahuddin al-Ayyubi berhasil menguasai Gaza dari tangan Pasukan Salib. Namun, ini hanya bertahan selama empat tahun sebelum pada 1191 Gaza kembali dikuasi Raja Richard.

Di masa Dinasti Mamluk (1250- 1517 M), perekonomian Gaza sangat hidup. Perdagangan Mesir-Gaza pun sangat dijaga keberlangsungannya. Ibnu Battuta yang sempat singgah di Gaza pada 1326 menulis, Gaza merupakan kota yang mudah ditemui pasar di sana, dan ramai.

Saat ini, hanya tinggal beberapa bangunan bersejarah yang masih berdiri di Gaza, antara lain yaitu Masjid Agung Umar dan Gereja Santo Pophyrius. Arkeolog al-Mobayed mengungkapkan, setiap warga Gaza sering menjadi ar keolog dadakan. Setiap menggali pon dasi untuk bangunan baru, ada saja yang ditemukan. Tanah Gaza adalah lapis-lapis sejarah. rep:fuji pratiwi ed: nashih nashrullah

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA