Monday, 18 Rajab 1440 / 25 March 2019

Monday, 18 Rajab 1440 / 25 March 2019

Batik tak Hanya Seni, tapi Bernilai Ekonomi

Kamis 09 Oct 2014 15:53 WIB

Red: operator

Perkembangan industri batik di Tanah Air dinilai perlu disikapi dengan perubahan paradigma. Batik tidak hanya perlu dipandang sebagai karya seni. Di dalamnya pun terdapat nilai ekonomi.

“Batik adalah hasil budaya bangsa kita. Dalam masa sekarang, harus berusaha agar batik tak hanya sebagai hasil seni, tetapi juga hasil ekonomi. Ini penting untuk pelestarian dan kelanjutan batik itu sendiri,” kata Wakil Presiden Boediono di acara Pekan Batik Nasional di Pekalongan, Jawa Tengah, Rabu (8/10).

 

 

 

 

 

 

 

 

Foto:Paramayuda/Antarafoto

Dua anak bermain antara tembok gang yang dilukis motif batik di kampung batik Pal Batu, Tebet, Kamis (2/10).

Memadukan seni budaya dan ekonomi dalam batik dianggap memiliki ruang yang luas. Batik sebagai produk dari kegiatan ekonomi dapat mengembangkan usaha ekonomi, terutama ekonomi rakyat.

Perpaduan tersebut tidak hanya akan membuat batik sebagai hasil budaya asli Indonesia tetap dihargai. Industri batik pun bisa berkembang dan ikut menyejahterakan rakyat.

“Memadukan dua hal ini menjadi tugas pemerintah,” katanya.

Dengan perpaduan tersebut, Boediono meyakini batik-batik di Pekalongan bisa sangat berkembang pada masa depan. Sebab, Pekalongan merupakan tempat berkumpulnya interaksi dan pengaruh dari berbagai wilayah. Tak hanya kota batik di sekitarnya, seperti Solo dan Yogyakarta, tetapi ada pula interaksi dengan budaya Cina, Arab, Jepang, hingga Belanda.

Potensi itulah yang mungkin dituangkan dalam motif-motif batik mendatang dari Pekalongan. Motif-motif itu akan memunculkan keunikan.

Meski demikian, potensi tersebut dinilai perlu disambut dengan kelihaian dari para pengrajin batik dan penggiatnya. Tak hanya kelihaian menciptakan motif baru, tetapi juga mengasah kepekaan selera konsumen.

“Kalau belanja pakaian itu sudah jadi bagian dari pengeluaran rutin, yang bisa dilakukan adalah menciptakan desain yang menarik agar mendapatkan nilai tambah,” ujarnya.

Tak hanya itu, penggunaan teknologi dalam dunia batik dinilai perlu dikembangkan. Menurutnya, sudah saatnya teknologi untuk pembuatan batik berbenah.

“Pemerintah cari celah di mana teknologi lama yang tidak terlalu memenuhi selera masyarakat dicoba dibenahi. Misalnya, batik jangan mudah luntur, rusak, dan warnanya menarik,” katanya.

Teknologi tersebut juga bisa dikembangkan untuk membuat batik yang ramah lingkungan. “Membaca selera pasar dari berbagai segmen itu penting,” kata Boediono.

Setelah pengembangan dari dalam, produksi dan industri batik diminta jangan sampai hanya dikuasai pemain-pemain besar. Hal itu akan berdampak pada hilangnya peluang dan kesempatan industri kecil dan usaha kecil dan menengah (UKM).

“Ruang bagi masyarakat dan UKM untuk berkiprah harus dijaga antara ekonomi, efisiensi, dan ruang hidup bagi pengrajin batik,” ujarnya. rep:esthi maharani Ed: nur aini

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA