Wednesday, 17 Safar 1441 / 16 October 2019

Wednesday, 17 Safar 1441 / 16 October 2019

Level BI Rate Tahan Resiko

Jumat 12 Sep 2014 14:00 WIB

Red:

JAKARTA — Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia kembali mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 7,5 persen selama 11 bulan berturut-turut. Kebijakan tersebut diambil karena masih terdapat risiko domestik dan eksternal yang dapat mengganggu stabilitas ekonomi makro dan sistem keuangan.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Tirta Segara mengatakan bahwa RDG juga menetapkan suku bunga Lending Facility dan suku bunga Deposit Facility tetap pada 7,5 persen dan 5,75 persen. "Kebijakan tersebut konsisten dengan mengarahkan inflasi menuju sasaran 4,5 plus minus satu persen pada 2014 dan empat plus minus satu persen pada 2015 serta menurunkan defisit transaksi berjalan ke tingkat yang lebih sehat," ujar Tirta usai RDG di Jakarta, Kamis (11/9).

Level BI Rate tersebut dinilai masih dapat menahan risiko dari eksternal dan domestik. Tirta mengatakan, dari sisi domestik, masih terdapat risiko yang mengganggu pencapaian inflasi. Khususnya, inflasi yang bersumber dari kemungkinan kenaikan harga barang-barang administrasi.

BI memperkirakan inflasi pada 2014 mendekati batas atas dari kisaran 3,5-5,5 persen. Hal itu disebabkan adanya kenaikan harga elpiji ukuran 12 kilogram sebesar Rp 1.500 per kilogram. "Hitungan kami sampai saat ini kisaran inflasi masih akan berada dalam sasaran target, tapi mendekati batas atas," katanya.

Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) pun dapat mengerek inflasi. Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi Moneter BI Solikhin mengatakan, jika pemerintah menaikkan harga BBM sebesar Rp 1.000 per liter, inflasi dapat meningkat satu persen. "Tapi, kenaikan itu yang perlu dipahami hanya one time shock. Dampak peningkatannya, secara historis hilang dalam dua hingga tiga bulan," ujarnya.

Menghadapi kondisi tersebut, BI akan menggunakan kebijakan bauran instrumen karena kenaikan BBM akan memengaruhi banyak hal. "Kita melihat kemungkinan second round effect-nya," ujar Solikhin.

Selain itu, risiko eksternal berasal dari normalisasi kebijakan moneter bank sentral AS, the Fed, yang diperkirakan berlangsung secara gradual. Namun, terdapat kemungkinan kenaikan Fed Fund Rate atau suku bunga acuan terjadi pada triwulan II atau III 2015. Pertumbuhan ekonomi di negara berkembang pun diperkirakan relatif terbatas sehingga mendorong berlanjutnya penurunan harga komoditas.

Pertumbuhan ekonomi domestik masih mengalami moderasi. Hal ini terlihat dari konsumsi rumah tangga dan penjualan kendaraan bermotor yang tumbuh tinggi meski trennya melambat. Pertumbuhan ekonomi 2014 diperkirakan menuju batas bawah dari kisaran 5,1 hingga 5,5 persen. Kinerja investasi pun diperkirakan membaik, tetapi masih terbatas. ""Hal itu dipengaruhi masih terbatasnya perbaikan ekspor seiring masih lemahnya pertumbuhan negara-negara emerging markets," katanya.

Selain itu, BI mencatat aliran masuk portofolio asing ke pasar keuangan Indonesia mencapai 14,4 miliar dolar AS pada Agustus 2014. Aliran masuk modal asing tetap besar didorong oleh persepsi positif terhadap prospek ekonomi domestik. Aliran masuk juga meningkatkan cadangan devisa menjadi 111,2 miliar dolar AS pada Agustus. Angka cadangan devisa tersebut setara 6,5 bulan impor atau 6,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.  rep:satya festiani ed: nur aini

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA