Friday, 10 Sya'ban 1441 / 03 April 2020

Friday, 10 Sya'ban 1441 / 03 April 2020

Indonesia Menuju Poros Maritim Dunia

Rabu 01 Oct 2014 18:00 WIB

Red: operator

Pengembangan kawasan ekonomi berbasis kelautan menjadi fokus utama Kabupaten Mamuju Utara, Sulawesi Utara. Bupati Mamuju Utara Agus Ambojiwa mengatakan tujuan pembangunan kawasan industri perikanan terpadu ini untuk menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi (rata-rata di atas tujuh persen per tahun), berkualitas, dan inklusif.

Pembangunan kawasan ini, kata Agus, bertujuan menyerap tenaga kerja dan menyejahterkan masyarakat, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.  Selain itu, kawasan terpadu ini juga dimaksudkan untuk mendukung visi dan program prioritas presiden dan wakil presiden terpilih Jokowi–JK, yakni menjadikan Indonesia sebagai negara maritim yang maju, adil-makmur, kuat, dan berdaulat. "Kita ingin menjadi poros maritim dunia," kata Agus, Selasa (30/9), dalam diskusi mengenai "Peta Jalan Pembangunan Kawasan Maritim di Kabupaten Mamuju Utara".

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Foto:M RISYAL HIDAYAT/ANTARAFOTO

Sejumlah kapal Republik Indonesia (KRI) kelas Van Speijk dan Multi Role Light Fregate (MRLF) melakukan manuvera taktis di perairan Karimunjawa, Jawa Tengah, Minggu (28/9).

Dalam kesempatan itu, pakar kelautan Prof Rokhmin Dahuri mengatakan, kawasan ini akan memperkokoh tol laut untuk konektivitas dan logistik maritim. Hal ini mencakup revitalisasi dan pembangunan baru armada kapal nasional untuk angkutan barang dan penumpang, pelabuhan, dan industri galangan kapal.

Pembangunan poros maritim dunia ini pun, jelas Rokhmin, harus dibarengi dengan pembangunan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di sepanjang wilayah pesisir Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI), pulau-pulau kecil, dan wilayah perbatasan. Provinsi Sulawesi Barat, khususnya Kabupaten Mamuju Utara, menurut dia, menjadi salah satu wilayah pesisir dan laut yang terletak di pesisir ALKI-II (Selat Lombok–Selat Makassar).

Kawasan industri perikanan terpadu itu, lanjut Rokhmin, terdiri atas usaha budi daya tambak udang Vanammei seluas 10 ribu hektare, budi daya rumput laut seluas 5.000 hektare, dan usaha penangkapan ikan sidat ramah lingkungan dan lestari. Termasuk, hatchery (pembenihan udang), pabrik pakan, pabrik es, cold storage, dan pabrik pengolahan udang bernilai tambah. Lainnya, pabrik pengolahan ikan sidat bernilai tambah (kabayaki), industri pengolahan rumput laut, dan industri serta jasa pendukung lainnya. 

Dari observasi lapang, menurut Rokhmin, tim menemukan sebuah pelabuhan laut yang masih berfungsi cukup baik yang dibangun sejak zaman Belanda. Pelabuhan ini berpotensi menjadi salah satu pelabuhan laut dalam yang akan dibangun oleh pemerintahan baru.

Kawasan industri perikanan dan kelautan terpadu ini akan menyediakan lapangan kerja sedikitnya 150 ribu orang dengan pendapatan rata-rata Rp 3 juta – Rp 10 juta per orang per bulan. Nilai ekonomi total untuk wilayah ini sekitar Rp 25 triliun per tahun dengan ditambah efek berantai secara ekonomi. "Program ini akan dimulai pembangunannya pertengahan awal Oktober tahun ini dan mulai berproduksi di awal tahun depan," kata Rokhmin.

Sumber dana untuk pembangunan kawasan industri dan bisnis kelautan dan perikanan terpadu ini berasal dari swasta, pemerintah, dan perbankan. Pelaku usaha akan diutamakan dari masyarakat dan pengusaha setempat dan pengusaha nasional yang memiliki nasionalisme yang tinggi. Rokhmin menyatakan, bagi investor asing yang baik, mau mentaati seluruh peraturan dan perundangan NKRI dan menguntungkan kepentingan nasional, khususnya masyarakat lokal, juga diterima dengan tangan terbuka. rep:elba damhuri ed: nidia zuraya

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA