Sunday, 27 Ramadhan 1442 / 09 May 2021

Sunday, 27 Ramadhan 1442 / 09 May 2021

Jadilah Pekerja yang Bersyukur!

Kamis 24 Mar 2016 18:00 WIB

Red:

Iblis pernah bersumpah kepada Allah SWT seperti yang terdapat di dalam surah al-A'raf ayat 16 dan 17, "Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan menghalangi mereka dari jalan Engkau yang lurus. Kemudian, saya akan mendatangi mereka dari muka dan belakang mereka, dari kanan dan kiri mereka, dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur."

Di akhir ayat di atas, sangat jelas bahwa hasil yang diinginkan oleh iblis dan bala tentaranya adalah menghalangi-halangi manusia dari jalan yang lurus, terutama agar manusia tidak bersyukur. Tidak bersyukur dengan agama Islam yang dipeluknya kemudian murtad, tidak bersyukur dengan mempunyai istri dan anak kemudian berzina; tidak bersyukur dengan gaji dan jabatan yang diperolehnya kemudian korupsi; dan tidak bersyukur dengan pekerjaan yang dilakukannya maka tidak bahagia yang berujung pada menurunnya produktivitas sehingga merugikan perusahaan.

Terkait dengan soal tidak bersyukur dengan pekerjaan, riset dari JobsDB Indonesia pada 2015 yang dilansir oleh Bisnis.com menunjukkan, 73 persen karyawan di Indonesia, dikarenakan kurang bersyukur, merasa tidak bahagia dengan pekerjaannya.

Survei yang dilakukan terhadap 2.324 responden di Tanah Air ini menunjukkan, sebagian besar alasan ketidakbahagiaan ini adalah akibat gaji, fasilitas, dan bonus yang diterima tidak sesuai dengan beban kerja. Selain itu, alasan lainnya adalah jenjang karir yang lambat, minimnya program pengembangan karyawan, dan sistem kerja perusahaan yang dinilai kurang baik.

Survei ini adalah bagian dari kampanye JobsDB bertajuk "Happy is a Better Job" yang dilaksanakan pada Mei 2015. Hasil survei juga menunjukkan bahwa sebagian responden ingin pindah kerja. Sebanyak 80 persen responden berkeinginan untuk berganti pekerjaan dalam 12 bulan ke depan. Gaji, insentif, dan bonus merupakan motivasi para pekerja Indonesia untuk memutuskan keluar dan mencari pekerjaan baru.

Dengan data seperti ini dan masih terjadinya perlambatan ekonomi secara global yang mengharuskan perusahaan menghemat pengeluaran sehingga tidak memungkinan untuk memenuhi tuntutan karyawan, tidak ada cara lain yang harus dilakukan oleh perusahaan selain mendidik karyawannya untuk bersyukur dengan pekerjaan, jabatan, dan pendapatan yang mereka punya dan peroleh saat ini.

Manfaat bersyukur ini telah diteliti oleh Dr Michael Mc Collough dari Southern Methodist University, Dallas-Texas, dan Dr Robert Emmon dari University of California. Dalam penelitian ini, McCollough dan Emmon membagi subjek penelitian menjadi tiga kelompok.

Kelompok pertama diminta untuk menuliskan peristiwa yang terjadi sepanjang hari dalam sebuah buku harian. Kelompok kedua diminta untuk mencatat pengalaman yang tidak menyenangkan sepanjang hari. Sementara, kelompok terakhir diminta untuk membuat daftar hal-hal yang mereka sukai, yang membuat mereka bersyukur sepanjang hari.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa orang yang setiap hari melatih dirinya untuk bersyukur menunjukkan peningkatan antusiasme, optimisme, energi, dan juga kemantapan dalam menentukan tujuan hidup. Bahkan, kelompok ini juga mengalami penurunan tingkat stres dan depresi. Selain itu, mereka juga lebih suka membantu orang lain. Kedua peneliti itu juga mencatat bahwa sikap bersyukur ternyata juga menyebabkan terjadinya siklus perlakuan baik pada orang-orang tersebut karena bersyukur akan mencetuskan sikap yang sama pada orang lain.

Bersyukur, menarik hal-hal yang kita inginkan
Tak hanya mendatangkan efek positif secara psikis, De Giorgio bahkan mengatakan bahwa bersyukur adalah cara yang tercepat untuk menarik hal-hal yang kita inginkan ke dalam kehidupan kita. Kita bisa bersyukur dengan membayangkan bahwa apa yang kita doakan sudah terkabul. Dengan begitu, kita seolah benar-benar melihat, mendengar, dan merasakan dengan sepenuh hati bahwa doa kita sudah diwujudkan. Karena itulah, kita bersyukur.

De Giorgio menambahkan, dengan cara ini, kita seolah sedang memprogram pengalaman yang kita harapkan ini sebagai sebuah kenyataan dalam alam bawah sadar. Kemudian, kita mulai mencari pembuktian bahwa yang kita rasakan adalah bagian dari hidup kita, dan kita bertindak seolah-olah hal ini sudah terjadi sekarang. Akhirnya, kita pun akan mengalami yang kita harapkan. Keyakinan kita akan terkabulnya doa itu dalam bentuk syukur akan melancarkan prosesnya, sementara keraguan akan menghambat proses terkabulnya doa.

Bersyukur adalah menikmati kehidupan
Bersyukur, dalam pengertiannya, adalah menikmati segala sesuatu yang sedang kita alami. Ketika kita berinteraksi dengan sesuatu atau dengan seseorang, dan kita menikmatinya, sebenarnya kita sedang mensyukuri hal itu.

Bersyukur harus disengaja dan dibiasakan
Bersyukur memang mudah kalau situasinya menyenangkan. Namun, bagaimana jika kita berada dalam kondisi yang tidak menyenangkan? Tuhan membuat dunia ini tidak secara serampangan, alam semesta ini semuanya dibuat dan diatur secara sempurna oleh Tuhan.

Karena itulah, sesuatu yang kita anggap penderitaan, sebenarnya adalah karya yang "sempurna" dari Yang Mahakuasa. Tuhan sedang menunggu apakah kita bisa menikmati "gubuk derita" yang sudah Dia buatkan dengan sempurna itu. Jika kita bisa belajar menikmatinya, lalu bersyukur, perasaan dan nasib kita pun akan berubah.

Bersyukur dapat meningkatkan spiritualitas
Bersyukur dapat meningkatkan spiritualitas dikarenakan orang yang bersyukur, ia bersyukur kepada Tuhan. Jika seseorang selalu bersyukur, hubungannya dengan Tuhan selalu terjalin.
    
Akhir kalam, Pusat Pengkajian dan Pengembangan Islam Jakarta atau yang dikenal dengan nama Jakarta Islamic Centre (JIC) telah memberikan materi kebersyukuran kepada ratusan manajer dan karyawan dalam Diklat Spiritualitas Kerja sejak 2012 sampai saat ini dengan tidak kepuasaan yang tinggi.

Bagi perusahaan yang ingin bekerja sama dengan Jakarta Islamic Centre dalam penyelenggarakan Diklat Spiritualitas Kerja dengan materi kebersyukuran di perusahaannya, dapat menghubungi Jakarta Islamic Centre via Rina di nomor HP 085693806000.

Oleh Rakhmad Zailani Kiki
Kepala Divisi Pengkajian dan Pendidikan Jakarta Islamic Centre

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA