Tuesday, 20 Zulqaidah 1440 / 23 July 2019

Tuesday, 20 Zulqaidah 1440 / 23 July 2019

Nilai, Lulus, Ranking: Belajar Zonasi Sekolah Di Norwegia

Kamis 27 Jun 2019 06:09 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Suasa sekolah di Norwegia pada bulan puasa 2019.

Suasa sekolah di Norwegia pada bulan puasa 2019.

Foto: Savitri Icha Khairunisa
Iilah pengalaman menyekolahkan anak di Norwegia

Oleh: Savitry Icha Khairunnisa, Perantau Indonesia di Norwegia.

Membicarakan tema zonasi sekolah di Norwegia sebetulnya sangat sederhana. Intinya, zonasi berlaku mutlak untuk pendidikan tingkat SD dan SMP Negeri. Mutlak dalam arti setiap calon siswa SD dan SMP hanya bisa melanjutkan ke sekolah negeri yang terdekat dari rumahnya. 


Dalam soal ini nilai akademis sama sekali tidak diperhitungkan. Yang penting antara rumah dan sekolah berada dalam radius maksimal 2 km (bila jaraknya lebih dari itu, murid akan diberikan transportasi bus gratis dari dan ke sekolah).

Apakah betul nilai akademis tidak diperhitungkan? Ya, betul.
 Selama 7 tahun menempuh pendidikan SD, murid sama sekali tidak mengenal nilai (dalam bahasa Norwegia disebut "karakter"). Namun bukan berarti mereka nggak kenal ulangan atau ujian. 
Ulangan mingguan selalu ada mulai kelas 2 SD. Materinya ya seputar pelajaran yang sudah diberikan selama seminggu.

Bagaimana murid mengetahui apakah hasilnya bagus atau jelek?
 Biasanya guru akan memberi komentar seperti "Bagus", "Hebat", dan frase sejenis untuk menyemangati murid. Di samping itu, guru akan memberi catatan pada jawaban yang salah, dan bagaimana seharusnya yang benar. 
Secara keseluruhan guru akan menuliskan berapa poin "betul" yang berhasil dikerjakan murid dari total soal ulangan. 
Untuk anak SD, materi ulangan biasanya mencakup bahasa Norwegia, Matematika, dan Bahasa Inggris.

Nah, ketika murid menginjak kelas 5, akan ada Ujian Nasional (Nasjonale Prøver / NP) di tiga subjek tadi. Hasilnya bukan berupa nilai apalagi menentukan kelulusan (SD di Norwegia sampai kelas 7). 
Hasil NP tadi digunakan untuk memetakan kemampuan murid yang bersangkutan. Apakah ia berada di atas, rata-rata, atau di bawah standar nasional Norwegia. Setiap hasil akan menentukan program selanjutnya untuk kemajuan belajar si murid. 


Alhamdulillah hasil NP anak saya, Fatih, jauh di atas standar nasional. Sejak kelas 6 ia selalu diberi soal untuk kelas 7 atau 8 untuk mata pelajaran Matematika dan Bahasa Inggris. 
Menjelang kelulusannya tempo hari, Fatih bahkan meraih hasil terbaik untuk seluruh kelas 7 di Rossabø Skole untuk mata pelajaran Bahasa Norwegia! Aneh tapi nyata.

Hasil NP juga akan digunakan untuk memetakan kinerja SD yang bersangkutan. Apa yang perlu diperbaiki, apa yang perlu dipertahankan. Intinya, kualitas sekolah harus sesuai standar nasional. Harus merata. Sama bagusnya apakah sekolah di ibukota Oslo, atau di daerah Kutub Utara seperti Hammerfest atau Tromsø sana.

Nanti di kelas 8 (SMP) murid akan berhadapan lagi dengan NP. Hanya kali ini mulai diperkenalkan nilai (karakter). Mata pelajaran yang diujikan Matematika, Bahasa Norwegia, dan Bahasa Inggris. Di kelas 9 mereka akan berjumpa lagi dengan NP untuk mata pelajaran Matematika dan Bahasa Norwegia.

Uniknya, soal-soal NP di kelas 9 sama persis dengan yang mereka dapatkan di kelas 8. Tujuannya adalah untuk mengetahui seberapa jauh murid berkembang di kedua subjek tadi. Juga tentunya bagaimana kinerja sekolah dan para guru SMP yang bersangkutan. 
Nilai NP ini tidak akan berpengaruh sama sekali terhadap hasil akhir murid.

Kalau mereka akan melanjutkan ke jenjang SMA, nilai yang dipergunakan adalah nilai-nilai ujian yang mereka dapatkan selama 3 tahun masa SMP. Jadi nilai-nilai itu bisa menunjukkan keseluruhan proses belajar murid. Bukan hanya berdasarkan NP yang belum tentu menggambarkan kualitas sesungguhnya dari seorang murid.

Tadi saya sebutkan bahwa sistem zonasi di Norwegia hanya berlaku untuk SD dan SMP. Kok bisa?
 Nah, yang mungkin belum banyak diketahui orang luar, adalah bahwa pendidikan dasar wajib bagi anak di Norwegia adalah selama 10 tahun (dari usia 6-16 tahun). Itu mencakup 7 tahun masa SD dan 3 tahun masa SMP.

Jadi SMA tidak wajib. Mengejutkan, bukan? Tapi begitulah kenyataannya. Sistem seperti ini sudah berlaku sejak 1997. Dan sistem pendidikan yang berlaku di Norwegia saat ini (dinamakan "Kunnskapsløftet") sudah diterapkan sejak 2006. Artinya kurikulum pendidikan tidak pernah berubah secara signifikan sejak 13 tahun yang lalu. Kalaupun ada modifikasi, biasanya diserahkan penerapannya di tiap sekolah. Tapi tetap ada pedoman nasional yang harus dipatuhi.

Lalu bagaimana untuk para lulusan SMP yang ingin lanjut ke SMA? Tentu mudah saja. Dan pada kenyataannya 98% murid SMP akan melanjutkan ke jenjang SMA. Di level SMA ini mereka akan menentukan apakah akan melanjutkan kuliah, atau mengambil jurusan vokasi untuk langsung bekerja selepas SMA. Lain kali saja saya ceritakan soal ini.

                 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA