Tuesday, 20 Zulqaidah 1440 / 23 July 2019

Tuesday, 20 Zulqaidah 1440 / 23 July 2019

Zonasi Oh Zonasi: Pengalaman Menyekolahkan Anak di Prancis

Selasa 25 Jun 2019 08:02 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Para orang tua dan anak-anak dari Indonesia di Prancis kumpul bersama dalam acara buka puasa.

Para orang tua dan anak-anak dari Indonesia di Prancis kumpul bersama dalam acara buka puasa.

Foto: Dini Kusmana Massabuau
Pengalaman di Prancis sistem zonasi sekolah memang ada sisi positif dan negatif.

Oleh:Dini Kusmana Massabuau, Perantuan Indonesia Tinggal di Prancis

Di Prancis sejak anak saya, Adam, harus masuk sekolah sudah menggunakan sistim zonasi.
Saya ingat, untuk tahu sekolah mana yang bakalan dia harus masuk harus lihat carte scolaire (peta sekolah) pembagian zonasi yang diatur oleh walikota setempat berdasarkan tempat tinggal murid.

Waktu itu TK Adam rupanya di daerah yang agak sedikit popular. Dalam arti lebih rawan dikit-lah.
Tapi buat meyakinkan kita tetap datangi TK tersebut.
 Tetangga bilang, dengan jarak sama ada TK juga yang daerahnya lebih nyaman. Jadilah kita datangi TK tersebut.

Benar! Lebih besar, ada taman bermain yang menyenangkan dan kepala sekolah juga asik banget. Rasanya buat pendidikan TK bisa bikin anak-anak nyaman dan melihat program yang mereka keluarkan juga bagus.

Kepala sekolah menerangkan pada kami, untuk melakukan dérogation. Meminta permohonan pengecualian.
Permintaan ini diajukan langsung ke sekolah.

Alhamdulillah berdasarkan alasan bahwa tempat tinggal kami ternyata sama jaraknya antara TK yang kami mohonkan dengan TK sesuai zonasi, maka Adam diterima di TK tersebut.

photo

Dini Kusmana Massabuau bersama keluarga.

Tapi untuk SD kami mematuhi sistim zonasi.
 Keuntungannya, Adam tidak hanya kenal di sekolah teman-temannya tapi juga bisa bermain bersama di luar sekolah karena rumah saling berdekatan. Dan keuntungan yang paling ok bagi kami para orang tua adalah: anak ke sekolah jalan kaki.


Maka, ketika kami tidak bisa menjemput anak kami, alhamdulillah selalu ada salah satu orang tua murid yang bisa membawa Adam pulang ke rumah. Kalaupun saya belum selesai dengan renovasi tempat tinggal saya, mereka dengan senang hati menjaga terlebih dahulu, entah itu di taman bermain atau di rumah mereka. Nanti baru saya yang akan menjemputnya.

Berkat zonasi itulah saya jadi mulai mendapatkan teman-teman Prancis. Jadi saling mengenal lebih jauh. Karena seringnya pulang sekolah bareng, lalu bawa anak-anak ke taman. Mereka bermain, ibu-ibu tahu dong ngapain kemudian ha ha.

Nah, ketika Adam akan ke SMP, guru Adam yang menyarankan untuk tidak masuk ke sekolah sesuai zonasi. Alasannya. Sayang untuk Adam yang menurut gurunya memiliki kemampuan lumayan. 
Dia menyarankan Adam untuk ikut tes masuk sekolah negeri tapi kelas internasional.
Ada 250 murid yang ikut seleksi dari Montpellier dan luar Montpellier. Tapi hanya 28 murid yg diterima. Alhamdulillah anak kami masuk.

Maka kini Adam jadi jauh lokasi SMP-nya. Karena itulah 'akang' (suami yang orangbule Prancis,red) beli motor biar bisa antar Adam setiap hari. Dan saya yang awal-awalnya jemput dia sore. Itu berlangsung selama 1 tahun. Repot yaaa.

Tapi demi anak apa sih yang tidak orang tua lakukan. Selama 1 tahun Adam tiap pagi hingga kami pindah rumah mendekati sekolah dia selalu diantar papanya. Dan untuk pulang kadang dengan naik trem lalu sambung bis atau ibunya yang jemput. Yah namanya juga sekolah di luar zonasi. Sampai akhirnya kami dapatkan tempat tinggal yang hanya membutuhkan 10 menit bagi Adam ke sekolah dengan jalan kaki.

Nah, pas anak kami yang bungsu, Bazile beda lagi. 
TK dan SD dia sesuai zonasi. Dia senang banget. Karena murid-murid di sekolahnya berbaur.
 Ada anak dari Prancis, ada Maghrébine (Maroko, Aljajair), Rumania, Rusia dan lain-lain).
Semua tingkat sosial campur aduk.


Cuma sekali aja dia kena rasis gurunya karena menolak untuk tulis surat ke sinterklas, dengan alasan dia Muslim dan dia tahu sinterklas itu ngk ada cuma dongeng. Ya Allah Bazile . Dia sampai kena setrap dia.
 Dan yang maju bukan ortunya tapi neneknya yang pensiunan guru SMA. Neneknya yg ceramah sama si guru tidak terima cucunya di setrap karena punya prinsip.

Lalu, ketika Bazile SMP masalah datang lagi. Zonasi yang kudunya SMP Joffre tempat Adam dulu sekolah dan masuk zonasi rumah kami di kota. Tiba-tiba berubah. SMP Bazile jadi jauh bengit. Yang kudunya Joffre cuma 10-15 menit jalan kaki, kini jadi pergi sekolah ke SMP Gérald Philippe, yang mana kudu pake bis atau jalan kaki sekitar 30 menit tapi lewatin jalanan besar. Ngerinya, untuk menuju sekolah jalannya berbahaya banyak mobil dan suka sudah banyak kecelakaan pula.

Maka, jadilah kami meminta lagi yang namanya permohonan pengecualian. Meminta SMP Joffre agar mau menerima Bazile tentu saja dengan alasan lain, yaitu karena Bazile ingin meneruskan pelajaran bahasa Jermanya yang sudah dia ambil sejak di SD, dan selain alasan utama yaitu jarak ke sekolah Joffre yang jauh lebih dekat dan aman.

Alhamdulillah dia diterima.
Kami bebrapa orang tua merasa lega. Karena dua sahabat Bazile semua dikabulkan permintaan untuk bisa masuk ke Joffre. Mendapatkan kelas yang bisa mengajarkan bahasa Jerman dan juga aman buat anak-anak nantinya kalau sudah waktunya dapat pulang sendiri.

Jadilah pada tahun pertama, kami para orang tua yang gantian antar jemput. Enaknya kalau sekolah dengan tempat tinggal dekat bisa selalu ada org dewasa yang mendampingi. Bahkan, beberapa bulan kemudian yakni mulai Januari, mereka bertiga bisa pulang tanpa orang tua, karena mereka selalu bersama dalam perjalanan.

Sistim zonasi memang ada positif dan negatif. Di sini, di Prancis, kalau ada anak yang memiliki kelebihan, bisa masuk ke sekolah yang diinginkan dengan cara mengajukan permohonan dengan alasan kuat. Atau ke swasta.
 Bayar tentunya beda dengan negeri gratis. Bahkan semua aktivitas pun gratis. Dari renang, ice skating, berkuda, melihat pertunjukan dan lain-lan. Semuanya gratisI

Banyak orang tua Prancis yang memilih anaknya masuk swasta ketika naik ke SMP bila sekolahnya dianggap tak sesuai dengan harapan mereka. Ya itu karena sistem zonasi tadi. Dan bagi para orang tua, ketika di SMP lah anak-anak harus lebih diawasi.

Bagi Adam dan Bazile berkat sistem sekolah zonasi memang jadi lebih mengenal yang namanya perbedaan. Tidak aneh kalau Bazile suka bilang, si 'A' susah banget ngertinya. Atau di 'B' masa belum juga bisa baca. Tapi Adam dan Bazile untungnya selalu tahu diri.

Saya mengerti sistem zonasi selalu akan bikin ortu pada gelisah. Karena anak-anak mereka yang sudah berusaha untuk bisa masuk sekolah bagus dengan nilai baik tiba-tiba gagal masuk sekolah favorit.

Untungnya di Prancis istilah sekolah favorit boleh dibilang hampir-hampir tidak ada. Kalaupun ada biasanya tak terlalu berngaruh. Berbeda dengan swasta malah, ada tuh namanya swasta favorit, buat masuk aja pake daftar tunggu.

Dalam satu kelas, memang selalu ada murid-murid yang agak kesulitan belajar, lumayan, pintar, dan unggul. Nah ini yang jadi tantangan dari setiap guru dengan perbedaan kemampuan dari setiap muridnya. Juga tantangan dalam menangani sifat dan perilaku setiap murid yang berbeda. Karena berdasarkan latar belakang pendidikan di rumah yang tak sama. Ada budaya, ada agama ada tingkatan sosial. Anak-anak sudah dilatih sejak dini untuk mengenal perbedaan sosial.

Saya dulu di Indonesia gegara kudu masuk SMPfavorit, kehilangan teman-teman dekat saya yang sudah semenjak SD. Dan sekolah itu letaknya dari rumah. Adeuhhhhh merasa tua di jalan beneran kala itu. Kadang pulang udah capai, belum makan, PR sekolah numpuk. Pokoknya saya tidak terlalu menikmatinya.

Alhamdulillah pas SMA, orang tua lebih menngerti. Sekolah saya tidak jauh dari rumah. Cukup naik bis sekali sampai. Beda dengan kakak saya di SMA 8 Jakarta. Rumah kami yang berada di Jakarta Barat, sekolah di Jakarta selatan. Bayangkan itu. Perjalanan pergi dan pulang sekolah selalu membat kecapaian.

Saya sadar betul, sistem pendidikan di Prancis dan Indonesia mungkin berbeda. Bagi sebuah sekolah itu biasa. Pertanyaannya, lalu apakah standar guru dan pelajaran berbeda?

Di Prancis merata. Yang membedakan biasanya yang bikin takut para orang tua adalah, karena lingkungan sekolah itu yang dianggap kurang cocok. Mereka biasanya melihat, bila para siswa sekolahnya kalau terlalu banyak berasal dari warga campuran (imigran) mereka suka kecil hati. Mereka kemudian biasa suka melihat bahwa prestasi sekolahnya jadi menurun karena murid-muridnya berasal dari lingkungan sosial rendah.

Untungnya tidak semua orang tua berpikiran seperti itu. Karena kalau tidak, sistem zonasi yang dimaksudkan untuk perbauran akan gagal total.

Semoga masalah zonasi yang bikin emak dan bapak di Indonesia pada pusing segera teratasi. Buat adik-adik semangat selalu ya. Kalau ngak dapat sekolah favorit ambil sisi positif, mungkin bakalan jadi no 1 terus di kelas itu.

Sistem zonasi di Prancis yang suka bikin pusing para orang tua adalah cara pemerintahan daerah dalam menerapkan peta sekolah yang mana suka sekali berubah-ubah. Sebab bagi banyak murid yang berada di ujung peta sekolah akhirnya terpaksa tak mengikuti dapat zonasi karena terlalu jauh menuju sekolahnya. Sementara ada sekolah lainnya yang lebih dekat.

Zonasi oh Zonasi. Tak di Indonesia, di Prancis pun banyak tantangan baik dari sisi poistif dan negatif. Dan kerapkali membuat para orang tua pusing tujuh keliling...?

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA