Tuesday, 20 Zulqaidah 1440 / 23 July 2019

Tuesday, 20 Zulqaidah 1440 / 23 July 2019

Washington Post, Muslim, FPI, dan Para Spartans

Ahad 16 Jun 2019 12:25 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Berita FPI di Wahington Post

Berita FPI di Wahington Post

Foto: Akhmad Danial
Fenomena FPI unik kiprahnya malah dimuat di media Internasional

Oleh: Akhmad Danial, Pengajar Ilmu Komunikasi UIN Jakarta

Saya sangat suka film "300". Sudah lebih dari tiga kali saya menontonnya. Itu kisah tentang Raja Leonidas, Raja Sparta, yang memimpin 300 Spartans ke dalam pertempuran melawan Raja Persia yang menganggap dirinya sebagau "dewa-Raja", Xerxes.

Ceritanya panjang. Namun saya hanya mengingatkan bagian terakhir saja yg menurut saya sangat heroik.

Perjuangan Leonidas dan 300 pasukannya sudah sangat hebat. Perlawanan mereka sempat membuat ciut Xerxes yg dari segi kuantitas dan persenjataan unggul. Xerxes diambang kekalahan. Kalaulah bukan karena pengkhianatan Ephialtes, seorang asal Sparta yang cacat, Leonidas akan bisa mengusir pasukan Xerxes.

Ephialtes sakit hati karena ditolak bergabung dlm pasukan Sparta. Padahal penolakan Leonidas dilandasi fakta bahwa kecacatan Ephialtes tidak memungkinkan dia bertempur.

Ephialtes lantas membocorkan strategi tempur rahasia pasukan Spartan yaitu bertahan di sebuah celah sempit. Setelah mengetahui strategi itu, Xerxes bisa menembus pasukan Spartans.

Di saat-saat terakhir, setelah semua pasukannya tewas, Leonidas ditawari jabatan sebagai Panglima Perang Xerxes di wilayah itu. Namun sebagai prajurit dan seorang yang berjiwa merdeka, Leonidas menolak berlutut.

Xerxes pun murka. Dan dalam kemurkaannya, dia mengancam bahwa dia akan membunuh Leonidas. Tidak itu saja, Xerxes pun mengancam, NAMA Leonidas akan dihapus dari 'sejarah'.

"Orang yang menyebutkan namamu akan dianggap sebagai kejahatan dan dibunuh," tegas Xerxes. Leonidas tidak bergeming, bahkan dia melemparkan tombaknya yang melukai Xerxes di wajah.

Leonidas pun dibunuh dengan ribuan panah yang dilepas ribuan pasukan Xerxes. Dia tewas secara terhormat. Namanya pun tidak hilang bahkan makin harum merebak.

Salah seorg pasukannya yang diminta pulang, menceritakan keberanian Leonidas dan pasukannya pada rakyat Sparta. Hal itu memicu perlawanan pada Xerxes, tidak saja dari bangsa Sparta, tapi juga menyatukan berbagai bangsa di wilayah itu.

Itulah yang saya lihat  terjadi pada Front Pembela Islam (FPI). Di media sosial, akun saya dan beberapa teman dinonaktifkan karena memposting soal FPI. Postingan soal FPI seperti postingan ini saja, bisa jadi akan menyebabkan akun baru saya di media sosial hangus lagi. Paling ringan postingan ini dihapus.

Jadi apakah sedang dibangun kriminalisasi pada mereka yang menyebut nama FPI? Lembaga itu, ingin dihapus dari sejarah? Yang jelas ada petisi minta FPI dibubarkan. Kekuatan mereka, mirip Xerxes, dan FPI adalah para Spartans?

Apakah FPI lantas hilang? Anda lihat saja berita-berita ini! Uniknya, di media masa internsional seperti Washington Post dan Christian Science Monitor malah makin harum saja namanya. Bahkan di luar negeri mata orang terbuka.

photo

berita FPI dalam Christian Science Monitor

Dan adanya kekuatan itu harus hati-hati di sikapi. Sikap mereka bisa menjadi bumerang sendiri. FPI akan dianggap sebagai Pahlawan dan simbol perlawanan yang bisa memicu gelombang besar. Atau apakah dan entah apa yang terjadi ke depan?

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA