Rabu, 24 Safar 1441 / 23 Oktober 2019

Rabu, 24 Safar 1441 / 23 Oktober 2019

Jari Petani Indonesia yang Bisa Taklukkan Dunia

Rabu 22 Mei 2019 23:06 WIB

Red: Sammy Abdullah

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, saat peluncuran Inovasi Teknologi Mekanisasi Modern Hortikultura dan Pemberian Agroinovator Award di Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian, Serpong, Kamis (24/8).

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, saat peluncuran Inovasi Teknologi Mekanisasi Modern Hortikultura dan Pemberian Agroinovator Award di Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian, Serpong, Kamis (24/8).

Foto: Dok Humas Kementan
Saatnya mewujudan pertanian berbasis internet of things dan artificial intelligence

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Abdullah Sammy*

Sejak revolusi industri 1.0 pada 1750, perekonomian Eropa mengalami pertumbuhan pesat. Pusat-pusat industri baru bermunculan di mana-mana. Efeknya urbanisasi terjadi begitu masif dari pedesaan menuju sejumlah kota di Eropa.

Lahan pertanian ditinggalkan. Masyarakat Eropa saat itu lebih memilih menjadi buruh di pabrik. Alasan petani banting setir itu sederhana. Bekerja di pabrik lebih memberikan keuntungan ekonomis ketimbang tetap menjadi petani di pedesaan.

Ya, menjadi petani memang menghadirkan banyak ketidakpastian. Ada proses panjang yang mesti dilalui sebelum mendapatkan hasil. Ada proses menggarap lahan dan tanaman selama hitungan bulan. Baru setelah itu penghasilan bisa didapat. Itu pun jika panennya sukses dan tidak terserang hama.

Di sisi lain, bekerja di pabrik lebih memberi kepastian penghasilan setiap bulannya. Walhasil, sejak itu masyarakat Eropa berbondong meninggalkan lahan pertanian di desa untuk menjadi buruh pabrik di kota. 

Situasi zaman itulah yang membuat seorang Karl Marx lebih menitikberatkan pemikirannya pada buruh, bukan petani. Sebab faktanya di era itu, masyarakat kecil sudah beralih dari petani menjadi buruh.

Fenomena ditinggalkannya pertanian sempat membuat Eropa mengalami fase kesulitan sumber pangan. Karenanya, banyak kemudian dari negara Eropa yang berekspansi ke sejumlah negara Asia untuk mengeruk sumber pangan yang semakin sulit mereka dapati akibat minimnya petani.

Imprealisme jadi jawaban dari krisis itu. Namun hal itu tak bertahan lama. Setelah era imprealisme berakhir, bangsa Eropa menyadari bahwa mereka tak bisa lagi bergantung kepada negara lain. Eropa sadar mereka mesti membangkitkan sendiri pertanian mereka yang mati suri.

Di tengah minimnya sumber daya manusia namun lahan terbentang luas, ada solusi yang ditempuh bangsa Eropa sejak abad ke-19. Solusi itu adalah dengan mekanisasi pertanian.

Revolusi industri 1.0 dimanfaatkan sejak abad ke-19 dengan memperkenalkan lokomobil bermesin uap untuk menggarap lahan sawah. Sejak itulah mekanisasi jadi solusi Eropa menyiasati minimnya tenaga pertanian.

Namun kini mekanisasi bukan lagi sekadar siasat. Mekanisasi adalah kebutuhan mutlak. Ini terutama memasuki era revolusi industri yang telah memasuki 4.0. Mekanisasi pertanian sudah bukan lagi terkait isu minimnya petani, tapi bagaimana meningkatkan produksi via bantuan teknologi.

Dengan mekanisasi pertanian, bangsa Eropa mampu menyiasati iklim mereka yang tidak bersahabat. Pertanian pun bisa diproduksi sekalipun waktu memasuki musim dingin.

Sejumlah negara maju bahkan sudah dalam tahap digitalisasi pertanian. Digitalisasi pertanian bukan hanya soal mekanisasi proses produksi, tapi juga menyentuh penjualan. Walhasil, kini petani di Eropa jamak wara-wiri Market Place untuk memasarkan hasil taninya di dunia maya.

Walhasil, petani 'zaman now' tak hanya sekadar bertindak sebagai produsen tapi juga penjual yang mampu menentukan keuntungannya sendiri.

Semangat digitalisasi pertanian itu ternyata di tangkap oleh Kementerian Pertanian (Kementan) Republik Indonesia. Meyambut era industri 4.0 yang bergulir deras, Kementan sadar bahwa digitalisasi bukan lagi hanya sekadar di tataran ide, namun mesti dituangkan secara nyata. Sebab di era industri 4.0 ini waktu adalah segalanya. Tak ada waktu beretorika soal digitalisasi, namun saatnya kerja nyata. 

Karenanya pada 2018 lalu, Kementan meluncurkan sejumlah program, yang salah satunya bertajuk 'Inovasi Teknologi Mekanisasi Pertanian Modern Mendukung Revolusi Industri 4.0'

Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengamini bahwa digitalisasi pertanian merupakan salah satu komponen penting yang mesti segera didorong. Dengan digitalisasi itu, segala kendala yang selama ini mengadang dalam sektor pertanian bisa teratasi. Kendala yang utama adalah waktu dan biaya.

Dengan internet of things, artificial intelligence, human-machine interface, teknologi robotic dan sensor maka proses penggarapan lahan hingga panen bisa jauh lebih cepat. Tak hanya itu, ini juga bisa mengontrol lahan dari ancaman gagal panen karena cuaca dan hama yang selama ini jadi 'hantu'.

Dengan pertanian digital itu, target swasembada pangan berkelanjutan diyakini akan tercapai. Namun syaratnya, edukasi soal inovasi dan pemanfaatannya oleh petani perlu terus didorong.

Demi mendorong mekanisasi pertanian itu, Kementerian Pertanian telah menyalurkan bantuan alat mesin pertanian (Alsintan) yang anggarannya sudah naik 2.000 persen.

Tak hanya itu, Kementan juga terus mendorong lahirnya start up di bidang pertanian. Saat ini sudah bermunculan puluhan start up di bidang pertanian, seperti SiKumis, IGrow, Crowde, Limakilo, dan CI-Agsticulture.

Masing-masing start up itu punya fungsi kerja yang berbeda. SiKumis misalnya yang menyajikan penjualan segala macam alat pertanian maupun pupuk. Petani cukup memesan via aplikasi dan alat-alat pertanian itu pun akan segera diantarkan. 

Sedangkan IGrow dan Crowde meruakan platform yang mempertemukan petani dengan masyarakat luas lain yang berniat investasi. Dengan sistem terbuka dan fair via aplikasi, maka petani dan investor sama-sama dipertemukan dalam sebuah manfaat yang praktis dan cepat. 

Sedangkan aplikasi CI Agriculture membantu petani dalam proses penanaman. Dengan aplikasi ini petani bisa dipandu dengan sistem tanam modern yang datanya bisa dikontrol dan dianalisis via aplikasi. CI Agriculture juga dilengkapi dengan teknologi satelit dan drone yang bisa membantu mengawasi lahan pertanian. 

Di sisi lain, aplikasi seperti Limakilo mempertemukan petani dengan pasar digital. Inilah Market Place pertanian yang membuat petani bisa mengembangkan sayapnya ke sektor jual beli. 

Semua teknologi pertanian digital tersebut pada akhirnya mentransformasi cara petani berinteraksi hingga pada level yang paling mendasar serta mengarahkan untuk efisiensi dan daya saing industri.

Dengan pertanian digital itu maka cost produksi petani bisa ditekan jauh. Kesejahteraan petani juga bisa jauh lebih baik. Seperti diungkapkan Menteri Amran, dengan mekanisasi itu biaya produksi petani akan berkurang sekitar 50 persen.

"Jika dulu tanam 1 hektare butuh Rp 2 juta, kini ditekan lewat mekanisasi pertanian jadi Rp 1 juta. Jika diterapkan 16 juta lahan pertanian, sudah hemat 16 triliun. Itu baru dari sisi tanam, belum panen dan sebagainya," ucap Amran.

Kementan pun sadar bahwa bahwa digitalisasi pertanian harus didukung pula dengan edukasi. Langkah pertama adalah harus mendorong semangat petani untuk tak hanya mengandalkan tenaga melainkan pikirannya untuk memanfaatkan teknologi.

Dengan kerja otak untuk mendigitalisasi pertanian, petani bisa mengontrol lahannya secara terukur dan lebih pasti. Yang terpenting dari digitalisasi ini petani bisa langsung berhubungan dengan pasar digital, alias Market Place. Ini sesuai dengan apa yang dicita-citakan Presiden Jokowi. Dengan digitalisasi pertanian ini, sektor tani memberikan kepastian sekaligus keuntungan ekonomis yang besar. 

Walhasil untuk menghasilkan keuntungan, petani tak perlu lagi bergantung pada orang lain, apalagi lintah darat. Cukup dengan jari saja maka petani lewat gadgetnya akan terhubung dengan pasar di dalam bahkan luar negeri. Dengan jarinya petani Indonesia bisa menaklukkan dunia.

*penulis adalah redaktur Republika   

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA