Tuesday, 16 Ramadhan 1440 / 21 May 2019

Tuesday, 16 Ramadhan 1440 / 21 May 2019

Sri Lanka, Oh Sri Lanka: Kisah Batu Safir dan Kekerasan

Senin 22 Apr 2019 14:57 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Polisi dan militer berjaga di area Gereja St Sebastian di Negombo, di utara Kolombo, yang menjadi salah satu sasaran bom pada Ahad (21/4). Dua ratusan korban tewas dan ratusan lainnya terluka akibat serangan bom di delapan lokasi di ibu kota Sri Lanka.

Polisi dan militer berjaga di area Gereja St Sebastian di Negombo, di utara Kolombo, yang menjadi salah satu sasaran bom pada Ahad (21/4). Dua ratusan korban tewas dan ratusan lainnya terluka akibat serangan bom di delapan lokasi di ibu kota Sri Lanka.

Foto: AP Photo/Chamila Karunarathne
Sri Lanka terkenal dengan batu safirnya sekaligus negara yang banyak kekerasan,

Oleh: Setiyardi, Jurnalis Senior

'Bom Paskah' menewaskan hampir 200 umat Kristiani Sri Lanka. Dunia terkejut, dan mengutuk. Belum jelas siapa pelaku bom laknat itu. Kekerasan yang menyerang tempat ibadah tak bisa diterima akal sehat. Banyak orang baik yang tak bersalah jadi korban.

Kekerasan di Sri Lanka sepertinya masih sangat pekat. Februari 2018 lalu, misalnya, giliran Umat Muslim yang jadi korban. Di Distrik Ampara dan Kandy, masjid dan properti milik umat Islam diserang. Beberapa orang meninggal dan ratusan properti rusak.

Aksi kekerasan berbasis etnik dan agama mengakar di negeri anak benua Asia itu. Sejak lama dunia mengenal aksi-aksi paling tak masuk akal: bom bunuh diri. 'Macan Tamil' Sri Lanka dianggap kelompok teroris paling gila dan berbahaya. Mereka tak segan meledakan diri di kerumunan massa demi membunuh seorang target.

photo

Setiardi di Restoran Hadramout di Colombo, Sri Lanka.

Saya punya pengalaman di Sri Lanka. Beberapa tahun lalu saya sengaja ke negara itu. Ada dua alasan. Pertama, Sri Lanka tak perlu visa bagi pemegang paspor Garuda (cukup 'visa on arrival' saja). Kedua, Sri Lanka sumber terbaik batu ruby dan safir di dunia. Maklumlah, saat itu kita lagi demam batu untuk cincin.

Sesampai di Kolombo, ibukota Sri Lanka, kami mencari mobil rental di Bandara. Setelah mengisi perut di restoran Hadramout di Jalan Deans, kami lanjutkan 3 jam perjalanan ke Ratnapura. Wilayah Ratnapura dingin, karena berada di kawasan tinggi. Suasananya persis seperti Puncak, Bogor --- berbeda jauh dengan Kolombo yang panas.

Sopir mobil rental, seorang anak muda tamil yang baik, sejak awal mewanti-wanti. Dia menasehati agar kami tak terlalu 'mencolok' saat di Ratnapura. Dan jangan sekali-kali bilang sedang mencari batu mulia. Jika ada yang bertanya, "Bilang saja sedang wisata biasa. Kalau tahu mencari ruby atau safir, bisa jadi korban penculikan," katanya.

Begitulah, kekerasan sepertinya masih belum enyah dari Sri Lanka,

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA