Tuesday, 16 Ramadhan 1440 / 21 May 2019

Tuesday, 16 Ramadhan 1440 / 21 May 2019

Islam yang Membebaskan, Berkaca kepada Kasus Kartini

Senin 22 Apr 2019 14:41 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Siti Walidah Ahmad Dahlan.

Siti Walidah Ahmad Dahlan.

Foto: tokoh nasional
Bukan hanya Kartini saja yang layak menjadi pahlawan emansipasi Indonesia.

Kemarin sebenarnya saya agak galau. Muncul pertanyaan di hati. Perlukah Kartini ditulis? Sebenarnya, apa yang sudah dilakukannya untuk bangsa ini? Mengapa dia yang harus ditokohkan untuk mewakili perempuan Indonesia?

Baca Juga

Sama-sama perempuan, buat saya apa yang dilakukan Nyai Walidah Ahmad Dahlan (1872-1946) lebih dahsyat. Karena jejaknya masih terlihat nyata hingga kini. Ini bukan karena saya besar dalam lingkungan keluarga Muhammadiyah ya?

Mereka berdua adalah perempuan Indonesia yang hidup sezaman. Kartini lahir tahun 1879. Tujuh tahun lebih muda dari Nyai Walidah yang lahir tahun 1872.

Keduanya sama-sama dari keluarga terpandang. Sama-sama cerdas. Kartini anak Adipati Joyodiningrat. Nyai Walidah putri Kyai Haji Muhammad Fadli, penghulu Kraton Yogyakarta. Kalau istilah sekarang, keduanya anak-anak elit. Tidak pernah merasakan hidup susah.

Namun, cara pandang mereka terhadap hidup dan kehidupan ternyata jauh berbeda. Kehidupan Kartini terdokumentasikan melalui surat-suratnya pada sahabat-sahabat penanya di Belanda.

Tertulis jelas bagaimana kegelisahannya sebagai anak ningrat yang tidak leluasa mendapat kebebasan berpendapat dan bersekolah. Hingga pernikahan yang diatur keluarga digambarkan sebagai upaya untuk “menjegal” beasiswa yang didapat untuk melanjutkan pendidikan ke Belanda.

Sekolah perempuan yang didirikannya pun seakan hasil “barter” dengan pernikahannya. Ia mau dinikahkan asalkan masih bisa mengajar di sekolahnya.

Sebaliknya Nyai Walidah. Dari beragam biografi yang ditulis maupun dikaji secara ilmiah terlihat jelas bagaimana ia mendapat kebebasan berpikir dan bergerak. Sekalipun sudah terikat dalam pernikahan.

Di usia yang masih muda ia sudah merasakan pengalaman berinteraksi dengan dunia internasional saat pergi haji bersama suaminya. Sesuatu yang sangat diidamkan Kartini, dan tak pernah didapatkan hingga akhir hayatnya.

Froebel Kindergarten Aisyiyah, yang sekarang ini dikenal dengan nama TK Aisyiyah Bustanul Athfal yang didirikannya pada 1919, tak hanya didukung oleh suami dan keluarga, namun juga disokong penuh untuk pendanaannya.

Tak cukup mendirikan sekolah, ia pun mendeklarasikan organisasi perempuan Islam. Walidah dengan berbalut kain jarik dan berhijab rapat, ia sampaikan isi kepalanya di atas podium di hadapan audience yang begitu banyak. Termasuk di hadapan suami tercinta dan kawan-kawan seperjuangannya.

Jadi jangan bayangkan itu terjadi hari ini. Di abad itu, Kartini yang istri bupati pun tak mendapatkan “kemewahan” serupa. Menyuarakan isi hati dan pikiran di depan orang banyak.

Lalu apa yang membedakan keduanya?

Jawabnya: Islam.

Hei! Keduanya Muslimah.

Betul keduanya terlahir sebagai muslimah. Namun, hadis ini bisa memberikan gambaran, mengapa perbedaan itu begitu nyata.

“Seseorang tergantung agama teman dekatnya, maka hendaknya kalian memerhatikan siapakah teman dekatnya.” (HR. Ahmad).

Nyai Walidah lahir dan tumbuh di lingkungan di mana Islam dijalankan dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari dengan benar. Kyai Ahmad Dahlan tak akan memberikan izin pada istrinya bergerak sejauh itu, kalau pemahaman agamanya dangkal.

Tak akan keluarga besarnya bersedia mengongkosi organisasi perempuan dan sekolah anak-anak yang didirikan, kalau pemahaman atas QS Al Ma’un tidak tegak. Maka Kartini berada di lingkungan yang sangat berbeda. Tak hanya suami atau keluarga besarnya. Lihatlah dengan siapa ia berkawan.

Tercatat nama-nama, Mr.J.H. Abendanon dan istrinya yang rutin menerima surat-suratnya. Pasangan suami istri ini adalah orientaslis Yahudi yang merupakan sahabat dekat Snouck Hurgronye. Orientalis yang khusus didatangkan Belanda untuk menghancurkan Islam di Nusantara.

Dr Adriani, sahabat pena yang juga seorang ahli bahasa dan pendeta dengan misinya menyebarkan agama Kristen pada suku Toraja. Stella, seorang Yahudi, anggota militan Pergerakan Feminisme di Belanda.

Ir H Van Kol, anggota partai Sosialis yang berusaha mengungkapkan kebobrokan pemerintah Hindia Belanda untuk memenangkan partainya di parlemen Belanda. Istrinya adalah seorang misionaris yang sejak awal punya misi mengkristenkan keluarga Kartini.

Awalnya saya sangat terkejut membaca referensi itu. Saya coba menelusuri beberapa literatur dan sumber yang akurat. Ternyata datanya sesuai.

Maka pahamlah saya, mengapa Kartini menulis surat-surat seperti itu pada sahabat penanya. Sekaligus makin bertanya-tanya, adakah agenda tertentu yang disembunyikan sejarah bangsa ini dengan mengangkat ketokohannya?

Sebagai jurnalis perempuan yang banyak menulis tentang perempuan, saya mendapati hikmah terbesar. Bagaimana Islam memberi ruang gerak yang seluas-luasnya bagi umatnya. Petunjuk yang nyata bagaimana memposisikan diri sebagai mahluk yang paling mulia. Sebagai khalifah fil ardh. Tanpa membedakan laki-laki atau perempuan. Tanpa sekat-sekat kasta yang tak kasat mata.

Nyai Walidah adalah contoh nyata. Bagaimana pandangan Islam yang diimplementasikan dengan benar oleh semua orang yang terkait dengan rantai kehidupannya.

Sama-sama mendirikan sekolah perempuan seperti halnya Kartini. Sekolah yang didirikan Nyai Walidah sampai sekarang masih eksis dan terus berkembang. Dari hanya satu di halaman rumahnya, kini tak kurang ada 4.560 sekolah berdiri hasil jariyah pemikirannya.

Sungguh, saya menyaksikan: Islam adalah agama yang membebaskan. Membebaskan manusia dari belenggu kebodohan, kejumudan, kejahiliyahan.

 

TENTANG PENULIS

M PANJI ASTUTI. Traveler dan penulis buku. Follow IG @uttiek.herlambang

Tulisan dan foto-foto ini telah dipublikasikan di www.uttiek.blogspot.com dan akun media sosial @uttiek_mpanjiastuti

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA