Tuesday, 23 Safar 1441 / 22 October 2019

Tuesday, 23 Safar 1441 / 22 October 2019

Pertaruhan Terakhir (the Last Bet)

Senin 22 Apr 2019 07:11 WIB

Red: Elba Damhuri

Iman Sugema

Iman Sugema

Foto: Republika/Da'an Yahya
The last bet atau pertaruhan terakhir merupakan istilah dalam game theory.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Iman Sugema

The last bet atau pertaruhan terakhir merupakan istilah dalam game theory yang cukup populer dipakai sebagai pisau analisis di kalangan ekonom. Hanya saja, teori ini akan saya aplikasikan untuk memahami dinamika yang terjadi dalam pilpres 2019.

Dengan memakai pisau analisis ini akan ditunjukkan bahwa masyarakat tidaklah perlu terkaget-kaget dengan apa yang akan terjadi dalam beberapa minggu ke depan. It is just a game.

Kita mulai dengan membahas apa itu pertaruhan terakhir dalam teori permainan. Istilah pertaruhan terakhir biasanya merujuk pada upaya habis-habisan untuk memenangkan pertarungan di kesempatan terakhir.

Pihak yang berada dalam posisi kalah atau hampir kalah akan meningkatkan tempo permainan sampai batas kemampuannya habis. Hal seperti ini biasa terjadi tidak hanya di dunia politik, tetapi juga di hampir semua bidang, termasuk olahraga dan bisnis.

Bagaimana dengan pihak yang berada di atas angin? Dia hanya perlu untuk memastikan kemenangan. Caranya adalah dengan meladeni setiap upaya dari pihak yang kalah.

Tempo permainan setinggi apa pun akan diladeni karena yakin menang. Hanya saja, karena berada di atas angin, respons terhadap permainan akan lebih terukur. Toh hasil akhir sudah hampir pasti di tangan.

Dengan segala hormat, kita definisikan paslon 02 sebagai pihak yang akan kalah. Di hampir semua survei yang dilakukan sebelum pencoblosan, tanda-tanda kekalahan itu sudah tercermin. Begitu pun pascapencoblosan, semua quick count menunjukkan paslon 02 akan kalah.

Kata ‘akan kalah’ perlu mendapat penegasan karena penetapan siapa yang kalah atau menang akan dilakukan oleh KPU bulan depan berdasarkan perhitungan secara manual-bertingkat. Kita tunggu saja hasilnya.

Kita coba aplikasikan pisau analisis ini terhadap dua politik terakhir. Yang pertama adalah kampanye akbar di Gelora Bung Karno dan yang berikutnya adalah rentetan peristiwa pasca-quick count. Coba kita lihat apakah prediksi teori ini memiliki relevansi atau tidak.

Kampanye akbar Prabowo-Sandi pada 7 April 2019 dirancang untuk menciptakan dua kesan. Pertama, dengan membeludaknya massa maka tercipta kesan bahwa dukungan terhadap paslon ini nyata dan sangat besar. Ini biasanya disebut glory effect dari suatu kampanye massa.

Kedua, diciptakan suasana yang seolah sangat Islami dengan harapan akan menggerus pemilih Muslim di kubu lawan. Kampanye ini sarat dengan politik identitas. Seolah mereka hendak mengatakan, "Kami Islam, kamu?".

Dengan menguatkan kembali politik identitas "Islam", sebetulnya paslon 02 sedang mengerahkan modal utamanya secara mati-matian. Nasionalis versus Islam dibenturkan begitu kuat. Seolah-olah mereka satu-satunya representasi Islam. GBK dari tempat kampanye, telah diubah menjadi tempat beribadah.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA