Tuesday, 16 Ramadhan 1440 / 21 May 2019

Tuesday, 16 Ramadhan 1440 / 21 May 2019

Pesta Demokrasi

Rabu 17 Apr 2019 15:25 WIB

Red: Karta Raharja Ucu

Pencoblosan di Pemilu 2019 (ilustrasi)

Pencoblosan di Pemilu 2019 (ilustrasi)

Foto: republika
Ibu Pertiwi mau sebuah pesta untuk semuanya

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Ricky Setiawan

Pesta Demokrasi, begitu orang menyebutnya sebuah nama lain untuk Pemilihan Umum. Yang gue tahu pesta adalah saat yang menyenangkan untuk semuanya, saat penuh tawa dan canda. Makanan dan minuman di mana semua kebagian.

Namun ternyata Pesta yang ada adalah suguhan janji-janji yang meminta kita memberikan suara untuk janji tersebut. Yang akhirnya gue belajar, definisi pesta ini adalah sebuah perayaan dari sebuah pencapaian negara kita.

Dalam sebuah negara demokrasi, puncak momentumnya adalah adanya kesempatan memilih dan menentukan sebuah bangsa yang diberikan kepada warga negara tersebut. Memilih yang dianggap terbaik. Mungkin pesta ini sudah diimpikan oleh para founding fathers kita.

Adu ide.

Adu gagasan.

Kompetisi.

Paham sekali itu -yang cukup kenal gue tahu gue cukup kompetitif. Pengalaman sebagai sales/ deal maker untuk membuat orang membeli gagasan gue membuat gue dalam iklim yang selalu kompetitif.

Tetapi akhirnya gue belajar lagi dan lagi-kompetitif yang terlalu berlebihan akan menciptakan sikap destruktif. Apalagi di era media sosial sekarang --tiap orang mempunyai panggung dan wahana untuk mendukung jagoannya dan menjatuhkan pesaingnya. Setiap saat. Setiap waktu. Tanpa lelah dalam semangat kompetisi.

Terlepas dari situasi yang ada di hawa persaingan ini, gue bangga sama bangsa kita. Dengan 250 juta lebih penduduk dan 15 ribu lebih pulau, Kita adalah negara kepulauan terbesar yang bisa menyelenggarakan pemilu lagi. Bangsa kita bisa mewujudkan kembali Pesta Demokrasi lima tahunan ini --yang gue yakin dilihat dengan iri oleh banyak bangsa bangsa lain. Pesta kita beda bro!

Mata beragam bangsa di luar sana mungkin bingung, melihat antrean panjang berduyun-duyun rekan sebangsa di luar negeri untuk memberikan suara mereka dalam pesta demokrasi Indonesia. Apakah mereka TKW, pengusaha ataupun mahasiswa yang sedang studi di sana- Pesta di luar negeri ternyata ramai.

Mereka rela berdiri dengan gerah karena mereka tahu biaya dari kata terserah atau tidak andil memilih. Terserah adalah sebuah kata yang membebaskan di suatu pilihan saat ini namun ada konsekuensi setelahnya yang juga menjadi bagiannya. Memang tidak ada pilihan yang sempurna bisa mengakomodir 250 juta, tetapi berjalan sebentar ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) bisa jadi langkah kecilmu yang membawa bangsa besar ini menjadi lebih baik.

Namun, seperti layaknya sebuah kompetisi, selalu ada cara untuk mengunggulkan pilihan dan menjatuhkan lawannya. Padahal kita sebangsa, dibayar di atas tanah dan air yang penuh tumpah darah pejuang sebelum kita. Gue rasa akan konyol kalau pahlawan bangsa kita bisa mempunyai mesin waktu untuk melihat jauh ke depan dari masa mereka hidup melawan penjajahan VOC atau Jepang -bahwa kita memutuskan begitu banyak tali persaudaraan, pertemanan atau bahkan mungkin perniagaan- hanya karena hak istimewa yang sudah mereka perjuangkan dengan nyawa mereka.

“Kita berkelahi supaya mereka hidup bebas dan rukun? Kenapa mereka masih berkelahi walau hidup sudah bebas?” Mereka mungkin bertanya.

Semoga kita memberikan jawaban yang mereka cari selama ini -bahwa kita sebagai bangsa bisa rukun dalam pesta demokrasi. Semoga pilihanmu bukan karena dengki hendak menghancurkan pesaingmu dan para pendukungnya.

Karena sangat mungkin mereka yang beda yang ada di sampingmu, menolongmu dan mencintaimu tanpa bertanya lagi siapa yang kamu dukung dulu. Semoga pilihanmu bukan untuk menunjukkan ego dan harga dirimu yang terluka karena kata-kata pedas dari pihak sebelah sana.

Karena dari dulu para pahlawan mati berjuang melawan timah panas dengan sorakan dan mimpi bahwa setiap jiwa tidak ternilai harganya. Gue bukan seorang ibu, karena gue yakin hanya seorang Ibu yang paham rasanya. Hal terindah adalah seorang ibu bisa merangkul semua anaknya dalam sebuah pelukan.

Dengan keunikan dan perbedaannya masing-masing. “berhenti bertarung sesamamu Nak. Kamu terlalu berharga untuk menghancurkan saudaramu”

Gue rasa itu yang Ibu Pertiwi mau sebuah pesta untuk semuanya. Selamat memilih teman-temanku.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA