Wednesday, 24 Safar 1441 / 23 October 2019

Wednesday, 24 Safar 1441 / 23 October 2019

Catatan Shamsi Ali: Kampanye Bersejarah Prabowo-Sandi

Senin 08 Apr 2019 14:23 WIB

Red: Karta Raharja Ucu

Sejumlah massa simpatisan memadati area kampanye akbar calon presiden dan calon wakil presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno di Gelora Bung Karno (GBK), Senayan, Jakarta, Minggu (7/4).

Presiden Nusantara Foundation, Imam Shamsi Ali

Foto:
Imam Shamsi Ali memberikan catatan mengapa hadir di kampanye Prabowo Sandi

Alasan-alasan kehadiran dan dukungan
Keinginan saya untuk menyampaikan dukungan terbuka kepada Prabowo-Sandi bukan tiba-tiba. Hanya saja memang kampanye akbar itu bersamaan dengan kedatangan saya di Tanah Air.

Dalam beberapa bulan terakhir saya melakukan pengamatan dan kajian, baik melalui ragam sumber maupun melalui teman-teman yang ada di kedua belah pihak. Artinya saya memiliki hubungan dan komunikasi dengan kedua kubu paslon tersebut.

Setelah mempelajari dan mengamati secara dekat, baik substansi kampanye (misi dan misi) maupun karakter paslon, saya memutuskan untuk memberikan dukungan saya kepada paslon Prabowo-Sandi.

Berikut alasan-alasan itu:
1. Saya merasakan ketidakadilan dalam menilai dukungan ulama di kedua belah pihak. Ketika sebagian ulama mendukung Prabowo-Sandi dengan serta merta dituduh politiisasi agama. Tapi ketika sebagian lainnya mendukung paslon lain seolah itu dukungan yang wajar dan alami. Perlu digarisbawahi bahwa kedua paslon didukung oleh ulama-ulama umat ini.

2. Saya juga merasakan bahwa ada upaya sistimatis untuk menghalangi ulama umat ini untuk mengambil hak politiknya, sekaligus melakukan tanggung jawab amar ma’rufnya secara politik. Seolah ketika ulama proaktif melakukan kegiatan politik maka itu politisasi agama. Runyamnya tuduhan politisasi agama ini seringkali hanya dituduhkan kepada ulama Islam semata. Padahal saya tahu tokoh-tokoh agama lain, khususnya teman-teman Kristiani, melakukan hal yang sama. Karenanya dengan dukungan ini saya tegaskan bahwa ini bukan politisasi agama. Sebaliknya keterlibatan saya mengambil hak politik dan melakukan tanggung jawab agama saya.

3. Walau saya sudah lama hidup di luar negeri, hampir dua per tiga umur saya, tapi cinta dan perhatian saya kepada tanah air tidak pernah berkurang. Sejujurnya saya mungkin termasuk salah satu anak bangsa yang cukup kecewa ketika negeri ini belum mampu menjadikan rakyatnya sebagai tuan di negerinya sendiri. Negara besar yang kaya raya. Tapi takyat stagnan dalam kemiskinan. Sementara itu ada kecenderungan jika potensi-potensi kekayaan negara semakin dibiarkan untuk dikuasai orang lain.

4. Di sisi lain, negara besar ini, besar dalam sejarah, besar potensi sumber daya manusia dan alam, besar dalam keragaman budaya dan agama, dan yang lebih khusus lagi negar berpenduduk terbesar Muslim dunia yang mampu mengawinkan antara Islam dan norma-norma dunia modern, seperti demokrasi, HAM, kesetaraan jender, dan lain-lain. Sayangnya dengan segala kebesaran bangsa ini dunia kerap masih melihatnya sebelah mata. Dalam penilaian saya, salah satu penyebabnya adalah kharisma dan kapabilitas kepemimpinan itu menjadi faktor utama. Kasus terkecil adalah ketidak mampuan komunikasi pemimpinnya.

5. Selama ini dunia dibombardir dengan misinfomasi-misinformasi yang salah tentang saudara-saudara kami di tanah air. Seringkali ketika merek berkumpul dengan Jumlah besar, seperti pertemuan 411, 212, dan lain-lain dicap sebagai kegitaan “intoleran”. Padahal mereka berkumpul untuk mengekspresikan diri juga karena keyakinan mereka tentang demokrasi dan kebebasan berpendapat. Keterlibatan saya untuk menegaskan bahwa kegiatan ini adalah kebanggaan bangsa dan umat. Karena bangsa ini adalah Muslim terbesar dunia tapi sekaligus punya komitmen demokrasi. Apalagi semuanya dilakukan dengan aman, damai dan penuh kesejukan.

6. Saya juga gerah dengan tuduhan-tuduhan seolah umat ini jika berkomitmen dengan agamanya berarti terjadi krisis loyalitas kepada negaranya. Ada upaya sistimatis untuk membenturkan antara komitmen keagamaan dan kebangsaan umat. Padahal NKRI, Pancasila dan UUD 45 adalah hadiah terbesar umat dan ulama-ulamanya. Karenanya saya sebagai putra bangsa ingin menegaskan bahwa keterlibatan saya di acara yang dikomandoi oleh para ulama dan Habaib itu adalah bentuk komitmen kepada negara dan agama. Keduanya adalah dua sisi mata uang yang tak terpisahkan di negara ini.

7. Saya juga memutuskan hadir dan mendukung pasangan Prabowo-Sandi karena saya melihat keduanya adalah pasangan calon yang sesuai dan saling melengkapi. Sosok Prabowo yang militer dengan keberanian dan ketegasannya didampingi oleh sosok muda yang pintar, visioner, sukses dan santun. Saya menilai pasangan ini adalah pasangan yang sangat ideal dalam menjalankan roda pemerintahan ke depan.

Akhirnya sekali lagi saya tegaskan dukungan politik saya ini tidak sama sekali akan mengurangi intens komunikasi dan persahabatan dengan mereka yang kebetulan memiliki pilihan lain. Mari belajar dewasa dalam berdemokrasi yang memang alaminya akan terjadi perbedaan pilihan.

Yang terpenting dari semua itu adalah perlunya kita semua membangun kesadaran bahwa siapapun kita dan apapun pilihan kita ada “common ground” (kesamaan) di antara kita. Sebagai umat kesamaan kita  adalah demi “izzah Islamiyah” (kemuliaan Islam dan umat). Dan sebagai bangsa tentu tidak lain adalah demi Indonesia Raya.

Harapan saya untuk Presiden Prabowo dan Wakil Presiden Sandiaga Uno periode mendatang dengan izin Allah, agar mereka merebut slogan Donald Trump: Making Indonesia Great Again. Tapi untuk semua latar belakang suku, ras dan agama. Semoga!

Takbir...Merdeka!!!

TENTANG PENULIS
IMAM SHAMSI ALI, Anak negeri di kota New York, AS.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA