Saturday, 15 Sya'ban 1440 / 20 April 2019

Saturday, 15 Sya'ban 1440 / 20 April 2019

Tajuk Republika: Efek Berlipat Tarif MRT

Selasa 26 Mar 2019 17:40 WIB

Red: Karta Raharja Ucu

MRT (ilustrasi)

MRT (ilustrasi)

Foto: Republika
Tarif MRT Rp 8.500 dan LRT Rp 5.000

Keputusan penting akhirnya diambil kemarin (25/3). DPRD Provinsi DKI Jakarta memutuskan tarif kereta MRT dan LRT sebesar masing-masing Rp 8.500 dan Rp 5.000 per trip. Keputusan ini amat memengaruhi prospek dan operasional MRT-LRT di DKI Jakarta ke depannya.

Pemerintah dan DPRD berharap, dengan diketoknya tarif MRT-LRT ini masyarakat mulai bisa memperhitungkan untung ruginya menggunakan transportasi publik. Kedua sistem kereta itu, ditambah dengan Transjakarta dan kereta rel listrik (KRL) komuter, menjadi tulang punggung transportasi publik di Ibu Kota. Sebenarnya bisa ditambah satu moda lagi, yakni ojek daring atau ojek online.

Yang utama adalah keterjangkauan publik atas biaya transportasi dan integrasi jejaring antarmoda. Ini faktor utama pendorong: Apakah warga mau menanggalkan kendaraan pri badi mereka, mobil dan motor, untuk beralih ke transportasi umum.

Kita tahu, tarif Transjakarta per trip adalah Rp 3.500. Tarif KRL komuter per trip bervariasi mulai dari di bawah Rp 5.000 sampai di bawah Rp 15 ribu. Ditambah dengan tarif MRT Rp 8.500 dan LRT Rp 5.000 maka lengkap sudah pilihan tarif bagi warga.

Dengan harga BBM saat ini berkisar antara Rp 6.500 per liter sampai dengan Rp 10 ribuan per liter, daya tarik nominal tarif transportasi umum amat masuk akal. Kemudian ditambah faktor kecepatan sampai tujuan dan kenyamanan moda transportasi.

Faktanya, banyak komuter di DKI Jakarta rela naik motor/mobil karena hanya faktor BBM murah. Meski begitu, mereka harus tidak nyaman menempuh jarak puluhan kilometer dari rumah ke kantor setiap hari plus kemacetan berjam-jam.

Kita berharap bisa segera melihat efek pergeseran perilaku bertransportasi tersebut. Warga mulai meninggalkan motor dan mobilnya di garasi. Mereka memilih naik MRT-LRT dan Transjakarta serta angkutan kota lainnya yang terintegrasi. Apa yang menjadi tujuan semua ini? Efisiensi dan efektivitas tentunya. Studi memperlihatkan, bagaimana kemacetan lalu lintas di Jakarta memicu pemborosan sampai triliunan rupiah, terutama untuk biaya pembelian BBM, stres individu, dan waktu efektif bekerja yang terbuang. Belum lagi memperhitungkan tingginya angka kecelakaan kendaraan bermotor.

Survei Badan Pusat Statistik pada 2014 menghitung, setiap harinya, ada tiga juta warga komuter di antara Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Dari total jumlah ini, ada sebanyak 1,2 juta warga luar kota Jakarta yang masuk ke Jakarta saban harinya. Sangat besar dan sangat masif.

Yang tak kalah penting kemudian adalah jejaring transportasi publik. Jaringan MRT dan LRT saat ini belum menjangkau seluruh wilayah strategis Jakarta dan sekitarnya. Karena itu, menjadi keharusan untuk menyinergikan moda yang sudah eksis, seperti Transjakarta dan angkutan kota dengan MRT-LRT.

Dari rumah, warga bisa menggunakan angkutan kota sampai halte Transjakarta atau MRT. Kemudian melaju. Lalu berpindah moda menggunakan MRT atau Transjakarta lagi untuk sampai ke kantor. Sinergi ini harus diantisipasi dengan metode pembayaran yang mudah dan terintegrasi.

Pelopor gerakan sistem busway di dunia, Kota Bogota di Kolumbia, sukses menggerakkan jutaan warganya untuk meninggalkan kendaraan pribadi dan beralih ke bus. Tingkat penggunaan bus Bogota amat tinggi. Salah satu resep muja rabnya adalah menyediakan moda pengumpan bus mulai dari warga keluar pintu rumah hingga tujuan.

Di sini kemudian kita tak bisa melupakan fenomena ojek daring menjadi salah satu bagian solusi transportasi massal. Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo dan Wagub Basuki Tjahaja Purnama pernah memasukkan opsi Transjakarta ke dalam aplikasi ojek daring. Namun, dalam perjalanannya, fitur ini kurang dimanfaatkan warga karena berbagai macam hal.

Kehadiran MRT-LRT bisa menghidupkan lagi kerja sama jejaring ojek daring-transportasi massal di DKI Jakarta. Dari rumah, warga menggunakan angkot atau ojek daring ke halte Transjakarta. Kemudian menggunakan MRT untuk sampai tujuan dengan berbagai variasi.

Kita berharap, kehadiran MRT-LRT dan tarifnya yang kompetitif benar-benar bisa dimanfaatkan publik Jabodetabek untuk mengubah pola transportasi mereka menjadi lebih baik dan efektif. Perubahan ini, kita harapkan bisa berlangsung lebih cepat dan mulus. Selamat datang era baru bertrans portasi massal di Jakarta!

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA