Thursday, 25 Safar 1441 / 24 October 2019

Thursday, 25 Safar 1441 / 24 October 2019

Kepemimpinan Isra Mi’raj

Selasa 26 Mar 2019 07:39 WIB

Red: Elba Damhuri

Kaligrafi Nama Nabi Muhammad (ilustrasi)

Kaligrafi Nama Nabi Muhammad (ilustrasi)

Foto: smileyandwest.ning.com
Isra Mi’raj Rasulullah sarat dengan pembelajaran kepemimpinan.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Ahmad Sastra, Dosen Filsafat Pascasarjana UIKA Bogor

Bangsa Indonesia sudah lama dikenal sebagai bangsa religius. Islam sebagai agama samawi menawarkan konsepsi kepemimpinan atas bangsa dan negara.

Perjalanan Isra Mi’raj Rasulullah sarat dengan pembelajaran kepemimpinan. Rasulullah adalah teladan terbaik bagi manusia. Bahkan, para ilmuwan Barat pun mengakuinya.

Michael H Hart menempatkan Muhammad sebagai tokoh paling berpengaruh dalam sejarah pada urutan pertama sepanjang zaman. Dia menegaskan, “My choice of Muhammad to lead the list of the world’s most influential persons may surprise some readers be questioned by other, but he was the only man in history who was supremely successful on both the religious and secular levels.”

Setiap diri adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya, begitu Rasulullah bersabda. Jika merujuk pada sabda Nabi Muhammad SAW di atas dapat dipahami bahwa pemimpin itu adalah sifat yang harus melekat dalam setiap diri manusia. Artinya, setiap manusia diciptakan Allah telah mengemban fungsi kepemimpinan yang harus dijalankan selama ia hidup di dunia.

Prestasi apa yang telah ia capai ketika menjalankan kepemimpinan ini akan diperhitungkan oleh Allah kelak pada hari akhir. Hal ini menunjukkan bahwa betapa pentingnya fungsi kepemimpinan ini. Sukses gagalnya manusia pada hari akhir kelak sangat ditentukan oleh fungsi kepemimpinan ini. Apakah dia amanah atau tidak amanah.

Setiap manusia dilahirkan untuk menjadi seorang pemimpin, yang membedakan antarmanusia hanyalah ruang lingkup kepemimpinan yang diembannya. Apakah ruang lingkupnya dunia, satu negara, wilayah, desa, keluarga, atau sekadar memimpin diri sendiri. Semua adalah bentuk amanah yang diberikan Allah kepada manusia yang dengannya harus dipertanggungjawabkan.

Begitu juga peristiwa yang sangat fenomenal sebagai bagian dari mukjizat dari Allah kepada Rasulullah adalah Isra Mi’raj. Sebuah perjalanan yang hanya bisa ditimbang berdasarkan keimanan ini mengandung banyak dimensi. Menembus kosmos dan ruang angkasa dalam waktu semalam adalah peristiwa keimanan. Meski di dalamnya Allah menaburkan berbagai pelajaran, dari pelajaran kepemimpinan hingga peradaban sains.

Peristiwa Isra Mi’raj memiliki tiga isyarat kepemimpinan yang bisa dijadikan teladan bagi umat Islam dan seluruh manusia. Sebab, Rasulullah diutus Allah tidak hanya kepada umat Islam, tetapi juga untuk menebarkan rahmat bagi alam semesta. Allah berfirman, “Kami tiada mengutus Rasul-Rasul sebelum kamu (Muhammad), melainkan beberapa orang-laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka. Maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui,” (QS Al Anbiyaa : 7).

Isyarat pertama adalah adanya perubahan arah kepemimpinan politik Islam dari kepemimpinan jahiliyah. Kalau memperhatikan uraian sirah, ternyata Rasulullah dalam peristiwa Isra tidak langsung dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil al-Aqsha di Baitul Maqdis al-Quds (Yerusalem), tetapi melewati Yatsrib (Madinah), Madyan Thursina di Mesir, Bethlehem. Dari paparan tersebut, dapat dilihat adanya isyarat kepemimpinan dan kekuasaan Rasulullah serta umat Islam melampaui daerah yang disinggahi Rasul dan itu terbukti, bahkan melebihi daerah tersebut.

Itulah mengapa setelah Rasulullah diperjalankan oleh Allah, beliau dengan gigih melakukan dakwah dan perjuangan politik hingga tegak daulah Madinah, menggantikan sistem kepemimpinan jahiliyah yang selama ini berlangsung di jazirah Arab. Kepemimpinan Rasulullah di Madinah otomatis menjadi tonggak baru bagi kepemimpinan peradaban Islam hingga beberapa abad setelahnya.

Isyarat kedua adalah adanya penegasan bahwa kepemimpinan Rasulullah adalah kepemimpinan manusiawi yang sesuai dengan fitrah manusia. Hal ini bisa dilihat ketika Rasul ditawari Jibril saat sampai di Baitul Maqdis, yaitu dua gelas minuman yang berisi susu dan khamar. Rasul pun memilih susu.

Ketika Rasul memilih susu, Jibril memberi komentar bahwa Rasul mendapat petunjuk untuk memilih yang sesuai dengan fitrahnya. Ini tidak lain mengabarkan kita bahwa agama Islam yang dibawa Rasul sesuai dengan fitrah manusia sepanjang masa.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA