Friday, 19 Safar 1441 / 18 October 2019

Friday, 19 Safar 1441 / 18 October 2019

Kepemimpinan Isra Mi’raj

Selasa 26 Mar 2019 07:39 WIB

Red: Elba Damhuri

Kaligrafi Nama Nabi Muhammad (ilustrasi)

Foto:
Isra Mi’raj Rasulullah sarat dengan pembelajaran kepemimpinan.

Kepemimpinan Islam adalah kepemimpinan yang manusiawi, bukan ilahiyah. Seorang pemimpin dalam Islam adalah mereka yang mendapat amanah dari rakyat untuk menjalankan syariah Islam bagi kebaikan seluruh umat manusia. Melalui mekanisme baiat, seorang pemimpin Islam berjanji untuk menerapkan Islam secara kaffah dan tidak mengikuti sistem hukum dan kepemimpinan jahiliyah.

Hal ini ditegaskan oleh Allah dan QS al-Baqarah ayat 208 yang berbunyi, \"Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.\"

Adapun isyarat ketiga dari peristiwa Isra Mi’raj adalah adanya penegasan bahwa Rasulullah adalah nabi akhir zaman untuk seluruh manusia. Rasulullah tidaklah sama dengan nabi-nabi sebelumnya yang diutus sebatas kepada kaumnya. Sementara Muhammad adalah nabi untuk seluruh dunia. Hal ini bisa dipahami dari peristiwa ketika Rasul berada di Masjidil Aqsha, atas kehendak Allah SWT seluruh nabi mulai Adam AS hingga Isa AS dihidupkan.

Beliau sempat berbicara dengan mereka. Di masjid ini, Rasulullah menjadi imam shalat jamaah khusus dengan makmum para nabi (Adz Dzahabi, Sirah Nabawiyah, hlm.154). Rasul menjadi imam shalat para nabi yang memimpin umat manusia dengan zaman yang berbeda-beda, suku yang berbeda-beda dan warna kulit yang berbeda-beda pula.

Hal ini menegaskan, misi kepemimpinan Islam menembus batas-batas negara, bangsa, warna kulit, suku, bahkan hingga agama. Itulah mengapa di Daulah Madinah, hidup pula orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai warga negara.

Moralitas kepemimpinan yang mulia memang tidak akan tumbuh sendiri, dibutuhkan sebuah mental kuat dan lingkungan yang kondusif. Dorongan dari orang-orang terdekat akan mampu menjadi energi positif bagi tumbuh kembang mental kepemimpinan ini.

Dalam sejarah, peradaban Islam telah banyak melahirkan kepemimpinan yang mulia dan Islami. Mereka tumbuh bersamaan dengan keluarga yang Islami, lingkungan dengan sistem Islam, dan ketakwaan masyarakat yang tinggi.

Dengan demikian, melalui peristiwa perjalanan Isra Mi’raj bangsa ini harus belajar tentang kepemimpinan. Kepemimpinan Islami yang mulia dan menyejahterakan lahir batin adalah pemimpin yang lahir dari sistem yang mulia juga.

Penerapan sistem Islam dalam sejarah peradaban Islam telah mampu melahirkan pemimpin yang selain menyerukan tauhid kepada Allah, juga memberikan kesejahteraan hidup bagi rakyatnya. Karena itu, selain memilih pemimpin yang Islami, bangsa ini tidak boleh melupakan kewajiban untuk membangun sistem yang Islami pula. Keduanya harus berjalan secara sinergi.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA