Saturday, 15 Sya'ban 1440 / 20 April 2019

Saturday, 15 Sya'ban 1440 / 20 April 2019

Libur Ramadhan: Dari Zaman Belanda, PPP, Daoed Joesoef

Kamis 21 Mar 2019 05:01 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Santri dan suasana pedesaan di Banten 1910-an.

Santri dan suasana pedesaan di Banten 1910-an.

Foto: Gahetna.nl
Jejak kontroversi soal ibur Ramadhan zaman Belanda, PPP, Daoed Joesoef.

Oleh Lukman Hakiem, Peminat Sejarah Mantan Staf Ahli  M Natsir dan Wapres Hamzah Haz

"ANAK-ANAK, kasih unjuk rapor kepada orang tuamu. Bagi yang naik kelas, boleh bersenang hati. Bagi yang tidak, boleh murung, asal tidak banyak-banyak. Ini merupakan pentung ke kepalamu, supaya lain kali belajar lebih baik. Sekarang kamu boleh pulang, sampai ketemu habis lebaran," kata menir van Daalen seraya mengusap batang hidungnya, suatu kebiasaan sebagian besar bangsa Belanda yang hidup di bawah permukaan laut.

Besoknya, beduk puasa berdentam-dentam. Lepas sahur anak-anak senewen itu masuk keluar kampung menabuh kaleng rombeng, kemudian duduk berjuntai di batang belimbing hingga lohor, sesudah itu tidur menelungkup menekan perut keras-keras ke ubin langgar hingga hampir Maghrib. Jika saat berbuka tiba, mereka nyaris menelan seluruh isi bumi. Tapi ini tidak berlangsung lama, sembahyang tarawih sudah menunggu, yang mereka lakukan sambil sekali-dua menyikut rusuk temannya.

Demikianlah kolumnis H. Mahbub Djunaidi mengawali tulisannya yang renyah di majalah TEMPO , 26 Mei 1979.

Di zaman Jepang, Mahbub memberi gambaran dalam tulisannya, tidak terjadi perubahan. Baik pemerintah kolonial Belanda maupun Jepang sama-sama tidak mau mengganggu urusan umat Islam. "Demi mencegah korsluiting dengan Islam," tulis Mahbub.

Barulah sesudah 33 tahun merdeka, ucapan guru berubah. Menjelang bulan puasa, pendidik itu tegak berdiri di depan kelas: "Anak-anak, sesuai dengan panggilan zaman, kamu dipersiapkan untuk berjalan-jalan dari planit ke planit, atau menyuruk jauh ke dalam perut bumi. Karena itu kamu musti belajar keras, tak terkecuali di bulan puasa. Satu hari terlewat berarti rugi dua puluh lima tahun."

Soal itulah kemudian oleh Mahbub dikisahkan dengan gayanya yang khas. Dia menggambarkan perkembangan kebijakan pemerintah mengenai libur sekolah di bulan Ramadhan atau bulan Puasa.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA