Jumat, 19 Ramadhan 1440 / 24 Mei 2019

Jumat, 19 Ramadhan 1440 / 24 Mei 2019

Tiket Pesawat Mahal Versus Sektor Pariwisata

Rabu 13 Feb 2019 09:41 WIB

Red: Elba Damhuri

Daftar tarif bagasi pesawat.

Foto:
Tiket pesawat untuk perjalanan dalam negeri tidak lagi menggoda.

Pada umumnya, mereka kelompok anak muda, independen. Keseluruhan subsegmen di atas adalah bagian dari total wisatawan nusantara Provinsi Sumbar yang menggunakan jasa maskapai penerbangan, termasuk bandara dan lainnya.

Pada umumnya, mereka dari luar Sumbar atau dari Pulau Jawa. Lalu, siapa segmen lain wisatawan nusantara? Dari riset simultan 2015-2018 oleh Lenggogeni dan Tourism Development Centre, sebagian besar berasal dari kabupaten kota yang ada di Sumatra.

Sekitar 66,6 persen Provinsi Riau, Bengkulu, Jambi yang notabene didominasi pengguna jalur darat. Artinya, sekitar 33,4 persen lainnya yang menggunakan jalur udara adalah empat subsegmen yang penulis sebut di atas.

Potensi terbesar adalah subsegmen perantau dengan motivasi mengunjungi teman/keluarga dengan dominasi menginap di rumah keluarga/teman bukan di hotel, kemudian subsegmen grup wisata yang menggunakan tour dan travel.

Selain itu, subsegmen solo traveler atau savytech yang jauh, berpotensi untuk berkontribusi di ekosistem industri wisata, seperti hotel dan UMKM. Tentu kembali lagi pada kemampuan/daya beli kelompok tersebut.

Bagaimana dengan kelompok MICE atau B-Leisure? Kelompok ini umumnya tidak terpengaruh karena keputusan berwisata MICE sifatnya terencana sehingga membeli tiket jauh hari sebelum keberangkatan dengan harga lebih murah.

Jadi, grup wisata dan solo traveller ini yang terdampak dalam transaksi ekonomi di ekosistem industri wisata yang mencakup hotel, restoran, UMKM, dan transportasi lokal.

Bagian ini jumlahnya sekitar 33, 4 persen dari total wisatawan nusantara sebanyak 5.191.182 perjalanan di Sumbar, di luar kelompok wisatawan yang dijelaskan di atas (pemerintah, masyarakat/outbound). Di samping memang Januari-Februari termasuk low season dalam siklus wisata Indonesia.

Solusinya bagaimana? Karena hampir dua per tiga wisatawan nusantara didominasi wisatawan tetangga Sumbar, seperti Riau, Bengkulu, Jambi, maka maksimalkanlah wisatawan sekitar tersebut untuk bertransaksi di industri wisata pada liburan tanggal merah.

Tentu, kabupaten atau kota harus membuat inovasi atraksi dan daya tarik baru di masing-masing destinasi unggulan. Kita berharap, pemerintahan kabupaten atau kota di Indonesia segera melakukan kesepakatan demi menyelamatkan ekosistem industri pariwisata yang terdampak.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA