Rabu, 17 Safar 1441 / 16 Oktober 2019

Rabu, 17 Safar 1441 / 16 Oktober 2019

Dari Nenek Sihir Hingga Medsos di Era Disrupsi Digital

Rabu 13 Feb 2019 05:01 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Pengadilan perempuan yang dituduh tukang sihir di abad pertengahan.

Pengadilan perempuan yang dituduh tukang sihir di abad pertengahan.

Foto: pinterest
Dahulu ada mantra sihir yang tersebar lewat medsos, kini ada sihir lewat medsos.

Oleh: Muhammad Subarkah, Jurnalis Republika

Setahun silam, saya menyusuri jalanan antara Italia menuju Montenegro dan wilayah semenanjung Balkan. Jalan raya lebar dan mulus karena jalan tol itu lintas negara. Kiri kanan tampak gunung berjejejeran di cakrawala. Seorang rekan dari Belanda memberi tahu ketika melihat jajaran gunung yang dari jauh melihat menghitam itu.'Itulah mengapa warga di sini menyebut Montenegro. Mount itu gunung. Negro hitam,'' katanya.

Mendengar pertanyaan kawan itu, saya pun mengangguk. Dari jauh  memang terlihat deretan pegunungan yang tertutup dalam bayang menghitam. Di beberapa puncak bukit terlihat kincir angin moderen yang seperti putaran sayap kapal terbang berdiri. ''Kincir angin itu untuk menggerakan turbin pembangkit listrik. Ini persis sama dengan yang di perbatasan Jerman sana,'' kata teman saya lagi. Lagi-lagi saya terpana dan mengangguk seraya berguman sendiri: canggih betul!

Namun, selepas dari jalan tol dan menyusuri jalanan umum menuju ibu kota Montenegro entah mengapa bulu kuduk ini mendadak meremang. Melihat bayangan rumah warga, kisah pangeran Italia yang mengejar-ngejar nenek sihir  (para penyihir) sampai ke Montenegro mendadak terkenang kembali. Dongeng lain tentang hantu Eropa 'drakula' juga hidup kembali. Saya semakin tertegun ketika melihat bentuk rumah bercerobong, rumah, pohon Murbai, dan jalanan desa di sana yang khas Eropa. Antara kagum dan ngeri serta mencekam karena suasana kala itu sudah meremang sore. Udara akhir semi yang sejuk membuat suasana semakin dingin 'ngelangut'.

Uniknya lagi, di sinilah saya teringat lagi baca buku yang berkisah tentang suasana abad pertengahan  'Magic and Superstition in Europe. Kisahnya memang agak berbeda dengan cerita penyihir yang dari pangeran dari Palermo Italia yang ada di majalah anak-anak legendaris 'Si Kuncung' yang serba utopia dan mengharu biru.

Namun dalam buku tersebut, kisahnya hampir sama yakni tentang suasana masyarakat Eropa ketika sibuk menghakimi kekuatan sihir sebagai lawan agama. Teologi Kristen memisahkan dengan tegas kekuatan yang berasal dari iblis dengan yang berasal dari kuasa trinitas.

Salah satu praktik perburuan penyihir (witch hunt) terbesar dalam sejarah Eropa misalnya terjadi di Skotlandia kurun tahun 1661-1662. Brian P Levack (2014) memaparkan, tidak kurang dari 660 orang tewas akibat aksi amuk tersebut membantai penyihir itu. Sebelum dihabisi, mereka digiring ke lapangan dengan tuduhan telah melakukan pelbagai ritual sihir.

Ketika berada di Montenegro dan sembari menatap deretan gunung yang kehitaman itulah kenangan masa kanak berkelebat kembali. Kisah perburuan nenek sihir yang bermula di wilayah perdesaan timur Edinburgh, Midlothian, dan Lothian Timur yang memakan begitu banyak korban seolah terhampar di depan mata. Awalnya, ada 206 orang yang dituding sebagai penyihir. Namun, amuk massa di Eropa meluas tidak hanya di ketiga daerah tersebut. Kala itu jatuh hingga 600 korban jiwa, sejarah mencatat sebanyak 206 di antaranya tewas akibat dibakar hidup-hidup.

Dan teknik memberantas penyihir ini memang mirip pembantaian dukun santet menjelang era reformasi dahulu di Banyuwangi. Kala itu juga banyak orang yang dituduh sebagai tukang sihir (dukun santet dan tukang tenung) dipancung dan mayatnya diseret-seret di jalanan memakai sepeda motor memang tak jauh beda.

Semangatnya, sama dengan suasana dengan abad Pertengahan yang ingin “membersihkan” masyarakat Eropa dari pengaruh sihir. Penulis Nachman Ben-Yehuda melalui artikelnya, “The European Witch Craze of the 14th to 17th Centuries: A Sociologist's Perspective” mendapatkan angka yang yang terbunuh dalam pembantaian penyihir sungguh mencengangkan. Sama sadis dan brutal dengan tragedi dukun santet di Banyuwangi itu (dan juga Tasikmalaya).

Mengapa? Ya banyangkan saja dalam rentang abad ke-14 sampai 1650, sebanyak 200 ribu hingga 500 ribu penyihir mati akibat aksi massa 'anti sihir' di daratan Eropa . Mayoritas atau sebesar 85 persen di antara para korban amuk itu merupakan perempuan. Dalam kisah saya baca di majalan kuncung itu digambarkan sebagai nenek sihir yang terbang ke sana kemari dengan naik sebuah sapu lidi. Kenangan atas sosok ini persis sama dengan hambaran masa kini yakni kisah para murid sekolah sihir teman-temannya Hary Potter bertanding belajar terbang dengan sapu.

Namun, seiring dengan mencuatnya teknologi penyiaran dan ditemukannya mesin cetak, sihir terus bersalin rupa atau mengalami pergeseran makna. Memasuki awal abad industri, praktik-praktik sihir (magic) menjadi bagian dari bisnis pertunjukan hiburan.

Pesulap Amerika Serikat, Eugene Burger, menguraikan pendapatnya dalam buku 'Performing Magic on the Western Stage'. Dia mengakui, sihir sudah sejak zaman purba dipandang sebagai praktik jahat. Akan tetapi, lanjutnya, di luar kepercayaan agama Islam, Kristen, dan Yahudi, sihir telah diterima sebagai seni. “Ini utamanya karena upaya-upaya para pengiklan dan pemasaran,” ujar pria kelahiran 1939 tersebut.

Salah satu raksasa industri hiburan yang berjasa mengangkat nilai jual sihir adalah 'The Walt Disney Company' dan rekan-rekan. Korporasi-korporasi semacam itu meyakini, sihir mengungkapkan hasrat terdalam setiap orang.

Dengan sihir sebagai seni, Burger meneruskan, penonton mengalami kesenangan atau ketegangan (suspense) yang terpuaskan karena tidak memerlukan upaya-upaya rasional apa pun, meskipun itu hanya sesaat.

Nah, sihir terus berlanjut hingga era disrupsi digital dan media sosial sebagai sihir masa milenial yang canggih. Beda dengan zaman dahulu ketika sihir selalu repot di bawa-bawa pakai mantra 'abrakadabra' atau ke mana-mana di bawa nenak tua dengan naik sapu lidi, kini cukup lewat ujung jempol lalu mendunia dengan jaring satelit.

Dan caranya pun mudah saja, tak harus orang tua atau nenek-nenek, cukup seorang anak kecil yang belum sunat pun bisa melakukannya. Sihir sekarang jauh sangat memukau dan mempesona. Dahulu mungkin hanya para Alkemis yang hendak menyihir perunggu menjadi emas, tapi sekarang layaknya hikayat Raja Midas apa pun yang disentuh tangan sihir 'milenial' itu 'seakan' langsung berubah menjadi emas. Istilah Jawanya 'wingko koyo kencono' (koral terlihat layaknya permata)

Hebatnya, lagi di zaman disrupsi digital ini ada cara baru yang membuat perburuan kekuasaan tampak makin terkesan hanya sekedar menjadi dereten jumlah angka. Hebatnya semua tersihir survei atas nama-nama angka-angka dalam jumlah suara rakyat bertebaran menjadi sihir baru.

Imbasnya pun sama dengan situasi zaman pertengahan. Berkat sihir di zaman dahulu di mana telah ribuan ratusan orang terbantai di Eropa, sedangkan sekarang berkat sihir digital telah pula membantai jutaan orang di dunia, seperti di Timur Tengah dan Afrika. Sihir media sosial 'tweeter' misalnya sempat membunuh begitu banyak orang dan meruntuhkan rezim, serta menciptakan 'Drakula' masa kini, yakni ISIS.

Jadi apa bedanya sihir melalui sapu lidi nenek sihir di Eropa zaman dahulu dengan sihir milenial melalui media sosial dan survei di masa kini. Di sini terbukti, sebenarnya memang tak ada yang baru di bawah sinar matahari!



 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA