Wednesday, 17 Ramadhan 1440 / 22 May 2019

Wednesday, 17 Ramadhan 1440 / 22 May 2019

Sebuah Panggilan untuk Indonesia

Selasa 09 Oct 2018 09:52 WIB

Red: Elba Damhuri

Hukuman Mati/ilustrasi

Foto:
Zulfiqar Ali nyaris dieksekusi mati padahal dia tidak bersalah

Pada Juli 2016, Ali masuk daftar tahanan yang akan dieksekusi mati. Ia dipindahkan ke Nusakambangan bersama dengan 13 orang lainnya yang juga disiapkan menghadapi regu tembak.

Setelah mendengar tentang kasus ini, presiden ke-3 BJ Habibie mengirimkan surat ke Presiden Joko Widodo meminta agar nyawa Ali dapat diselamatkan.

Pada detik-detik terakhir, saat Ali sudah dipersiapkan menghadapi regu tembak, dan telah membaca doa terakhir serta mengucapkan perpisahan kepada keluarganya, Ali bersama dengan sembilan orang lainnya dikembalikan ke selnya, tanpa alasan apa pun.

Malam itu, ia lolos dari hukuman mati. Pihak berwenang menjanjikan pengkajian ulang kasus-kasus mereka yang tidak jadi dihukum mati, tapi sampai sekarang belum ada berita apa pun tentang pengkajian tersebut di ranah publik.

Ali terus menderita di tengah sanksi hukuman matinya. Perlakuan terhadap Ali sebelum sidang pertamanya telah menyebabkan cedera dan luka dalam yang membahayakan hidupnya. Selama bertahun-tahun kondisi Ali semakin memburuk.

Pada Desember tahun lalu, Ali mendapat informasi bahwa ia mengidap penyakit kanker hati stadium 4 dan hidupnya tinggal beberapa bulan lagi. Ali meminta grasi pada Maret 2018. Permohonannya tidak memperoleh jawaban.

Zulfiqar Ali meninggal dunia pada 31 Mei 2018. Sampai akhir hayatnya, Ali tetap menyatakan bahwa dirinya tidak bersalah. Keluarganya terus berkampanye untuk pengampunan bagi Ali.

Kasus Ali mengingatkan penulis pada sebuah kesalahan dalam proses peradilan yang berujung pada perdebatan besar di Inggris mengenai hukuman mati. Timothy Evans dihukum gantung pada 1950 atas pembunuhan terhadap istri dan anak bayinya di rumah keluarganya.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA