Monday, 25 Zulhijjah 1440 / 26 August 2019

Monday, 25 Zulhijjah 1440 / 26 August 2019

(Masih) Seputar Pelemahan Rupiah

Senin 03 Sep 2018 08:02 WIB

Red: Elba Damhuri

Sunarsip

Foto:
Sumber rentannya ekonomi kita sebenarnya telah dimulai sejak 2015.

 

Penurunan harga komoditas berimbas pada pelemahan kinerja ekspor pada 2015 dan 2016. Selama 2015 dan 2016, neraca perdagangan kita memang masih surplus. Namun, surplus tersebut lebih banyak disebabkan pelemahan pertumbuhan impor yang lebih besar daripada pelemahan pertumbuhan ekspor.

Pada 2016 dan 2017, arus modal asing masuk cukup besar karena banyak korporasi, swasta maupun BUMN, menerbitkan surat berharga. Dana hasil penerbitan surat berharga tersebut digunakan untuk mendukung investasi.

Investasi korporasi swasta terutama diarahkan untuk memanfaatkan momentum kenaikan harga komoditas. Sedangkan, investasi BUMN diperkirakan diarahkan untuk mendukung kegiatan infrastruktur. Dan terbukti, sejak 2016, investasi kita tumbuh tinggi (di atas 6 persen).

Konsekuensi dari pertumbuhan investasi yang tinggi, kenaikan impor pun tidak tertahankan. Kini, neraca perdagangan kita mengalami defisit. Defisit ini bukan disebabkan oleh pertumbuhan ekspor yang lemah, tetapi disebabkan oleh pertumbuhan impor yang jauh lebih tinggi dari pertumbuhan ekspornya.

Saya berpendapat bahwa rentetan kejadian selama 2015-2017 inilah yang menjadi sumber kerentanan secara internal terhadap nilai tukar rupiah saat ini. Kerentanan internal ini lalu menemukan “momentumnya” karena pada saat yang sama faktor eksternal juga mengalami gejolak.

Kenaikan suku bunga acuan the Fed, perang dagang AS, dan kebijakan EM lainnya dalam merespons kebijakan AS pada akhirnya membuat pasar keuangan kita ikut terseret. Akibatnya, kini terjadi capital outflow yang cukup besar dan menekan nilai tukar rupiah.

Kebijakan moneter melalui kenaikan suku bunga acuan dan intervensi pasar memang memperlihatkan hasilnya. Sayangnya, efektivitasnya tidak berlangsung lama. Terbukti, pascakenaikan suku bunga acuan yang telah beberapa kali dilakukan, rupiah masih mengalami pelemahan. Kebijakan penurunan impor yang digagas pemerintah adalah hal yang positif, sekalipun perlu dilakukan secara selektif agar tidak salah sasaran.

Namun, berbagai kebijakan ini tidak cukup mampu membendung perilaku pelaku pasar uang yang lebih banyak merespons dinamika eksternal daripada kebijakan internal pemerintah dan BI. Pelaku pasar terlihat belum yakin bahwa kebijakan yang dilakukan otoritas ekonomi kita akan mampu menghadapi dinamika eksternal, terutama terkait isu perang dagang yang dilontarkan AS.

Seperti saya sampaikan di harian ini (2 Juli 2018), pergerakan nilai tukar mata uang di sejumlah EM ini cakupannya sudah mengglobal. Kita sedang menghadapi AS yang kini sedang ingin menjadi “great again”. Oleh karena itu, saya berpendapat bahwa penanganan krisis mata uang juga tidak bisa dilakukan secara parsial (piece by piece) oleh masing-masing negara.

Hampir sama dengan ketika dunia mengantisipasi dampak krisis keuangan AS pada 2008 lalu, negara-negara yang kini terdampak oleh ambisi AS menjadi “great again” perlu meningkatkan kerja samanya untuk menjaga stabilitas nilai tukar global. Kesimpulannya, saya menyarankan agar BI dan pemerintah berinisiatif mengajak EM lainnya agar bertindak bersama-sama dalam mengatasi krisis nilai tukar global ini.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA