Friday, 19 Ramadhan 1440 / 24 May 2019

Friday, 19 Ramadhan 1440 / 24 May 2019

Ketika Modric Tersenyum, Hapuslah Duka Darah Perang Balkan

Senin 16 Jul 2018 12:02 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Eksperi Luka Modric dan Zlatko Dalok ketika menjalani pertandingan dalam putaran Final Piala Dunia di Rusia

Eksperi Luka Modric dan Zlatko Dalok ketika menjalani pertandingan dalam putaran Final Piala Dunia di Rusia

Foto: Sportilustrated
Prancis dan Kroasia semua sejatinya juara karena pemainnya berhasil meleweti derita.

Oleh: Muhammad Subarkah, Jurnalis Republika

Semua orang tahu Luka Modric pemain hebat. Kiprahnya mentereng sejak dari klub lokal di Kroasia, sampai grup raksasa, semacam Real Madrid yang jadi langganan juara Liga Spanyol hingga Liga Champion Eropa. Bahkan kini (semalam dalam final Piada Dunia di Rusia), Modric menjadi pemain terbaik. Gelar ini empat tahun silam disematkan kepada bintang Argentina dan maskot di tim Barcelona, Lionel Messi.

Cuma bedanya Modric menerima gelar itu dengan tersenyum. Tidak terlihat ekspresi cemberut meski teamnya kalah dari Prancis. Ia tersenyum lebar ketika berfoto bersama Mbappe yang ditetapkan sebagai pemain muda terbaik.

Selain itu selama dan sesudah pertandingan, ekspresi Modric cerah. Memamg terlihat ada kesedihan setelah kalah, namun tampak tak terlalu lama. Dia bergerak bebas serta entang saja. Lagi-lagi berbeda dengan perilaku Messi kala itu yang terlibat banyak beban dan bersikap harus menjadi juara untuk mengokohkan dirinya menjadi puncak legenda sepakbola melangkahi Diego Mardona atau Ronaldo. Sikap ‘keberatan beban’ dari Messi juga masih terlihat dalam pertandingan putaran Final Piala Dunia 2018 ini. Apalagi karena dibeli Barcelona sejak masih kecil, Messi terlanjur digadang-gadang sebagai anak ajaib.

Memang masa kecil Modric dan Messi hampir sama, yakni keduanya berasal dari keluarga yang papa. Namun Messi lebih beruntung. Dia terlanjur dianggap bocah kecil ajaib asal Argentina. Ini terbukti dengan dicomotnya dia ke pusat pelatihan pesekbola Barcelona sejak masa kanak. Modric jalan hidupnya berbeda. Dia tak seberuntung Messi. Dia malah anak yang terlahir dari medan derita yang sesungguhnya, yakni medan perang dan pembantaian perang saudara di wilayah bekas negara kesatuan yang disebut Yugoslavia. (Lihat video masa kecil Modric yang ada di bagian bawah tulisan ini)

photo

Luka Modrick dan Killyan Mbappe.

Kalau dilihat langsung di ibu kota Kroasia, jejak luka yang dialami generasi Modric tetap terasa. Pusat kotanya indah. Turis dari berbagai negara lancar berkunjung. Orang asing akan melihat berbagai situs bangunan, melihat lukisan, hingga bernyanyi gembira bersama-sama sebuah kelompok penyanyi di sebuah lapangan pusat terbuka: San Marco.

Masa kanak Modric memang berbeda dengan suasana Kroasia sekitar dua puluh tahun kemudian. Negeri yang pada tahun 1990-an awal hancur akibat perang kini tumbuh negeri yang cukup makmur. Pendapatan perkapitanya sekitar 24.000 dolar AS (bandingkan dengan Indonesia yang hanya sekitar 3.000 dolar AS).

photo

Ekspreso Messi ketika ditetapak sebagai pemain terbaik di Final Piala Dunia 2014.

Penduduk negara itu sedikit, tapi terasa terurus, yakni sekitar 4,3 juta orang. Punya Presiden yang pintar dan cantik. Kroatia layaknya Indonesia ada beberapa agama. Dan Katolik Ortodok menjadi agama mayoritas warganya. Setiap hari minggu mulai pagi terdengar lonceng gereja berdentangan. Meski begitu di Zagreb ada Islamic Center yang megah dan besar. Pengaruh imperium Otoman Turki terasa di sana.

Namun, kemakmuran yang kini dapat baru datang belakangan. Modrick semasa kecil mengalami apa yang disebut penderitaan yang sesungguhnya. Salak senjata, bom, hingga roket ada di sekitarnya. Dia sempat hidup jadi pengungsi. Ayah dan kakeknya di tembak mati oleh tentara penyerbu Kroasia yang berasal dari Serbia.

Uniknya, berbeda dengan seikarang di final Piala dunia 2018, kala timnas Kroasia era Boban dan David Suker kalah dalam psemi final Piala Dunia 1998-an, Modrick kecil menangis keras-keras. Kala itu juga Kroasia takluk sama team Prancis: 2-1. Modric merasa harapan dan kebanggaannya sebagai orang Kroasia hilang seketika. Dia sama sekali tak tahu, bila 20 tahun kemudian nasib akan bicara lain, ikut menjejakkan kakinya di final Piala dunia. Meskipun gagal meraih juara, capaian prestasinya lebih hebat dari apa yang diperoleh para ‘generasi emas’ semacam Boban, Bilic, David Suker, dan lainnya itu.

Di negeri bekas Joseph Broz Tito, tak hanya Kroasia saja bila peninggalan masa Yugoslavia yang masih terjaga. Hal itu adalah fasilitas olah raga, stadion, hingga akademi olah raga. Kemampuan Modric diasah di sana. Masyarakatnya pun mendukungnya.

Fasilitas olah raga selalu terlihat di tempat pelosok di negara itu. Bertebaran tempat yang hijau dan lapang sebagai wadah warga berolah raga atau bercengkerama. Misalnya di negara tetangga Kroasia, yakni di ibu kota Bosnia, Sarajevo. Di sana  tak jauh dari masjid yang di bangun atas prakarsa Presiden Soeharto, ada stadion sepakbola mini. Masjid itu pun terletak di tengah wilayah yang terbuka. Suasana makin menyenangkan karena berada diapit oleh perbukitan sebagai ciri kota Sarajevo yang pernah menjadi kota penyelenggara Olimpiade musim dingin 1982.

Selain itu, kepiawaian Modric juga meneruskan kebolehan pendahulunya yang sudah ada sejak zaman Yugoslavia. Sejak zaman itu, para pemain team nasional dari negara persatuan Balkan itu didominasi dari orang-orang Kroasia. Kluk sepakbola lokalnya yang terkenal adalah Dinamo Zagreb. Klub ini begitu ikonik. Dan Modric dahulu berasal dari klub itu.

Di Zagreb pun sisa penderitaan akibat perang masih terasa. Para generasi muda yang menjadi pemain Kroasia sekarang pun tetap merasakan imbasnya. Modric mengaku gelegak kejamnya perang tetap ada dalam ingatannya, namun dia berusaha tidak menjadikan beban hidupnya.

Generasi yang lebih tua dari Modric dan jelas mengalami perang dalam usia yang lebih dewasa, pun bersikap bisa berdamai dengan masa lalu. Pelatih Kroasia Zlatko Dalic jela merasakannya. Apalagi disebut-sebut saat perang tinggal di kawasan Bosnia.

Namun begitu, perang tampaknya mendewasakannya. Ini tampak jelas setelah kalah dalam final oleh  Prancis, Dalic dengan ringan hati mengucapkan selamat. Terlihat dalam tayangan dia kecewa, tapi terlihat tegar dan tak cemberut sembari memeluk erat satu persatu anak buahnya. Dia bisa berbincang dengan luas hati, baik ketika berbicara dengan Modric dan teman-temannya, hingga dipeluk serta berdialog dengan presiden Kroasia saat maju di podium.

"Pertama-tama, saya ingin mengucapkan selamat pada Prancis. Kami sedih tapi pada saat yang sama juga bangga,” kata Dalic. Dia mengatakan anak-anak asuhnya telah bermain baik. Namun, gol dari titik penalti yang dilesakkan oleh Antoine Griezmann menjauhkan keberuntungan dari timnya.

‘’Setelah gol pada menit ke-38 itu, pertandingan berlangsung sangat sulit bagi Kroasia. Kami sangat ingin memenangi Piala Dunia, tetapi inilah sepak bola,” kata dia. Dalic menambahkan penampilan Prancis tidak membuat skuatnya terkejut. Ia mengatakan, kekalahan tersebut berasal dari sejumlah kesalahan yang dilakukan para pemainnya. “Kami membiarkan dua gol mudah, satu gol bunuh diri, dan satu lagi penalti,” kata dia.

Les Blues awalnya unggul ketika penyerang Kroasia, Mario Mandzukic, menyundul bola tendangan bebas Antoine Griezmann untuk masuk ke gawangnya sendiri pada menit ke-18. Namun kemduian Ivan Perisic sempat menyamakan kedudukan melalui tembakan kerasnya sepuluh menit kemudian.

Jadi bila sekarang Modric dan kawan-kawannya dengan lapang dada menerima kekalahan, itu jelas bukan hal yang serta merta. Mereka semua sudah ‘khatam’ serta merasakan apa itu derita dan apa itu bahagia dalam hidupnya. Bagi yang paham serta pernah ke Kroasia akan tahu suasana berat itu. Kroasia adalah cermin bangsa yang tabah.

Dan inipun sebenarnya juga sama dengan para pemain team Prancis masa kini. Mereka rata-rata berasal dari keturunan kaum imigran. Mereka pasti pernah juga mengalami derita hidup: ancamman kekerasan, perlakuan diskriminasi, hingga kemiskinan. Mereka bukan berasal dari kota elit, seperti Paris. Mereka tinggal di kota yang banyak ditinggali kaum imigran, seperti pendahulunya Zidane yang keturunan Aljazair dan tinggal di Marseille.

Jadi baik Kroasia dan Prancis, semalam memang sejatinya semua juara!

 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA