Selasa, 16 Safar 1441 / 15 Oktober 2019

Selasa, 16 Safar 1441 / 15 Oktober 2019

Utang dan Kedaulatan

Jumat 25 Agu 2017 00:03 WIB

Red: Agus Yulianto

Roseno Aji Affandi

Foto:

The bordeless world = globalisasi.

Dalam perdagangan international sistem dan standart yang digunakan adalah WTO. Implementasi peraturan dalam WTO merupakan Implementasi dari Globalisasi. Semua negara yang meratifikasi semua aturan yang tercantum dalam WTO bahwa semua hambatan baik tarif dan nontarif harus di laksanakan dengan waktu yang ketat dan sangsi yang berat (Didin S Damanhuri 2009).

Peluang globalisasi bagi Indonesia dan negara-negara maju adalah besarnya jumlah penduduknya 238 juta dengan pendapatan perkapita Rp 17,9 juta/tahun ( Miyasto 2009). Sebuah potensi pasar yang menarik baik dari market size dan buying power. Besarnya potensi maritim, dan cadangan kekayaan mineral. Dalam sebuah arsitektural global supplya chain Indonesia memiliki potensi baik sebagai resource dan market center. Indonesia dapat difungsikan sebagai expense center, revenue center atau bahkan profit center bagi pemain-pemain ekonomi global.

Tantanganya adalah kesiapan baik dari segi kapital, SDM, dan Teknologi. Bahkan Teknologi menjadi ujung tombak dari kesuksesan sebuah negara dan warganya untuk menjadi bagian dari masyarakat dalam sistem globalisasi ini. Technology is a source of domination ( Susan Strange, Market and State).

Ancaman  dalam sistem globalisasi bagi Indonesia tidaklah kecil. Beberapa dampaknya pernah kita alami. Luasan dampaknya bisa mencapai pada tahap multidimensi. Baik ekonomi, politik dan sosial.

Pada sebuah sistem keuangan international. Beberapa pengalaman telah membuktikan terutama di awal reformasi dan pada tahun 2008. Sebuah sistem keuangan dalam negeri yang bisa dihancurkan oleh kekuatan dari luar negeri. Mata uang Rupiah jatuh nilainya terhadap dollar Amerika dari Rp 2.350 pada pertengahan 1997 menjadi Rp 17.000 dan kemudian dikenang sebagai krisis moneter 1998. Krisis minyak bumi pada 2007 yang berdampak pada naiknya harga BBM. 

Di era tahun 2007, harga minyak awalnya stabil di kisaran 60 sampai 70 dolar AS per barrel. Namun langsung naik menjadi 147 dolar perbarrel di Juli 2007. Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) saat itu Aslim Tadjudin menyampaikan akibat lonjakan harga minyak dunia di harga BBM dalam negeri harus naik hingga 100 persen (detik.com).

Krisis subprime mortgage, pada 2008 sebuah krisis kredit perumahan yang terjadi di Amerika Serikat berdampak secara serius di pereknonomian Indonesia. Sebuah krisis di luar negeri, berdampak langsung terhadap ekonomi dalam negeri. Kondisi-kondisi ini menunjukan bahwa rentanya keadaan ekonomi Indonesia terhadap gejolak ekonomi dunia (Miyasto 2009). Potensial gejolak inilah yang akan bisa berdampak pada gejolak multidimensial. Artinya, kedaulatan sebuah bangsa bisa terancam dengan nyata apabila management hubungan ekonomi luar negeri dan implementasi kekuatan dalam negeri tidak berjalan dengan baik.

Bagaimana sebuah kedaulatan bangsa bisa dipengaruhi oleh utang luar negri?

Berdasarkan dictionary.com kedaulatan atau sovereignty is supreme and independent power or authority in government as possessed or claimed by a state or community. Berdasarkan pengertian tersebut. Terdapat kalimat kunci berupa otoritas pemerintah yang diakui oleh komunitas atau negara. Pemerintah tersebut memiliki kekuasaan secara merdeka dan mandiri. Mandiri dan merdeka artinya tidak bisa dipengaruhi oleh kekuatan di luar itu.

Pada sebuah sistem perdagangan dan keuangan international. Sebuah negara sudah tidak berdiri sendiri, mereka telah mengikatkan dirinya dalam sistem tersebut dan mengurangi independenya terhadap faktor-faktor fluktuasi harga supply/demand dan mobilitas arus moneter. Arus moneter ini berasal dari negara-negara maju yang telah memiliki cadangan dana-dana menganggur baik dari dana pensiun, asuransi dan tabungan negara yang tersimpan dalam bank sentral. Semakin besar dana yang tersimpan semakin besar kemampuan negara untuk menggerakan pasar keuangan international. 

Permasalahan yang muncul adalah besarnya gap antara arus moneter yang jauh lebih besar dibandingkan dengan arus barang dan jasa. Arus barang dan jasa adalah real economy. Aktivitas menciptakan sesuatu yang menghasilkan nilai tambah langsung dalam bentuk produk dan jasa. Secara intrinsik bisa dengan mudah di valuasi nilai dan harganya. Hal ini menurut Peter Drucker ketidak seimbangan arus barang/jasa dengan arus moneter di istilahkan decoupling. Pertumbuhan arus uang yang hampa karena tidak diimbangi dengan arus barang/jasa atau ekonomi riilnya.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA