Saturday, 18 Zulhijjah 1441 / 08 August 2020

Saturday, 18 Zulhijjah 1441 / 08 August 2020

Kanibalisme Pendidikan

Jumat 05 Aug 2016 09:28 WIB

Red: M Akbar

Syafbrani

Syafbrani

Foto: istimewa

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Syafbrani (Ayah Rumah Tangga dan Pemerhati Pendidikan)

Mahasiswa membunuh dosen. Masih ingat salah satu kabar duka dunia pendidikan yang hadir tepat di Hardiknas beberapa bulan lalu? Ketika berita tragis tersebut menjadi trending topic di berbagai media. Ada suara kecemasan dan tak percaya yang bertebaran. Sayangnya suara-suara tersebut kini seakan hilang. Kemudian datang lagi seiring hadirnya kasus baru.  

Jika kita ingin refleksi sejenak. Dalam pendidikan, kisah sedih ini bukanlah hal yang baru. Di usia dini, anak sudah dipaparkan dengan situs pornografi dan game online yang berbahaya. Waktu bermain tersita. Tugas belajarnya seperti anak dewasa. Nyanyiannya tidak lagi tentang balon, tapi tentang putus cinta. Kepribadian mereka dibunuh.

Di sekolah, anak hanya dijadikan pelampiasan hasrat target kebijakan. Setiap hari harus siap diterkam oleh berbagai pelajaran. Suka atau tidak harus dipelajari. Bahkan disaat gurunya tidak mengerti. Karakter mereka dibunuh.

Di kampus, mahasiswa disibukan mengejar target akademik. Hedonisme sudah menjadi bagian hidup. Pergaulan bebas sudah memuncak. Aborsi marak. Senioritas dijunjung tinggi, adik kelas siap ‘diuji.’ Kepekaan mereka  dibunuh.

Pada akhirnya,  kalaupun mereka lulus dari rahim pendidikan yang demikian. Keberadaaannya tidak lebih hanya sebagai pemangsa sesama. Semakin buas. Kebuasan itu kalau dalam bahasa halusnya bisa diterjemahkan menjadi korupsi, plagiasi, dan sejenisnya. Sebuah sikap yang sama sekali jauh dari harapan.

Akibatnya walau secara statistika, angka partisipasi pendidikan meningkat. Namun kita ringkih mencari pribadi yang berintegritas. Bahkan hanya untuk mencari satu orang pemimpin saja susah. Ada rasa kekhawatiran dan ketidakpercayaan. Hanya saja dalam kondisi demikian kita lupa untuk bersedih. Kesedihan biasanya hanya terasa  ketika kematian itu sudah dikonversikan dengan nyawa.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA