Thursday, 14 Rajab 1440 / 21 March 2019

Thursday, 14 Rajab 1440 / 21 March 2019

Politisi di Antara Retorika dan Ketidakjujuran

Kamis 21 Feb 2019 09:56 WIB

Red: Karta Raharja Ucu

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump

Foto: AP Photo/Andrew Harnik
Kelihaian seorang politisi beretorika penuh keindahan palsu

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Imam Shamsi Ali*

Ada yang menarik dari pidato tahunan Presiden Amerika, Donald J Trump, di join session kongres beberapa waktu lalu. Dari konten pidato hingga sikap lahir (body language) semua yang hadir di ruangan itu penuh makna.

Secara konten seolah apa yang disampaikan Trump sangat meyakinkan, penuh harapan dan optimisme. Dengan gaya dan retorika yang cukup baik nampak menjanjikan.

Dari ekonomi hingga ke isu keamanan Trump seolah ingin meyakinkan bahwa pemerintahannya cukup berhasil. Bahkan terkadang tanpa disadari disampaikan dengan gaya angkuh jika capaiannya melebih capaian semua presiden terdahulu.

Kita teringat ketika Donald Trump menyampaikan hal yang sama dengan gaya yang sama pada pidatonya di gedung Perserikatan Bangsa-Bangsa tahun lalu. Serentak penyampaian itu mengundang gelak tawa para kepala negara/pemerintahan yang hadir. Pidato Trump itu menjadi sebuah lelucon yang cukup menggelikan.

Sejak pidato yang dianggap sebagian sebagai lelucon yang menggelikan itu, berbagai peristiwa menggelikan pun berlanjut. Trump bersikukuh untuk membangun pagar di perbatasan bagian selatan Amerika dan Meksiko. Dan ini merupakan janji politiknya yang memang lucu.

Sejak awal diluncurkan, Trump menjanjikan bahwa pembangunan pagar itu akan dibayar atau dibiayai oleh Meksiko. Belakangan mendapat resistensi keras dari pemerintah Meksiko. Trump kemudian menggeliat mencari penafsiran lain dari janji itu.

Gara-gara ketidak sepakatan dengan Kongress dalam hal biaya pembangunan pagar dalam anggaran negara (budget), Donald Trump kemudian menutup pemerintahan federal terpanjang dalam sejarahnya.

Bahkan menurut perkiraan kerugian dari “shut down” lebih sebulan itu mencapai 6 miliar dolar AS, bahkan lebih. Artinya kerugian itu jauh lebih besar dibanding dana yang diminta Trump untuk membangun pagarnya.

Mungkin yang lebih menggelikan kemudian adalah ambisi untuk membangun pagar itu ditafsirkan sebagai “darurat nasional” atau national emergency. Maka dengan otoritas “eksekutif” yang dimilikinya Trump kemudian memutuskan untuk mendklarasikan “darurat nasional” untuk membangun pagar itu.

Artinya karena situasi darurat itu dana yang diperlukan untuk membangun pagar itu akan diadakan dengan mencomot sebagian dari anggaran di bidang-bidang lainnya. Termasuk di dalamnya anggaran militernya.

Tentu kebijakan ini menimbulkan reaksi keras, tidak saja dari kalangan oposisi (Demokrat). Tapi juga dari kalangan Republikan yang masih rasional dan melihat bahwa keputusan deklarasi darurat ini adalah adalah keputusan yang tidak berdasar.

Mungkin oposisi terkuat yang tidak disuarakan (silent opposition) justru datang dari kalangan militer Amerika, termasuk departemen intelijennya. Kita mengenal kepala intelijen Amerika dalam acara dengar pendapat (hearing) di kongres sudah menyampaikan pendapat yang berseberangan dengan sang presiden.

Akibatnya santer terdengar presiden Trump berencana memecat kepala inteligen, Dan Coats, dari posisinya yang dijabat sejak tahun 2017 lalu. Tentu hal ini mengakibatkan ketegangan baru dalam pemerintahan.

Ketegangan demi ketegangan memang bukan hal aneh lagi di pemerintahan Donald Trump. Sejak terpilihnya menjadi presiden Amerika, di masa Donald Trump inilah dalam sejarah Amerika terjadi “pemecatan” atau “penguduran diri” kabinet atau pejabat tinggi negara terbanyak.

Belum lagi isu keterlibatan Rusia dalam memenangkan Donald Trump menjadi presiden Amerika. Dalam kasus ini saja sudah berapa anggota tim kampanye Trump yang ditangkap, termasuk mantan Ketua kemenangan kampanye (Manafort), mantan lawyer (Cohan) dan juga penasehat senior dan teman dekatnya (Mr. Stone).

Bahkan yang terakhir ini di berita utama New York Times disampaikan Donald Trump meminta kepada Acting AG untuk menyangkut jaksa dari kalangan pendukungnya untuk menangani kasus mantan lawyernya, Mr. Cohen. Berita yang kemudian diingkari oleh Donald Trump dan dituduhkan sebagai fake news. Tapi jika hal itu terbukti maka sudah pasti dapat menjadi pelanggaran serius yang mengarah kepada impeachment (pemecatan) sang presiden.

Masyarakat Amerika memang sedang dalam drama. Dan drama itu akan terus berlangsung hingga hadirnya presiden yang presidential (punya karakter dan integritas sebagai presiden). Yang pasti Donald Trump memang telah menjadi presiden Amerika yang bersejarah. Apapun bentuk sejarah itu, Donald Trump memang ingin menjadikan segalanya sebagai “jalan kepopuleran”. Bukankah yang kita kenal dari dulu memang itulah Donald Trump?

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA TERKAIT

 

BERITA LAINNYA