Friday, 17 Jumadil Akhir 1440 / 22 February 2019

Friday, 17 Jumadil Akhir 1440 / 22 February 2019

Fenomena Rocky Gerung dan Apa Itu Akal Sehat?

Selasa 29 Jan 2019 05:03 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Rocky Gerung. (ilustrasi)

Rocky Gerung. (ilustrasi)

Foto: Antara/Harry T
Bagi Rocky konsep penguasa harus diuji dengan kontradiksi

Oleh: Dr Syahganda Nainggolan, Pendiri Sabang Merauke Circle

Seorang pejabat tinggi negara mengirimkan video pidato Rocky Gerung (RG) selama tigs menit lebih ke WA saya sambil mendecak kagum, luar biasa. Saya menonton video itu, kuliah RG dihadapan belasan ribu alumni perguruan tinggi (PT) se Indonesia, di daerah Taman Mini, Sabtu lalu.

Saya sendiri tidak bisa hadir karena jadwal saya bentrok dengan jadwal lunch dengan Anies Baswedan.

Mungkin pidato RG itu terpotong, tapi dalam tiga menitan itu saya dapat mengambil sari daripadanya, yakni:

Pertama, Alasan utama RG datang di forum alumni PT itu adalah mengembalikan akal sehat di negeri ini.

Sebagai masyarakat berpendidikan tinggi, RG mengatakan bahwa demokrasi itu adalah pemerintah akal (government of reason) melalui pemerintah rakyat (government of people). Maka orang-orang  yang kurang berakal, apalagi melibatkan orang-orang gila dalam berdemokrasi, menurutnya adalah sebuah ketidakwarasan.

Kedua. Universitas saat ini gagal menjalankan fungsi dan keberadaannya sebagai pusat distribusi akal pikiran. Padahal keberadaan kampus, sesuai desainnya,  seharusnya mampu sebagai sumur akal pikiran. Akal pikiran itu artinya mempunyai kritik terhadap kekuatan dominan. Sayangnya kampus saat ini menjada pusat "grasa-grusu"  alias abal-abal.

Ketiga. Pentingnya akal pikiran karena akal pikiran inilah yang mampu mentransformasi kaum milenial pada pertarungan 2024. Sebuah pertarungan pikiran bukan perasaan.

Keempat. Tanpa kritik, sebuah  pandangan tidak akan menghasilkan dialektika. Kritik harus ada sehingga melahirkan anti tesa. Tesa - Anti tesa akan melahirkan sintesa.

Otak-otak kita harus banyak dicuci dengan argumen. Melalui argumen kontra argumen, bukan pemalsuan pikiran, yang menjadikan dialektika berkembang.

Kelima. RG merujuk pada kekuatan Tuhan YME atau alam semesta yang maha adil dalam membagikan akal pikiran kepada manusia. Dengan akal pikiran semua perbedaan fisikal manusia terhilangkan.

Untuk membahas pikiran RG yang diposting ke saya Subuh kemarin, saya membutuhkan lebih dari 12 jam membaca berbagai pikiran filosof, seperti Aristotle, Socrates, Hume, Darwin, Nietzsche, Jean Paul Satre, Heidegger, Husserl, Hawking dan Friedrich Hegel serta sekilas pikiran Abu Sina dan Mulla Sadra. Sebab, memahami RG dengan ilmu biasa tentu tidak mungkin, karena RG ini sudah menjadi filosof terbesar bangsa kita di abad ini. Perlu kelengkapan pikiran filosof untuk membahas pikiran filosof (i).

Marilah kita bahas pikiran RG tersebut sebagai berikut:

1. Tentang Akal Sehat (common sense).

Akal sehat, menurut definisi Aristotles adalah  kemampuan seseorang melakukan penilaian (judgment) yang bersifat basic (dasar) bagi manusia dan hewan, tetapi hanya manusia yang mempunyai "real reasoned thinking".

Akal sehat menurut RG bersifat a priori bukan a posteriori. Akal sehat muncul dari akal pikiran yang diberikan Tuhan atau alam semesta kepada manusia sebagai kebaikan Tuhan sehingga manusia bisa menjalankan misi kehidupannya.

Lebih lanjut, "Common Sense" adalah sebuah wisdom, "self-evident truth" namun rasional. "Rationalism vs empiricism"  dalam menentukan akal sehat sudah menjadi perdebatan lama. Hegelianism tidak membutuhkan pengalaman empirik untuk meyakini sebuah akal sehat. Sebaliknya, misalnya Marx, meyakini akal sehat produk dari sejarah dan materialism.

Dalam membahas peranan kampus sebagai "sumur pikiran" dan pusat peradaban akal sehat, misalnya,  RG secara sepihak meyakini bahwa kampus memang di desain untuk kemashalatan manusia. Pikiran ini bertentangan dengan fakta alternatif bahwa kampus memang di desain untuk menjadi alat pembenar kekuasaan dan pemilik modal. Contoh, dalam masa Sukarno dan Suharto, kampus dan para professor berperan membenarkan semua tidakan kekerasan rezim untuk membungkam kebebasan berpendapat dan ilmiah. Bahkan, misalnya, di German di masa Hitler, pembunuhan 2 juta orang Jahudi dilakukan atas dikungan kampus dan intelektual di sana.

2. Tentang Dialektika

RG menekankan pentingnya kritik. Kritik itu mempunyai pengertian pada dataran konseptual maupun realitas. Dalam pegertian konsepsi, RG menyebutkan istilah Dialektika, yakni setiap argumen (tesa) harus dikritik dengan argumen lain yang oposit (antitesa) sehingga melahirkan sintesa.

Dalam dataran empirik, RG menyebutkan tanpa kritik, kekuasaan akan jauh dari keseimbangan (power balance). Tanpa keseimbangan kekuasaan, akan terjadi dominasi yang cenderung jahat. RG berpendapat bahwa kampus dilahirkan untuk mengkritik kekuasaan, bukan membungkuk.

Dialektika versi RG adalah dialektika Hegelianism, yang beroposisi adalah konsep atau definisi. Bukan masa Socrates  yang beroposisi orang vs. orang lain.

Dengan kontradiksi2 dari konsep2 yang beroposisi, diinginkan suatu konsep yang lebih sempurna sebagai sintesa.

Sebagai mazhab phenomenology, RG mendorong sebuah pemikiran yang holistik untuk melihat persoalan masa depan (reinventing the future) dengan tetap melihat masa lalu (remembering the past).

Konsep menurutnya adalah penghubung masa lalu ke masa depan. Sehingga rezim tanpa (bersandar) pada akal sehat tidak akan mampu menjembatani transformasi yang dibutuhkan.

3. Tentang Kebenaran yang Dipalsukan

RG menyebutkan bahwa tidak benar pikiran pendukung Jokowi yang mengkritik dirinya tidak mengkritik Prabowo. Pikiran seperti itu adalah pikiran palsu. Sebab, menurut RG, tidak ada sandaran logis bagi dirinya untuk mengkritik Prabowo yang tidak berkuasa. Jika RG diundang ke forum pro Jokowi, dia pasti hadir, tapi bukan untuk mengkritik Prabowo, melainkan untuk mengkritik Jokowi. Kenapa?

Karena penguasa adalah pemilik konsep utama (baik standar kebenaran maupun pembangunan) yang membutuhkan kontra konsep. Dalam apa yang dimaksud sebelumnya adalah untuk dialektika tadi.

Konsep sang penguasa adalah konsep yang harus diuji dengan kontradiksi. Itu hanya bisa dilakukan oleh oposisi. Untuk itu Rocky berjanji bahwa dia akan beroposisi terhadap Prabowo setelah dua belas menit sejak Prabowo dilantik pada 2019 nanti.

Atas hal tersebut, saat ini, Rocky Gerung adalah filosof besar bangsa kita. Meskipun secara mazhab, RG berbeda dengan kaum empiricist seperti Darwinis, Marx, dan Nietzsche, namun pikiran-pikiran RG selain berguna bagi kaum idealis, dapat juga memotovasi kaum "empiricist" untuk muncul memberi pencerahan buat bangsa kita.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES