Tuesday, 14 Jumadil Akhir 1440 / 19 February 2019

Tuesday, 14 Jumadil Akhir 1440 / 19 February 2019

Kita Kuat tanpa Bantuan Amerika

Selasa 15 Jan 2019 08:35 WIB

Red: Karta Raharja Ucu

Mohamad Riadz bin Tan Sri Mohamad Hashim Ketua Bahagian Parti Pribumi Bersatu Malaysia

Mohamad Riadz bin Tan Sri Mohamad Hashim Ketua Bahagian Parti Pribumi Bersatu Malaysia

Foto: Facebook
Industri pertahanan kita tak perlu mengikuti Barat karena memiliki kekuatan sendiri.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Mohamad Riadz bin Tan Sri Mohamad Hashim*

Industri Pertahanan. Mengapa kita perlu mengikuti industri Barat? Padahal kita memiliki kekuatan sendiri.

Industri pertahanan sejumlah negara membangun banyak meniru dan membeli senjata negara-negara Barat. Selagi kita bergantung kepada meniru dan membeli senjata Barat, kita akan sentiasa menjadi pengikut dan bukan pemimpin. Tidak akan sesekali kita berada di depan selagi kita bergantung kepada teknologi dan teknisi mereka.

Kan kita ada kekuatan sendiri? Vietnam, walaupun sejarahnya melebih 60 tahun, tetapi bagaimana mereka mampu buktikan untuk menundukkan kekuatan Amerika yang jauh lebih maju dari segi militer konvensional. Vietnam mengambil langkah untuk tidak berhadapan secara konvensional.

Selain itu, mereka juga memahami sistem demokrasi Amerika yang bergantung penuh kepada opini publik. Sedikit demi sedikit, walaupun menghadapi jatuhnya banyak korban jiwa, Vietnam mampu mengubah persepsi rakyat Amerika sehingga menuntut kerajaannya untuk mengalahkan tentara Amerika.

Bukan hanya itu saja, taktik peperangan yang digunakan melalui jaringan terowongan yang amat canggih, mampu melumpuhkan lawan. Banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari sana.

Ya betul. Dulu lain. Sekarang lain. Namun, isinya penting. Selagi kita bergantung kepada teknologi militer Barat, kita akan sentiasa berada di belakang. Terus, kita seharusnya fokus kepada cara mempertahankan diri melalui cara yang tidak konvensional.

Selagi kita berharap kepada senjata yang berdasarkan balistik dan trajektori, ia masih dianggap konvensional. Malaysia dan Indonesia memiliki keahlian yang luar biasa. Imajinasi para orang cerdas, mampu mengubah dan mencipta senjata yang tidak biasa. Ini mampu membuat kita berada di depan karena hanya kita saja yang memiliki teknologi pertahanan yang lain daripada yang lain.

Sumber trajektori dan balistik pun sudah ada sebelum Masehi. Pengenalan bubuk senjata hingga peluru juga sudah ada selama ratusan tahun. Jadi, apakah teknologi pertahanan yang perlu kita cipta, berinovasi dan membuat? Semua itu berada dalam imajinasi kita semua. Mampukah kita melumpuhkan pesawat perang di udara tanpa menembaknya peluru dan cara konvensional? Kalau dulu menciptakan busur panah dan kemudian senjata menjadi "pengubah permainan", satu teknologi lain harus dibangunkan juga agar kita juga mampu memiliki teknologi dan "pengubah permainan".

Apakah itu teknologi "pengubah permainan"? Itu adalah teknologi yang menentang teknologi konvensional zaman kita dan seluruhnya menggunakan desain baru. Menggunakan tenaga listrik semata-mata, contohnya. Menggunakan tenaga petir mungkin? Menggunakan tenaga dari bumi juga boleh dicoba.

Namun, teknologi semua ini tidak mampu dibangunkan tanpa sokongan dan keyakinan pemerintah itu sendiri. Karena hampir semuanya akan dibiayai pemerintah. Biaya membuat prototipe haruslah dibiayai pemerintah. Karena kalau bukan dari dana negara sendiri, ke depannya ada kemungkinan dibeli Barat juga.

Pemerintah disarankan mengadakan dana riset dan pengembangan yang lumayan kepada warganegaranya sendiri. Daripada asyik membayar miliaran dolar kepada Amerika, apa salahnya diinvestasi kepada perancang dan insinyur warga negaranya sendiri. Sama-sama bekerja agar mampu menghasilkan teknologi luar biasa yang mampu menjatuhkan pesawat perang tanpa menggunakan peluru dan mampu melumpuhkan tentara darat yang lain tanpa membunuh mereka.

Mari berpikir untuk bangkit untuk kita memimpin dunia menggunakan kekuatan sendiri!

*) Ketua Bahagian Parta Pribumi Bersatu Malaysia

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES