Saturday, 8 Rabiul Akhir 1440 / 15 December 2018

Saturday, 8 Rabiul Akhir 1440 / 15 December 2018

Meraup Devisa Pariwisata, Menguatkan Ekonomi

Jumat 12 Oct 2018 08:12 WIB

Red: Elba Damhuri

Tarian Asih Tresna menyambut api obor Asian Games 2018 di Pantai Kuta Mandalika, Lombok Tengah, NTB, Rabu (25/7).

Tarian Asih Tresna menyambut api obor Asian Games 2018 di Pantai Kuta Mandalika, Lombok Tengah, NTB, Rabu (25/7).

Foto: Republika/Muhammad Nursyamsi
Sektor pariwisata menyumbang devisa kedua terbesar setelah minyak sawit.

REPUBLIKA.CO.ID Oleh: Remon Samora, Analis Bank Indonesia

Menarik menyimak pernyataan Menteri Pariwisata (Menpar), Arief Yahya, di sela-sela Rakornas Kementerian Pariwisata (Kemenpar) akhir bulan lalu. Menpar menyebutkan, pariwisata adalah industri yang paling mudah dan murah menghasilkan devisa.

Data statistik menunjukkan, industri pariwisata saat ini menduduki peringkat kedua penyumbang devisa terbesar setelah CPO. Tak ayal, sektor pariwisata membawa angin segar di tengah problematika defisit transaksi berjalan yang masih berlangsung.

Sepanjang Januari-Juli 2018, Kemenpar mengklaim total pundi-pundi devisa diraih mencapai 9 miliar dolar AS. Nilai tersebut didukung realisasi kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) sebanyak 9,06 juta atau tumbuh 13 persen dibanding pada tahun lalu.

Dengan tren pertumbuhan yang konsisten dua digit, tak heran pemerintah optimistis mampu membidik kunjungan wisman sebanyak 17 juta pada 2018 dan 20 juta pada 2019. Secara historis, kinerja industri pariwisata memang terbilang cukup memuaskan.

Kemenpar mencatat kontribusi sektor ini terhadap PDB 2015 mencapai 4,23 persen, terus meningkat hingga 5 persen pada 2017. Pencapaian ini diikuti pula penyerapan tenaga kerja dari 11,4 juta orang pada 2015 menjadi 12,2 juta orang dua tahun berselang.

Kemenpar memproyeksikan, industri pariwisata mampu menyumbang 5,25 persen dan 5,50 persen terhadap PDB 2018 dan 2019. Untuk mencapai target itu, pemerintah menyusun strategi pengembangan di tiga aspek utama pariwisata.

Aspek itu dikenal dengan 3A, yaitu Akses, Atraksi, dan Amenitas. Konektivitas transportasi ke destinasi wisata merupakan poin fundamental aspek Akses. Ini mengapa biaya perjalanan, terutama ke kawasan timur Indonesia lebih mahal daripada negeri tetangga.

Dari sisi Atraksi, pemerintah dituntut kreatif meramu paket wisata yang variatif untuk memperpanjang waktu tinggal wisman. Produk utama destinasi wisata, seperti keindahan alam dan budaya lokal wajib dipadupadankan dengan berbagai event menarik.

Sementara itu, Amenitas merupakan fasilitas pendukung untuk memenuhi kebutuhan wisman. Aspek ini acap dikaitkan dengan fasilitas restoran dan akomodasi. Di atas kertas, ketiganya terbilang sudah mencakup hampir seluruh permasalahan pariwisata Tanah Air.

Namun, ibarat perusahaan, strategi 3A hanya menjawab pertanyaan produk apa yang dijual. Setidaknya, masih ada dua persoalan lain yang harus diperhatikan. Pertama, berapa biaya mengolah bahan baku.

Permasalahan ini terkait erat dengan jumlah modal yang diperlukan untuk mempersiapkan aspek 3A. Berdasarkan kalkulasi pemerintah, kebutuhan investasi di sektor pariwisata untuk lima periode mendatang sebesar Rp 500 triliun.

Dana tersebut akan digunakan untuk membangun 120 ribu kamar hotel, 15 ribu restoran, 100 taman rekreasi berstandar internasional, 100 operator selam, 100 marina, 100 Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) pariwisata, serta amenitas pariwisata lainnya.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES