Jumat, 10 Safar 1440 / 19 Oktober 2018

Jumat, 10 Safar 1440 / 19 Oktober 2018

Sara'dasi, Kebo Ijo, Machiavelli: Bila Kuasa Diperebutkan

Jumat 12 Okt 2018 05:01 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Machiavelli yang kemudian di lambangkan sebagai pangeran kegelapan.

Machiavelli yang kemudian di lambangkan sebagai pangeran kegelapan.

Foto: eNotes
Sampai zaman kapanpun kepalsuan, kebohongan, berita hoax tak akan menang.

Oleh: Muhammad Subarkah, Jurnalis Republika

Sebuah surel masuk dari abangda Ilham Bintang. Tokoh pers dan raja media infotaiment ini menceritakan pengalamannya ikut dalam talk show televisi di sebuah stasiun televisi. Selaku jurnalis dia diminta mengomentari soal berita hoak dan kebohongan.

Namun, sebelum melangkah bagaimana sikap seorang jurnalis atas munculnya berita bohong desas-desus hingga hoaxs dia mengisahkan sebuah pengalaman budaya di kampungnya di Makassar. Sebuah kisah yang mengajarkan betapa berbahaya berita palsu dan kebohongan itu.

Kala itu, Ilham Bintang mengkawatirkan fenomena  'Sara’dasi' yang saat ini terbuka sekali tengah mengancam  perpecahan bangsa. Sara’dasi, semacam adu domba, yang bersumber dari khasanah kearifan lokal masyarakat Bugis Makassar. Sara’dasi itu pernah diperkenalkan  secaranNasional di era Jendral M Jusuf menjadi Menhankam/ Pangab.

Saking berbahayanya, waktu itu  Sara’dasi diterjemahkan sebagai kegiatan subversif.

“Sara’dasi menjadi mahluk paling mengerikan bagi orang Bugis”, tegas Ilham yang pimpinan media Cek& Ricek dan juga Ketua Dewan Kehormatan PWI Pusat itu

Ilham Bintang mengingatkan fenomena Sara’dasi agar publik segera menghentikan nuansa permusuhan. Perbedaan dan kepentingan politik jangan dilakukan dengan cara-cara untuk meniadakan satu sama lain yang istilah kerennya Zero Sum Game. "Saya khawatir bangsa  ini sudah terjangkit Sara’dasi. Politik itu menyatukan, bukan saling meniadakan, bukan saling mengenyahkan,” katanya. Dia juga mengatakan sekarang sebenarnya tidak ada politik di Indonesia. Yang ada hanya orang Indonesia main- main politik,” tandasnya.

Mengutp secara detil kisah Sara’dasi, Ilham mengisahkan begini. Dahulu di Makassar ada  Sara’dasi ketika ada sejoli manusia yang baru menikah. Pasangan ini sangat keren atau ideal dan sering disebut yang memiliki banyak persamaan, kecocokan. Namun, kejadian itu hanya terjadi sejenak. Semua pecah berantakan dalam waktu singkat. Pernikahan hanya berumur selama semalam saja.

"Di Makassar dari dahulu lazim masing-masing mempelai baru masih dikawal beberapa hari oleh orang yang dipercaya keluarga untuk itu. Justru pihak inilah yang berhianat, mengadu domba, subversif. Itulah asal mula masuknya istilah Sara'dasi,'' ujarnya lagi.

Mula-mula si pengacau atau penyemai sara'dasi menggarap pengantin wanita. Dia bilang:  Kamu ini adalah wanita yang paling bahagia di dunia ini, maka pantas mendapatkan suami ganteng, kaya raya, mantan walikota pula.

Tak hanya memberkan pujian, si Sara'dasi itu kemudan membumbuhi infornasi beracuan alias hoax bin bohong bin palsu. Katanya kepada si calon mempelai perempuan dikatakan, namun sebagai manusia biasa suami itu juga tidak ada yang sempurna.

''Kelemahan suami  kamu ini tidak banyak. Cuma satu. Suka  'main belakang','' kata Ilham menirukan si pengacau itu. Maka kini pihak mempelai wanita memasang badan waspada. Namun pernikahan tetap berlangsung.

Nah, setelah menggarap si wanita, kini giliran pihak pengantin pria yang digarap. Dia bilang kamu itu pria  yang palin beruntung. Mendapatkan wanita cantik, taat beribadah yang  bisa memberi keturunan baik.''Bukan hanya bini, tapi 'binie' (wanita serba sempurna),'' kisah Ilham lagi.

Sembari memuji si lelaki sampai ke atap langit ketujuh, sara'dasi menyuntikan bius dan racun. Katanya, tapi dia cuma kekurangannya cuma satu. Dan ini pun janganlah kau dipersoalkan. Istrimu ini punya ekor.

''Nah, anda bisa bayangkan seperti apa mereka melewati malam pertama yang mestinya indah, yang mestinya menjadi surga dunia,'' kata Ilham.

Benar saja, perjalanan sejoli manusia ini tak melewati malam pertama dengan indah. Selama semalaman kedua hanya kejar-kejaran. Si pengantin pria mengejar bagian belakang si wanita karena ingin tahu apakah benar isterinya punya ekor,  si pengantin wanita menghindar terus dari kejaran si pria yang terkesan akan menyodominya.

Alhasil, malam pertama mereka sekaligus malam terakhir. Esok pagi, mereka ke kantor KUA mengajukan perceraian.

“ Lihat saja. Jangankan dua kontestan yang berkompetisi, orang yang mau kawin saja yang persamaannya banyak, sama sama membutuhkan bisa pecah gara gara Sara'dasi," papar Ilham seraya mengatakan ini menjadi bukti betapa berbahayanya kepalsuan, kebohongan, dan berita hoax itu.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES