Saturday, 18 Jumadil Akhir 1440 / 23 February 2019

Saturday, 18 Jumadil Akhir 1440 / 23 February 2019

Sandi-Erick: Perubahan Politik?

Sabtu 15 Sep 2018 06:31 WIB

Red: Elba Damhuri

Fachry Ali

Pengumuman Tim Kampanye Nasional. Wapres Sekaligus Ketua Tim Pengarah Tim Kampanye Nasional Jusuf Kalla (kanan) bersama Ketua Tim Kampanye Nasional Jokowi-Maruf Amin, Erick Thohir 9kiri) saat pengumuman Tim Kampanye Nasional Joko Widodo - KH Maruf Amin di Jakarta, Jumat (7/9).

Kemunculan Erick dan Sandi makin mereduksi peran parpol dalam menciptakan pemimpin

Benar, secara harfiah parpol adalah kumpulan manusia dalam jumlah banyak. Namun, budaya elite parpol dewasa ini mempertontonkan “kemunduran” daripada “kemajuan”. Bagaimana tidak “mundur”?

Bandingkanlah mereka dengan pemimpin pergerakan sejak 1908, 1930-an, dan pemimpin parpol awal kemerdekaan hingga akhir 1950-an. Bukankah para pemimpin terdahulu itu terdiri atas kaum inteligensia, memiliki semangat berkorban dan pribadi-pribadi berintegritas?

Dalam arti kata lain, para pemimpin pergerakan dan parpol itu mampu menciptakan model “ideal” rujukan generasi penerus. Ini menjelaskan mengapa HOS Tjokroaminoto, Agus Salim, Sukarno, Mohammad Hatta, Mohammad Natsir, Sjahrir, dan lainnya hingga kini tetap menjadi model, meski kemajuan teknologi komunikasi jauh terbelakang dibandingkan dewasa ini.

Jadi intinya, perubahan struktur demografi tidak akan menjadi masalah bagi para pemimpin parpol berkemampuan inteligensia. Dengan yang terakhir ini, mereka akan mampu membawa partai adaptif terhadap perkembangan zaman.

Pada hemat saya, kegagalan para pemimpin parpol dewasa ini melanjutkan tradisi inteligensia masa lalu itulah yang menyebabkan keberadaan organisasi yang dipimpin menjadi tidak relevan dengan perkembangan zaman.

Maka itu, di luar persoalan moral koruptif yang mereka pertontonkan, tanpa peralatan inteligensia, bagaimana parpol mampu mereproduksi calon-calon pemimpin? Kehadiran Sandi dan Erick dalam percaturan politik dewasa ini, antara lain, bisa dipahami dari perspektif ini.

Seperti Jokowi, Ahok, Anies Baswedan, Emil Dardak, Ridwan Kamil, dan tokoh-tokoh muda lainnya, Sandi dan Erick adalah tokoh-tokoh bukan reproduksi parpol. Yang terakhir ini, sebagai lembaga politik, “terpaksa” mengajukan mereka ─karena ketidakmampuan membuat diri relevan dengan perkembangan zaman dan melahirkan calon pemimpin sesuai harapan publik yang dinamis.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA