Selasa, 12 Rabiul Awwal 1440 / 20 November 2018

Selasa, 12 Rabiul Awwal 1440 / 20 November 2018

Indonesia Bisa

Selasa 21 Agu 2018 17:45 WIB

Red: Israr Itah

Ketua Inasgoc, Erick Thohir bersiap membawa obor Asian Games2018  dalam acara Torch Relay Asian Games 2018 di  Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (17/8).

Ketua Inasgoc, Erick Thohir bersiap membawa obor Asian Games2018 dalam acara Torch Relay Asian Games 2018 di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (17/8).

Foto: Republika/Iman Firmansyah
Asian Games menjadi tugas bersejarah bagi kita semua sebagai satu bangsa.

REPUBLIKA.CO.ID, oleh: Erick Thohir*

Sekitar dua tahun lebih tiga bulan atau sekitar 820 hari. Itulah waktu yang dilalui Indonesia untuk mempersiapkan diri sebagai tuan rumah pesta olahraga terbesar se-Asia, Asian Games 2018. 

Sejak ditetapkan Dewan Olimpiade Asia (OCA) pada 19 September 2014, kita semua tentu sadar bahwa menjadi tuan rumah Asian Games memuat sebuah tanggung jawab sejarah yang amat besar. Sengaja saya menggunakan kata 'kita' karena Asian Games 2018 bukanlah urusan panitia pelaksana, atlet, atau pemerintah semata. 

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata 'kita' berarti kata ganti orang pertama jamak untuk memanggil orang lain yang diajaknya berbicara. Izinkan 'saya' dalam tulisan ini berbicara pada 'anda' semua saudara sebangsa untuk membahas urusan 'kita' bersama, Asian Games 2018.     

Asian Games menjadi tugas bersejarah bagi kita semua sebagai satu bangsa. Dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote.  

Generasi pendahulu kita telah sukses memikul tugas sejarah secara gemilang. Lewat Asian Games 1962, bangsa Indonesia saat itu tak hanya mampu membuat terbelalak mata Asia, tapi juga membuat decak kagum dunia. 

Indonesia baru berusia 17 tahun saat menjadi tuan rumah Asian Games 1962. Saat itu, tantangan eksternal dan internal yang dihadapi tidaklah ringan. Ekonomi dan politik Indonesia saat itu sedang mengalami ujian. Tantangan di tahun 1962 makin pelik karena Indonesia usai terlibat dalam operasi militer di Irian Barat. Operasi ini dikenal dengan sebutan Trikora.

Namun dengan banyaknya kendala yang mengadang, pemimpin Indonesia saat itu, Ir Sukarno tetap bertekad menjadikan Indonesia sukses sebagai tuan rumah pesta olahraga terbesar di Benua Asia itu.

Rencana visioner pun dicanangkan Bung Karno dengan dibantu Gubernur Jakarta kala itu, Soemarno Sosroatmodjo, dengan melakukan pembangunan di segala bidang. Mulai dari membangun kawasan Senayan yang wilayahnya masih didominasi belukar hingga kawasan Hotel Indonesia dan Thamrin.

Usaha keras pada 1962 itu membuahkan hasil manis. Stadion Gelora Sukarno yang dibangun mulai 1959 selesai tepat waktu. Begitu selesai dibangun pada 1962, para kontestan Asian Games 1962 dibuat terkagum-kagum. Sebab saat itu belum belum ada stadion di Asia yang bisa menandingi kemegahan Stadion Gelora Sukarno yang berkapasitas 100 ribu penonton. 

Dunia lantas bertepuk tangan melihat kemegahan di Senayan. Dengan segala proyek ambisius yang dikomandoi langsung oleh Bung Karno dan Gubernur Soemarno, pelaksanaan Asian Games 1962 berujung kesuksesan besar bagi Indonesia. 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES

In Picture: Persija Menang 3-0 Atas Persela

Selasa , 20 Nov 2018, 20:53 WIB