Saturday, 11 Jumadil Akhir 1440 / 16 February 2019

Saturday, 11 Jumadil Akhir 1440 / 16 February 2019

Haji dan Politik: Dari Syarif Makkah Hingga Habib Riziek

Rabu 15 Aug 2018 05:01 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Masjidil Haram saat Hurgronje berada di Makkah

Pangeran Diponegoro naik kuda, mengenakan jubah da surban, ketika beristirahat bersama pasukannay di tepisan sungai Progo, pada penghujung tahun 1830.

Pengaruh Makkah dan ibadah haji dalam persaingan politik kekuasaan terus lestari.

Simbolisasi haji sebagai kekuataan sosial politik makin ampuh menjelang akhir tahun 1800-an. Saat itu kekuatan kolonial malah memandangnya sebagai poros penyumbang gerakan politik perlawanan atau bahkan biang pelaku kerusuhan dan pemberontakan.

Di Kraton Surakarta menjelang bulan Ramadhan kala zaman itu muncul semacam surat seruan pergerakan politik yang berasal dari seorang ulama yang berada di Makkah. Surat itu diperbanyak dan disebar di berbagai  masjid di sekitar Keraton Surakarta.Isinya mencengangkan: seruan untuk berjihad melawan kolonial karena dianggap kafir!

Pada satu sisi sebagian orang memang memandang kejadian itu sebagai pertanda terjadi perubahan dalam tradisi tarekat. Yang tadinya tarekat dianggap sebagai gerakann 'ektase' keagamaan semata, saat itu berubah bentuk juga menjadi gerakan sosial-politik. Maka lahirlah tarekat Satariyah sebagai bentuk baru lanjutan dari tarikat pada mahzab Suni yang lain.

Celakanya, ini kemudian menyeret pada situasi baru dengan makin maraknya perang terhadap kolonial secara masif, misalnya munculnya Perang Padri, Perang Diponegoro, perlawanan KH Rofi'i di Pekalongan, Pemberontakan Petani Banten, bahkan hingga perlawanan kaum tarekat terhadap kolonial di wilayah Asia Selatan hingga kawasan Afrika.

photo

Perang Padri. (wikipedia.com)

Pada perlawanan politik di Minangkabau misalnya, peran mereka yang pernah pergi haji ke Makkah ketika meletupkan Perang Padri. Di sana misalnya ada sosok ulama berserban putih, Tuanku Imam Bonjol. Di sana juga ada sosok Haji Miskin yang kini makamnya di pinggir kiri jalan menuju kampung Pandai Sikek di Bukittinggi. Masjid, suarau, dan pesantren menjadi pusat perlawanan terhadap kolonial.

Juga di Aceh, hasil pergumulan para mukimin dan orang Nusantara untuk datang berhaji dan tinggal di Makkah terbukti manjur untuk meletupkan perlawanan perang rakyat. Dalam hal ini ada sosok Chik Pante Kulu yang menuliskan syair Perang Sabil (Prang Sabi') dalam perjalanan pulang dari Makkah. Akibat seruan syairnya, perlawanan rakyat Aceh terhadap kolonial berlangsung sangat lama dan berdarah-darah.

Hal yang sama juga terjadi pada Perang Jawa 1825-1830. Jalinan perlawanan akibat pergumulan dengan para haji, ulama, dan mukimin Makkah tak terbantahkan menjadi pemompa semangatnya. Dalam hal ini ada sosok ulama yang juga haji dan berserban yang pernah tinggal di Makkah, yaitu Kyai Imam Mojo. Bahkan berbagai orang yang datang dari Makkah yang kala itu berada di bawah kekuasaan Otoman Turki, kerap sekali menyambangi rumah pribadi Pangeran Diponegoro di Tegalrejo yang berada di pinggiran Yogyakarta.

Uniknya lagi, berbeda dengan sosok Raja Jawa dan Pangeran di Kraton Yogyakarta yang kala itu enggan pergi haji ke Makkah, Pangeran Diponegoro malah memimpikan pergi haji dan tinggal di Makkah. Pada akhir hayatnya, di dalam masa pembuangan, berulangkai ketahuan dia meminta izin kepada pemerintah Belanda agar bisa pergi ke tempat itu. Tak hanya itu dia pun memimpikan bisa meninggal di sana.

"Niat (Pangeran Diponegoro) untuk naik haji muncul pada episode akhir perang Jawa. Ia sepertinya merencanakan ‘purnawira (pensiun dari dunia militer,red) dengan cara tinggal di Makkah,’’ tulis peneliti sejarah Pangeran Dioponegro asal Inggris, Peter Carey.

Tak hanya itu, sosok atau profil Ratu Adil ala gambaran seorang haji, juga menjadi pembawa spirit  Diponegoro ketika menyerukan perang Sabil melawan kolonial Belanda.

Dalam ‘pertemuan rohani’ ketika menyepi di gua-gua di sekitar Yogyakarta, Diponegoro dijemput secara gaib oleh seseorang yang mengenakan pakaian haji. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 21 Ramadhan pada tahun-tahun menjelang  (16 Mei 1825) saat Perang Jawa mulai berkobar. Sosok haji gaib inilah yang kemudian disebut sebagai penampakan dari Ratu Adil.

Menurut kisah Peter Carey, Sang Ratu Adil yang berbentuk seorang haji itu membisikan kepada Diponegoro agar sebagai Muslim Jawa menjunjung kemuliaan agama Islam di Jawa dan melaksanakan tugas sebagai 'ratu panateg panatagama'  (seorang raja yang akan berdiri sebagai ‘penata agama’).

=

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES

In Picture: Konflik Lahan di Jambi

Jumat , 15 Feb 2019, 21:07 WIB