Saturday, 18 Jumadil Akhir 1440 / 23 February 2019

Saturday, 18 Jumadil Akhir 1440 / 23 February 2019

Haji dan Politik: Dari Syarif Makkah Hingga Habib Riziek

Rabu 15 Aug 2018 05:01 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Masjidil Haram saat Hurgronje berada di Makkah

Gambar Sunan Pakubuwono X mengunjungi Kampung Luar Batang tahun 1920-an.

Pengaruh Makkah dan ibadah haji dalam persaingan politik kekuasaan terus lestari.

Uniknya lagi, menjadi semakin paradoks ketika nanti usai melakukan ibadah haji, KH Ma'ruf bertemu atau menjenguk Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang kini di tahan di Mako Brimob.

Nah, pertemuan itu akan menarik karena andai itu benar terjadi. Sebab, akan muncul ekpresi teduh 'dua sosok' yang dahulu berseteru tampaknya kini tak lagi mempersoalkan masa lalu.

Segala cercaan yang muncul  kepada KH Ma'ruf baik dari Ahok secara langsung saat di meja persidangan dan para pendukungnya terkait soal pengadilan kasus penodaan agama dulu, menjadi hilang tandas. Semua pihak akan bisa akur serta saling bermaafan. Ibadah haji pun akan terbukti menjadi berkah penyambung silaturahmi yang terputus. Jadi simbolisasi haji ternyata bukan main-main, berpengaruh, serta terbukti tak lekang oleh zaman.

Lalu apakah simbolisasi haji masih ampuh serta membangkitkan sebuah persepsi mengenai seseorang yang terkait dengan masalah kekuasaan? Jawaban itu jelas benar adanya.

Dari dahulu banyak Sultan dan kerajaan di Nusantara mengirim untusan ke Makkah untuk meminta legitimasi politik. Kala itu ada putra Mahkota Mataram, Pangeran Rangsang (yang kemudian menjadi Sultan Agung) pada tahun 1620-an, mengirimkan utusan ke Makkah untuk meminta restu syarif Makkah untuk memakai gelar Sultan dan mendapat perlindungan politik dari imperium Otoman Turki.

photo

Syarif Makkah pada tahun 1880.

Begitu pun juga yang dilakukan pangeran dari Kesultanan Banten juga pergi haji ke Makkah (bergelar kemudian menjadi Sultan Haji) untuk melakukan hal yang sama.Sambil berhaji mereka meminta restu kepada represntasi simbol dan wakil penguasa Otoman (Syarif Makkah). Jadi antara nilai politik kekuasaan serta ibadah agama bisa hadir dalam satu paket. Kata pepatah: Setali mendayung dua-tiga pulau terlampui!

Para Sultan di Kerajaan Ternate dan Tidore pun banyak begitu. Mereka juga membawa romongan ke Makkah dengan tujuan yang identik dengan para Sultan di Jawa. Bahkan Sunan Gunung Jati pada awal tahun 1500-an menyempatkan pergi ke Makkah untuk berhaji sebelum mendirikan kerajaan Islam Demak.

 

 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA