Sabtu, 8 Rabiul Akhir 1440 / 15 Desember 2018

Sabtu, 8 Rabiul Akhir 1440 / 15 Desember 2018

Skenario Snouck, Van Vollenhoven: Ketika Islam Diperhadapkan

Kamis 02 Agu 2018 18:47 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Snouck Hurgronje paling kiri.

Snouck Hurgronje paling kiri.

Foto: Pinterest.com
Pembedaan itu akan menemui masalah dalam hubungan antara etnis yang ada.

Islam itu nama yang diberikan Tuhan guna menandai sebuah agama...

Oleh: Ady Amar, Pemerhati Sosial Keagamaan

Islam adalah rahmat bagi alam semesta (rahmatan lil alamin). Karenanya, Islam tidak dibatasi oleh batas geografi, oleh bangsa dan etnis tertentu. Islam tidak dapat dimonopoli oleh kelompok tertentu.

Sekalipun Islam lahir di Makkah, di bumi Arab, tidak boleh bangsa atau etnis Arab memonopolinya, menyebut dengan Islam Arab. Klaim atas Islam pada kelompok tertentu gugur dengan sendirinya.

Islam adalah agama yang diturunkan Tuhan tidak untuk kelompok tertentu, dan tidak boleh dibelokkan sebagai penanda entitas kelompok tertentu.

Islam itu nama yang diberikan Tuhan guna menandai sebuah agama, yang karenanya tidak pantas dikoreksi dengan pengurangan dan atau penambahan pada kata “Islam”, baik pada namanya maupun pada ajarannya.

Adakah kesempurnaan melebihi kesempurnaan pemberian-Nya. Jika ada, dan merasa mampu seolah mengalahkan kesempurnaan-Nya, maka kita seolah merasa mampu mengalahkan Tuhan.

Karenanya, konsep Pencipta (Al-Khaliq) yang dimiliki-Nya tereduksi oleh makhluk yang seolah berperan layaknya melebihi-Nya. Ini bentuk kesyirikan yang dibangun secara sistemik. Suka atau tidak, inilah bentuk perlawanan pada Tuhan secara kasat mata.

Islam sebagai agama yang dibawa oleh Muhammad, sejak mula tidak pernah namanya diembel-embeli dengan tambahan nama lain. Tidak pernah sekalipun para Sahabat Nabi yang telah menaklukkan bangsa Timur sampai Barat dan menegakkan peradaban Islam di sana, lalu karena kebanggaannya mengklaim sebagai Islam Arab.

Mereka tetap menyebut Islam tanpa dilabeli. Mereka paham betul, justru jika mereka menambahkan label tertentu itu malah tidak akan mempersatukan penduduk negeri lain dalam keluarga besar Islam. Mereka mengajarkan Islam tidak dalam ukuran dan batas geografis, dan karenanya menjadi eksklusif.

Muaranya akan sampai pada sifat digdaya, merasa paling baik dibanding Islam di luar geografisnya. Tidak mustahil, jika itu dilakukan, maka Islam akan menjadi sekte-sekte sempit dan tidak universal.

Penisbatan Islam pada geografi, pada suatu tempat tertentu, tidak lain dan tidak bukan mengacu pada adat yang berkembang, yang ingin “dikawinkan” dengan Islam. Konon, agar Islam menjadi lebih baik, lebih santun, ramah, bisa menghormati perbedaan antarpemeluk agama lainnya.

Apakah Islam agama yang diturunkan Tuhan itu tidak sempurna, sehingga adat perlu diserap dijadikan bagian keberagamaan? Islam itu paripurna, dan keparipurnaannya dijamin Penciptanya: “... Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu...” (Q.S. al-Ma’idah: 3). Karenanya, keramahan, kesantunan, penghormatan pada perbedaan agama/keyakinan, dan lainnya... semuanya diatur oleh sumber hukumnya, Alqur’an dan as-Sunnah.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES