Minggu, 8 Zulhijjah 1439 / 19 Agustus 2018

Minggu, 8 Zulhijjah 1439 / 19 Agustus 2018

Islam Indonesia: Menjadi Buih, Bersatu atau Terseret Politik

Selasa 31 Juli 2018 05:09 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Ribuan umat Islam mengikuti aksi super damai 212 di Lapangan Monas, Jumat (2/12).

Ribuan umat Islam mengikuti aksi super damai 212 di Lapangan Monas, Jumat (2/12).

Foto: dok. Media GNPF
Jika Islam terus dibenturan maka jadilah perang besar dan non muslim pun ikut merugi.

Oleh: Muhammad Subarkah, Jurnalis Republika

Dalam sepekan ini saya kebingungan menjawab pertanyaan mendasar mau di bawa ke mana umat Isam di Indonesia? Saya ke mana-mana bertanya. Menimbang-nimbang sosok 'kentralan' tokoh yang saya ajak bicara. Saya melihat apa yang ada di media massa dan juga media sosial.

Hasilnya, saya banyak kecewa! Di Indonesia begitu banyak tokoh cendikia dan ulama. Tapi kebanyakan punya kecederungan tertentu. Ini terlihat dari rekam jejak pikiran dan riwayat jalan hidupnya. Agak susah saya bertemu dengan sosok orang pintar yang 'nir' kepentingan, setidaknya paling sedikit --menurut saya -- punya interest pribadi.

Untunglah di tengah kebingungan saya, ada tokoh  yang semenjak dahulu jadi tempat bertanya saya. Beliau sudah sepuh, tak pernah jadi birokrat. Hidupnya mirip dengan apa yang dikatakan WS Rendra: Berumah di atas angin!

Pasti banyak yang tak sepakat atas sosok pilihan saya. Tapi lumayanlah, setidaknya bagi saya pribadi untuk menampung segala keluh-kesah saya. Apalagi yang terkait dari berbagai isu, mulai soal ulama masa kini, wacana politik pilpres, sampai isu yang paling menghentak dalam soal keislaman sekaligus ke Indonesiaan dalam kurun sepekan ini: soal Islam Nusantara.

Dalam soal wacana itu, saya merasa memang ada banyak tokoh ulama mumpuni. Tapi sayang mereka disebut ikut dalam pilpres dan condong ada di sisi tertentu. Saya agak paham soal manuver kegamaan dan kecenderungan politik mereka: meski tidak mengaku tapi diam-diam mereka pengin juga jadi orang berpengaruh atau penting.

Dan saya pun mengakui interests semacam ini sah dan sama sekali tak salah. Apalagi dalam sistem demokrasi Pancasila yang bergaya barat seperti kita sekarang ini. Semua terkesan serba boleh dan aturan main bisa dibuat belakangan, bahkan kadang kalau perlu ada yang seharusnya jadi wasit tapi merangkap pemain.

Nah, sosok itu yang saya anggap netral adalah Prof DR Abdul Hadi WM. Dia adalah pelopor sastra Islam (sufi) Indonesia yang muncul di tahun 1970-an. Belaiu menulis banyak sekali buku tentang puisi, sajak, esai atau apa saja yang terkait dengan pemikiran budaya Islam. Dia menulis disertasi tentang sosok Hamzah Fansuri. Dia tak hanya mengajar di Jakarta juga pernah mengajar di universitas luar negeri, semacam University Sains Malaysia. Karyanya diterjemahkan balam banyak edisi bahasa.

Prof Abdul Hadi juga meraih berbagai penghargaan dari pemerintah dan swasta dari dalam dan luar negeri. Dia pengelana yang jauh, baik dari segi pemikiran hingga alam nyata karena pernah hidup di banyak negara.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES