Jumat, 6 Zulhijjah 1439 / 17 Agustus 2018

Jumat, 6 Zulhijjah 1439 / 17 Agustus 2018

Kisah Dua Luka Modric, Anak Desa Zaton Obrovacki

Selasa 17 Juli 2018 10:37 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Luka Modric

Luka Modric

Foto: AP/Simon Dawson
Modric produk terbaik sepakbola Kroasia dalam 20 tahun terakhir.

Oleh: Teguh Setiawan, Jurnalis Senior


Sampai awal Desember 1991 ada dua orang bernama Luka Modric di Desa Jesenice, Kroasia. Yang satu berusia lebih 70 tahun, lainnya seorang bacah usia enam tahun bertubuh kurus. Keduanya memiliki hubungan keluarga, sebagai kakek dan cucu.

Setiap pagi Kakek Luka Modric membawa ternaknya ke sebuah bukit. Luka Modric yang berusia enam tahun, alias sang cucu, bermain bola bersama kawan-kawannya di dekat rumah.

Pertengahan Desember 1991, Kakek Luka Modric membawa ternaknya ke bukit tapi tak pernah kembali ke rumah. Militan Serbia, berseragam polisi Yugoslavia, menangkap dan membunuhnya di perbatasan Desa Jesenice. Kejahatan Kakek Luka Modric adalah dia orang Kroasia, dan harus dimusnahkan.

Hari yang sama, militan Serbia menyerbu Desa Jesenice dan membakar seluruh rumah penduduk. Bersama orang tuanya, bocah Luka Modric memulai hidup sebagai pengungsi. Mereka tinggal dari satu ke lain hotel, sampai akhirnya bermukim secara permanen di sebuah hotel di Zadar.

Bocah Modric lahir di Desa Zaton Obrovacki tahun 1985. Desa dikelilingi Pegunungan Velebit yang penuh ranjau, dengan ratusan papan peringatan tersebar di bukit-bukitnya. Tahun 1990, Kroasia mengobarkan perang kemerdekaan melawan Yugoslavia -- negara yang saat itu didominasi etnis Serbia. Modric dan keluarga harus meninggalkan desanya.

photo

Luka Modric semasa kecil.

Selama mengungsi di Zadar, tidak ada yang dilakukan bocah Modric selain bermain bola di areal parkir hotel. Terkadang bermain bersama kawan, tapi ia lebih sering memainkan bola sendirian. Jika serangan mortir datang, Modric berlari masuk ke dalam hotel dan bersembunyi sampai suara ledakan tidak ada lagi.

Semua yang dilakukan Modric menyita perhatian penduduk sekitar dan pengungsi lain. Terlebih ia sering membuat gaduh, dengan bermain bola di koridor hotel.

photo

Rumah masa kecil Luka Modric yang dibakar militan Serbia.

                                        ******

Cerita tentang bocah Modric sampai ke telinga Josip Bajlo, pelatih tim inti NK Zadar. "Saya masih ingat bagaimana orang bercerita tentang bocah kecil yang setiap pagi menendang bola ke tembok parkir hotel," kata Bajlo kepada AFP.

Beberapa pengungsi menyebut Modric sebagai bodah hiperaktif, yang memanfaatkan seluruh waktu luang untuk bermain bola.

"Saya tidak perlu berpikir lama untuk mengontrak dan melatihnya bersama tim bocah NK Zadar," kenang Bajlo. "Sejak hari pertama di pemusatan latihan, Modric menjadi pemain menonjol."

Sekian lama bersama NK Zadar, Modric perhatian Hajduk Split -- klub di Liga Utama Kroasia. Namun, manajemen Split urung mengontaknya dengan alasan secara fisik Modric tidak meyakinkan.

Modric sempat bermain di Liga Bosnia bersama HSK Zrinjski Mostar


sampai usia 18 tahun. Ia kembali ke NK Zadar, tapi tak lama. Tahun 2000 Modric merumput bersama Dinamo Zagreb, klub yang memperkenalkannya pada permainan level Eropa.

photo

Stadion Bijeli Brijeg, di Mostar, Bosnia Harzegovia. Stadion yang menjadi markas klub Zrinjski Mostar inilah Modric di pada usia 18 tahun. Kapasitas kapasitas stadion hanya 20.000 penonton

Kemudian dia bergabung bersama Dinamo Zagreb. Di sini Modric bermain sepanjang musim dan menjadi idola penggemar sepakbola Kroasia. Tahun yang sama, nama besar lainnya muncul, yaitu Eduardo Da Silva -- striker Kroasia kelahiran Brasil.

Eddie Presland, pencari bakat yang bekerja untuk Tottenham Hotspurs, berangkat ke Zagreb untuk melihat permainan Eduardo. "Namun, Presland lebih tertarik menyaksikan Modric, dan melupakan Eduardo," kata Bajlo.

Presland tiga kali melihat Modric bermain, sebelum merekomendasikan Tottenham untuk membelinya. Newcastle United juga tertarik mendapatkannya. Arsene Wenger, pelatih Arsenal, mengabaikan Modric dan lebih suka mendatangkan Eduardo.

Daniel Levy, chairman Tottenham, terbang ke Kroasia dengan jet pribadi pada musim panas 2008 untuk melihat langsung Modric bermain. Tidak perlu waktu lama bagi Levy untuk yakin Modric akan bersinar di White Hart Lane, kandang Tottenham.

Situasi serupa justru terjadi di ruang ganti Dinamo Zagreb. Hampir seluruh pemain Dinamo Zagreb tidak yakin Si Kurus Modric, dengan sikap hiperaktif-nya, mampu bersinar di Liga Inggris.

Robert Jarni, mantan pemain belakang Kroasia, punya pandangan lain. "Modric seperti Raul. Dia memimpin lini tengah dan belakang dengan skill. Dia tidak perlu berteriak, atau show off," kata Jarni.

Selama empat musim di Liga Inggris, Modric tidak pernah bercerita soal masa lalunya. Begitu pula saat di Real Madrid. Dalam wawancara dengan pers Inggris, Modric hanya bicara pendek soal saat-saat sulit menjadi pengungsi.

"Itu saat-saat yang tidak akan pernah saya lupakan, tapi tidak untuk dibicarakan," kata Modric.

Kini, kendati gagal membawa Kroasia ke podium juara Piala Dunia 2018, Modric tetap produk terbaik sepakbola Kroasia dalam 20 tahun terakhir. Bajlo bangga menemukan Modric, dan melihat sang bocah kurus berkembang menjadi pemain hebat.

Dua puluh tahun silam, Modric kecil menangis ketika tim Kroasia di sikat Prancil di semi final Piala Dunia 1998. Tapi ini, dua dasa warsa kemudian, meski timnas Kroasia di mana dia menjadi kaptennya kembali kalah dengan Prancis, Modric terlihat tegar. Dia sekila terlihat sedih. Namun, dia bisa besar hati dan berwajah cerah ketika menerima trophu sebagau pemain terbaik pada final Piala Dunia di Rusia 2018.

Anak desa Zaton Obrovacki  telah melangkah sangat jauh. Bahkan dia menjadi semacam moteor. Karirnya yang cemerlang sampai menjadi idola, menjadi sinar ilham pada generai Kroasi berikutnya. Negara yang belum lama dirundung perang itu, kini berada di akhir musim semi. Udara di sana pasti mulai mendingin, tapi pasti pula warganya tetap merasa hangat dengan pencapaian Modric itu.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES

REPUBLIKA TV

Republika.co.id

Jumat , 17 Agustus 2018, 09:58 WIB