Selasa, 12 Rabiul Awwal 1440 / 20 November 2018

Selasa, 12 Rabiul Awwal 1440 / 20 November 2018

Amil Sejati tak Pernah Mati

Jumat 13 Jul 2018 04:00 WIB

Red: Agus Yulianto

Nana Sudiana

Nana Sudiana

Foto: dokpri
Amil sejati adalah manusia biasa dengan segala kekurangan dan kelebihannya.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Nana Sudiana, Direktur Pendayagunaan IZI & Sekjend Forum Zakat

 

Amil adalah profesi unik. Tak ada di pilihan daftar pekerjaan di formulir manapun, kecuali masuk di kategori pekerjaan swasta atau lain-lain. Profesi ini pun tak populer di mata anak-anak muda, apalagi para sarjana fresh graduate yang sedang berburu pekerjaan paska wisuda kelulusan.

Walau profesi ini masih debatable, apakah sudah layak disebut sebuah profesi pekerjaam atau belum, ternyata Alquran telah dengan tegas menyebutnya. Amil zakat adalah profesi yang disebutkan dalam Alquran surat At Taubah ayat 60,  Wal aamiliina alaiha. Dalam ayat ini jelas bagaimana Allah menunjukkan bahwa amil memiliki tugas yang jelas. Dengan demikian Amil zakat adalah profesi mulia karena memang dimuliakan Allah

Bagi para amil dimanapun, berbanggalah namun tak berlebihan, berbangga bahwa dengan kedudukan sebagai amil, mampu membantu, menolong dan memperingan kesulitan orang-orang fakir, miskin dan mustahik lainnya yang memang berhak menerima bantuan dari dana zakat, infak dan sedekah yang ada.

Nah, dalam implementasinya, harus diakui bahwa ada begitu banyak amil zakat dengan aneka ragam kepentingan dan gayanya masing-masing dalam memerankan dirinya sebagai amil. Walau begitu, amil sejati tetap saja sama karakter dan gayanya walau bisa jadi ia berada dalam bermacam lembaga yang ada. 

Amil sejati adalah manusia biasa dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Ia juga hadir selayaknya manusia, tentu tak sempurna adanya. Amil sejati tentu saja berbeda dengan amil yang tak memgerti urusan zakat dan substansinya. Amil sejati ini tak mesti berada di lembaga populer dan besar. Ia bisa saja berada di lembaga manapun. Yang menyamakannya adalah karakter dan idealisme mereka sebagai amil.

Amil sejati mungkin bukan tokoh besar dan populer, ia juga sangat mungkin tak pernah muncul di halaman-halaman media terkenal baik dalam skala lokal maupun nasional. Namun, ia justru laksana mesin dalam sebuah mobil, keberadaannya mampu mendorong dan menggerakan mobil menuju titik pencapaian yang dicita-citakan.

Amil sejati ini tak banyak jumlahnya, mereka seringkali menghindari medan kata-kata dalam group-group sosial media yang ada. Mereka tekun dan terus menerus bekerja, walau kesenyapan memerangkap mereka dalam menjalani hari-hari yang dilewatinya. Mereka terus saja bekerja, mengeja hari, melewati satu demi satu persoalan-persoalan dunia amil zakat yang terjadi. Mereka tak mengeluh apalagi berteriak marah, ketika regulasi yang ada membuat mereka bekerja lebih keras dan lebih banyak lagi. 

Mereka ibarat ada di kedalaman bumi, menumbuhkan akar secara perlahan hingga lembaga-lembaga yang mereka bangun bosa kokoh dan siap menghadapi apapun musim dan cuaca di langit biru yang terbuka. Lembaga-lembaga yang mereka kelola pun tak takut melewati badai demi badai yang sengaja atau tak sengaja diciptakan untuk menguji, bahkan mengeerdilkan eksistensi amil yang terus dibangun.

Badai boleh saja berlalu, bisa jadi karena sang badai sendiri bosan menghampiri dan tak membuahkan hasil untuk memangkas dan mengerdilkan dedaunan dan cabang organisasi yang terus tumbuh dan bermekaran. Badai boleh jadi menyiapkan strategi baru, yang akan mencerabut akar lembaga hingga bisa diterbangkan angin dan jatuh entah kemana. Badai mungkin berprasangka, bahwa urusan masa depan mereka terletak di eksistensi dan kedudukan lembaga mereka. Badai lupa, bahwa ada kekuatan yang Maha Dahsyat yang menopang seluruh akar hingga ranting lembaga yang ada, yakni do'a orang-orang lemah dan mereka yang teraniaya dalam hidupnya. 

Mereka orang-orang lemah ini punya frekuensi luar biasa untuk terhubung dan mengundang hadirnya kekuatan Maha Dahsyat untuk mengokohkan, membantu menguatkan dan memberi energi pertumbuhan yang dahsyat yang tak pernah mengenal berhenti dan terbatas adanya. Mereka orang-orang lemah, yang di mata lahir manusia tampak tak berdaya dan hina, ternyata menjadi medium yang sangat baik bagi dijawabnya do'a-do'a yang mungkin saja selama bertahun-tahun dipanjatkan tak mampu terangkat ke langit dan mengetuk pintu rahmat-Nya hingga ia terkabulkan tanpa terhalang sedikitpun hijab.

Fenomena ini yang kadang amil-amil baru, yang belum lama menyelami dunia amil zakat lupa. Bahwa untuk sukses lembaga mereka, kadang segala jurus dan tips mereka lakukan, namun melupakan meminta mustahik-mustahik yang tampak tak berdaya untuk membantu mengetuk pintu langit dan memohonkan agar segala harap dan cita-cita terangkat langit berbalas pengabulan dan ijabah-Nya.

Soal bahwa ada lembaga-lembaga yang hebat, dapat award dan dinobatkan populer dalam sejumlah survey dan jajak pendapat atau persepsi publik, itu semua  sejatinya adalah "bonus" yang tak boleh sedikitpun mengurangi spirit pengabdian dan keikhlasan yang terus harus dijaga dan ditegakan. Bahwa kadang, semakin populer sebuah lembaga maka akan semakin banyak yang berdonasi, bisa jadi tak selinear ini. Urusan menyumbang, mungkin in line dengan popularitas lembaga, namun ursan berzakat bisa jadi berbeda. 

Sejumlah muzaki, kadang punya pendapat berbeda. Mereka kadang merasa lebih iba dan kasihan pada lembaga-lembaga kecil dan baru berdiri dibanding dengan lembaga mapan yang sudah besar dan kokoh pondasinya. Sebaliknya, makin besar penghasilan muzaki, saat yang sama, ia malah ingin tak hanya membantu satu lembaga saja. Ia justru ingin menyebarkan kebaikannya pada semakin banyak lembaga yang ada.

Maka, tak ada jaminan mesin lembaga yang canggih, marketernya hebat-hebat dan organisasinya kokoh tanpa cela lantas menjadi yang terbaik di sisi amil sejati. Amil sejati, justru merasa cemas hatinya ketika lembaganya terus membesar dan tumbuh semakin kuat. Ia sadar bahwa godaan yang ada pun tak semakin kecil dan lemah. Justru angin tantangan semakin kencang dan tekanan dari berbagai arah pun semakin kuat dan bisa jadi mendorong lembaganya jatuh ke dalam "jebakan kehebatan".

Orang atau lembaga hebat, kadang jatuh bukan karena tekanan atau dorongan dari luar. Mereka yang hebat, kadang terjangkit virus kehebatan hingga ke individu-individu yang ada didalamnya. Dan virus ini semakin hari bisa semakin kuat dan luas penyebarannya. Lalu apa dampaknya? 

Virus merasa hebat, akan menumbuhkan kepercayaan diri yang berlebihan, saat yang sama menumbuhkan pula independensi dan semangat kesetaraan. Di luar itu, mulai pula menguat perasaan diri lebih dari yang lain dan menganggap piha lainnya tak sebaik dan sehebat dirinya. Semakin hari, bila ini tak terselesaikan, virus ini akan menjadi wabah dan mengantarkan lembaga pada perpecahan. Dan perpecahan orang-orang hebat, apalagi dalam lembaga yang hebat, tentu saja kualitas pecahnya berbeda dengan lembaga yang biasa saja.

Perpecahan yang di awali konflik perbedaan dan cara pandang akan meluas dengan membangun relasi dan cara pandang yang sama diantara masing-masing pihak. Dan karena perasaan setara demikian tumbuh dengan kuat, maka sebuah komentar hingga manuver salah satu pihak akan berbalas dengan hal setara atau malah lebih hebat.

Ini mungkin sunah oragnisasi hebat, yang akan terus hebat bila mampu melewati goncangan perpecahan. Dan sebagai sebuah sunah atau hukum besi kemunculan lembaga hebat, semakin hebat konflik yang terjadi, semoga semakin mengasah kemampuan sebuah lembaga yang hebat untuk tumbuh dan berkembang semakin hebat. Sebaliknya, bila sebuah lembaga tak sanggup melewati skenario pecah belah dan atau belah pecah ini, maka selesai sudah umur lembaga ini ditangan bergeraknya waktu. Ia akan segera terkubur di dalam kenangan masa lalu dan cerita sejarah. 

Yang tegar di jalan amil

Amil sejati, lahir dalam beragam musim dan cuaca yang terjadi. Sayangnya, sebagian dari pintu masuk lahirnya amil sejati justru bukan dari dunia amil an sich, apalagi dari dunia akademik. Mereka yang memasuki gerbang amil sejati ternyata mereka yang sebelumnya telah berinteraksi dengan dunia gerakan, telah teruji dengan beragam keterbatasan dan mereka juga telah memahami dan mengenal dunia dakwah secara luas. Pengabdian mereka sebagai amil sejati, adalah panggilan jiwa atas nama fitrah dan cita-cita tinggi mereka untuk memperbaiki umat dan dunia.

Amil sejati bukan mereka yang senang dengan basa-basi, puja-puji dan beragam tawaran fasilitas yang serba baik dan tersedia. Mereka terpanggil jiwanya justru untuk memenuhi tantangan kebaikan yang menghentak kesadaran dan jiwa mereka. Mereka hendak berbuat banyak, bahkan dengan kondisi fasilitas yang minimalis sekalipun. 

Mereka biasa taat, disiplin dan tunduk penuh loyalitas, tak ada keluhan atau ketakutan bila mereka dihadapkan pada tantangan yang berat sekalipun. Mereka mengambil pilihan sebagai amil sejati dengan penuh kesadaran, dengan segala konseukuensi dan risiko yang akan diterimanya.

Anak-anak baru yang bergabung di lini amil sejati tak gentar nyalinya bila lembaganya saat ini mungkin belum dikenal atau populer. Mereka sadar bahwa pilihan-pilihan untuk menguatkan gerakan zakat adalah pilihan dakwah untuk memperbaiki kondisi negeri. Mereka bahkan ada yang sejak akan menikah malah meminta calon istrinya untuk bersedia jadi nomor dua setelah dunia dakwah sosial yang ia utamakan. 

Saat ini, telah lahir ribuan amil dalam beragam lembaga yang menaunginya. Namun ternyata, tetap saja tak banyak amil sejati yang memilih berjuang du dunia amil daripada sekedar menjadi pekerja di dunia amil zakat. Para pekerja di dunia amil zakat, bisa jadi ia malah secara lahir justru hadir sebagai ketua, pimpinan, direktur atau jabatan puncak organisasi pengelola zakat yang ada.

Namun, bila mentalitas, idealisme dan cita-citanya bukan sebagai amil sejati, ia sesungguhnya tetap saja berderajat pekerja dunia amil zakat. Apalagi malah, bila ia tak punya latar belakang sebagai aktivis pergerakan, tak punya visi melayani orang-orang dan tak berdiri untuk secara tegar sebagai orang baik dan akan memihak pada kebaikan atas nama sesama dan kemanusiaan.

Orang baik harus memilih posisi, ia harus memberi kebaikan pada sekitarnya dan produk ucapan dan perbuatannya selaras sebagai orang baik. Ia harus mendahulukan kebaikan, menjadi pengabdi kebaikan dan bersedia menahan diri demi kebaikan untuk tak berkata dan berbuat yang tak mendatangkan kemaslahatan.

Orang baik yang tegar, harus bersedia berkomunikasi dan berdialog dengan orang-orang baik lainnya, atas nama kebaikan dan kemaslahatan umat dan bangsa. Ia gadaikan kehormatan dirinya dan ia tempatkan kebaikan di atas kehormatan diri dan keluarganya.

Orang baik, belum tentu mengerti dan mengenal dakwah. Namun setidaknya ia punya kemurnian pikiran dan cara pandang yang selaras dengan tujuan dakwah. Dakwah sebagaimana dimaksud berkehendak menciptakan kebaikan untuk umat. 

Dalam Alquran dijelaskan, “Kalian adalah sebaik-baik ummat yang dilahirkan bagi manusia, kalian menyeru (berbuat ) kebaikan dan mencegah kemungkaran, dan kalian beriman kepada Allah” ( QS. Ali ‘Imran: 110).

Nah, substansi dari dakwah ini sendiri adalah memastikan bahwa tugas manusia selaku hamba Allah (Abdullah) dan pengelola alam (Khalifatullah) di muka bumi ini bisa terealisasi dengan baik. Tugas yang tak lain untuk menjadi bagian yang akan berdiri untuk selalu mengingatkan orang lain agar berbuat baik dan mencegah pada perbuatan mungkar.

Substansi ini sangat penting untuk di tegakkan seorang amil sejati, karena kaitannya dengan masalah kemaslahatan. Amil sejati harus mendorong para mustahik kembali kepada kebaikan dan naungan cahaya Islam. Para mustahik yang dalam hidupnya punya beragam persoalan dan masalah harus semakin meendekat pada Sang Maha pencipta.

Para mustahik, dan juga muzaki butuh terus di edukasi agar semakin mendapatkan pencerahan Islam dalam setiap pencarian solusi dalam kehidupan mereka. Mereka juga harus dipastikan semakin hari semakin mengenal dan memahami Islam sebagaimana ia semakin berinteraksi dengan lembaga-lembaga amil yang ada. Jangan biarkan para muzaki dan mustahik ini, berdekat-dekat dengan lembaga zakat, namun ia justru semakin dekat pula dengan kemaksiatan dan menjauhi kebaikan.

Negeri dan bangsa ini sejatinya semakin membutuhkan kehadiran dan kiprah para amil untuk menyuburkan kebaikan hingga ke sudut-sudut negeri yang jauh. Amil harus terus hadir dan menjadi penyejuk bangsa dan umat agar kegersangan jiwa terkikis dan perlahan hilang tertiup kebaikan. Kebaikan harus terus hadir dan menjadi spirit kehidupan sampai kapanpun.

 

Ditulis dalam perjalanan Semarang-Jakarta, Senin, 9 Juli 2018.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES

In Picture: Persija Menang 3-0 Atas Persela

Selasa , 20 Nov 2018, 20:53 WIB