Jumat, 8 Rabiul Awwal 1440 / 16 November 2018

Jumat, 8 Rabiul Awwal 1440 / 16 November 2018

Surat dari Paris: Generasi Tik Tok

Jumat 06 Jul 2018 08:00 WIB

Red: Agus Yulianto

Banyak akses dari media sosial saat ini yang amat bermanfaat jika kita gunakan secara positif.

Banyak akses dari media sosial saat ini yang amat bermanfaat jika kita gunakan secara positif.

Foto: Dokumen pribadi
Kecanggihan teknologi saat ini, seharusnya bukan menjadi kendala.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Sarah Ismi Kamilah, Ibu Rumah Tangga tinggal di Paris

 

Awalnya saya agak bingung dengan fenomena tik tok di Indonesia. Jujur, saya tidak terlalu mengikuti detail atau bahkan tidak tahu kalau tik tok adalah sejenis aplikasi yang lagi viral di Indonesia. Sampai pada akhirnya saya coba mencari tahu dan melihat sendiri faktanya. Sedih dan miris rasanya mengetahui banyaknya generasi saat ini yang mengekpresikan dirinya dengan tindakan yang tidak sewajarnya di dalam aplikasi tersebut. Mulai dari menjelek-jelekkan wajah sendiri atau parahnya memainkan wajah bayi baru lahir tanpa izin orangtuanya, nyanyi lipsing dengan berbagai gaya bak artis, bahkan sampai ada yang terang-terangan mempermainkan gerakan shalat lewat aplikasi tersebut. 

Semua mereka lakukan kebanyakan untuk mendapat ketenaran kilat, seru-seruan, dan menunjukkan ekspresinya yang menjadi bagian dari pencarian jati dirinya di fase remaja. Mirisnya lagi yang melakukan hal ini tidak sedikit, bahkan banyak artis tik tok yang terkenal secara kilat karena video tik tok-nya viral di media sosial.

Para fans remaja juga tidak malu menggambarkan kekaguman yang sudah kelewatan terhadap artis-artis tik tok favoritnya. Mulai dari mengambil uang orangtuanya demi bertemu artis tik tok pujaanya, buat status kalau rela menjual ibunya demi bertemu artis tik tok pujaannya, bahkan menyebut artis tik tok pujaannya sebagai Tuhan.

Sungguh fenomena generasi tik tok yang amat mengerikan dan sudah sangat kelewat batas. Banyak masyarakat yang geram dan mengirimkan laporan tentang aplikasi ini dan akhirnya tanggal 4 Juli 2018 lalu aplikasi tik tok ini akhirnya diblokir oleh kominfo. Meskipun terakhir saya liat berita terbaru kemungkinan aplikasi tik tok ini bisa diakses lagi secepatnya jika pihak tik tok membersihkan konten yang tidak baik dan membatasi umur pengguna aplikasi ini. Sebenarnya bukan aplikasinya yang salah, tapi sejatinya generasi muda kita saat ini sedang sakit parah. 

Kalau kita coba memandang jauh ke belakang bagaimana para ulama itu membangun dan mengisi peradaban diusia yang sangat muda. Mereka banyak menghasilkan karya yang brilian dan pastinya bermanfaat untuk banyak orang. Bahkan, tak sedikit konntribusi yang mereka lakukan yang karyanya bisa digunakan sampai saat ini.

Menghafal Alquran, hadis, belajar pengetahuan Islam, pengetahuan umum dan berkontribusi untuk kesejahteraan umat. Ini sudah menjadi pola umum di generasi saat itu. Sehingga, timbul pertanyaan besar dalam pikiran saya, kok bisa ya generasi yang ada saat ini jauh berbeda dengan generasi saat itu padahal Tuhannya sama yaitu Allah, agamanya sama yaitu Islam, Nabinya sama Muhammad SAW, kitabnya sama yaitu Alquran. Tapi kok hasilnya sangat berbeda jauh? Yang satu bisa menghasilkan generasi cemerlang yang satu malah menghasilkan generasi malang. 

Ternyata setelah coba saya renungkan kembali ada yang hilang di generasi saat ini dan ada pada generasi saat itu. Islam memang ada di hadapan generasi saat ini, tapi tidak dijadikan sebagai jalan hidup atau way of life mereka. Berbeda dengan generasi dulu yang menjadikan Islam sebagai way of life, yang tidak hanya ada di lisan tapi juga di tingkah laku bahkan disertai suasana keIslaman di sekitarnya. Pantas saja Allah sampai mengingatkan kita dalam firman-Nya yang artinya:

"Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lain." (QS. Al-A'raf ayat 179)

Dalam firman Allah di atas manusia sampai diibaratkan lebih buruk daripada binatang ternak jika kita tidak menggunakan semua potensi yang Allah berikan dengan semestinya. Ini pun yang amat membuat saya miris. Jujur, saya memaklumi meskipun terkadang ngeri jika saya melihat banyak generasi muda di tempat saya tinggal sekarang yaitu Paris, yang hidupnya dipenuhi dengan gaya hidup bebas, yang seringnya malah kebablasan dan amat mengerdilkan potensinya. Karena mereka memang non muslim yang belum tahu jalan hidup sebenarnya yaitu Islam. Dan wajar jika mereka seperti itu. Sedangkan generasi Muslim di Indonesia yang sejatinya sudah menjadi Muslim bahkan dari lahir, malah jauh dari aturan Islam sendiri. Ini yang amat saya sedihkan, pantas saja generasi muda saat ini jauh dari kata cemerlang.

Kecanggihan teknologi saat ini, seharusnya bukan menjadi kendala. Tetapi, sejatinya bisa menjadi sarana generasi muda untuk terus berkarya dalam membangun masyarakat. Banyak akses dari media sosial saat ini yang amat bermanfaat jika kita gunakan secara positif.

Saya yakin tidak ada kata terlambat untuk berubah menjadi lebih baik. Jika masyarakat dan generasi mudanya kembali lagi pada Allah dan menjadikan Islam sebagai way of life mereka, maka tidak ada yang tidak mungkin membuat negeri ini bangkit dengan generasinya yang cemerlang. Saat Islam dijadikan aturan hidup yang menyeluruh dalam kehidupan kita semua, insya Allah itu semua bukan hanya mimpi karena itu adalah janji Allah bagi hambaNya yang berusaha untuk menjadi hamba yang bertakwa. Wallahu a’lam bi ash-shawaab

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES