Monday, 3 Rabiul Akhir 1440 / 10 December 2018

Monday, 3 Rabiul Akhir 1440 / 10 December 2018

Menyoal Kehadiran di Forum AJC Israel

Kamis 14 Jun 2018 00:35 WIB

Red: Agus Yulianto

Syukri Wahid

Syukri Wahid

Foto: istimewa
Israel baru saja melakukan aksi brutal terhadap warga Palestina.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Syukri Wahid, pegiat Sosial Politik

Kembali lagi dunia medsos dan media massa jadi heboh atas tindakan bapak Yahya C Staquf pada acara AJC (American Jewish Committee) yang di selenggarakan di Al Quds Yerussalem, belum lama ini. Kendati kehadirannya di sana kapasitasnya sebagai Sekjend NU, tetap saja beliau adalah petinggi MUI dan terkhusus adalah anggota Wantimpres bapak Presiden Jokowi.

photo

Presiden Joko Widodo (kanan) menyalami Khatib Aam PBNU Yahya Cholil Staquf seusai mengikuti prosesi pelantikan sebagai anggota Wantimpres di Istana Negara, Jakarta, Kamis (31/5).

Bapak Yahya yang terhormat, dalam ulasan Anda yang saya nonton tampak terlihat sekali Anda berhati-hati bicara di hadapan pewawancara. Tampak seolah "menjaga" perasaan dari audiens agar kehadiran bapak adalah perekat dengan ungkapan Rahmah dan ajaran Islam yang Anda singgung berupa Quran dan Hadits yang disampaikan dahulu lebih bersifat kontekstual di zamannya kala itu.

Dan kini dianggap sudah tidak lagi relevan dengan konteks kekinian, sepertinya bapak masuk jebakan opini atau memang bapak ingin menggiring model "opini Islam" seperti itu.

Saya hanya prihatin di saat beberapa waktu lalu aksi brutal militer di perbatasan Gaza telah merenggut nyawa warga sipil dan dunia sepi soal ini, lantas kehadiran bapak di sana ibarat membuat luka yang sudah terbuka kian melebar dan sakit.

Sebab, tak satupun keluar dari lisan bapak tentang membela Palestina seperti klaim Anda hadir di sana. Terlebih KH Ma'ruf Amin di media menegaskan, Anda tidak mewakili NU dan MUI. Lantas, mewakili siapa?

Sebegitu penting bapak menjadi narasumber di sana membuat saya berpikir, jika yang diundang bapak sebagai person pasti bapak orang yang sangat penting bagi penggagas forum tersebut sehingga dianggap bisa menjadi representasi tokoh Islam Indonesia. 

Atau mungkin karena jabatan bapak sangat penting di negeri ini. Mungkin bapak bisa berdalih bahwa hadir di sana bukan sebagai perwakilan umat Islam Indonesia, tapi  di atas panggung tertera bapak adalah Sekjen Ormas Islam tertua di negeri ini yang sangat dihormati oleh kita semua.

Pertanyaannya bisakah dijadikan alat untuk menjudge bahwa itu adalah suara umat Islam Indonesia? Jika itu yang ditangkap oleh publik, maka sungguh bapak telah masuk jebakan forum tersebut sehingga kampanye bapak Presiden Jokowi "menjual" isu kemerdekaan Palestina menjadi sekedar lip service dengan posisi bapak yang tak lepas sebagai anggota Wantimpres.

Lupakan kita bagaimana utang sejarah presiden pertama saat menggelar KAA di Bandung dengan dorongan semangat lahirnya 10 Dasila Bandung, yang intinya mendukung negara peserta untuk mengambil kemerdekaannya. Dan Palestina adalah negara yang belum merdeka hingga kini.

Justru bapak memframing seolah relasi Israel dan Palestina adalah konflik kemanusiaan, padahal sudah sangat jelas status Israel terhadap Palestina adalah penjajah. Apakah bapak lupa dengan amanah pembukaan UUD 1945 kita?

Dan setelah kehadiran bapak di sana disaat luka pejuang Palestina belum kering darahnya dan Anda kelihatan "berapologi" dengan pihak Israel melalui sudut pandang nilai keramahan dan toleransi yang bapak kutip. 

Tapi, tanyakanlah kepada mereka yang sekarang ini sedang berada di Palestina, apakah niat bapak tersebut menguatkan perjuangan Palestina atau justru sebaliknya. 

Bahkan lebih parah jika ada stigma Muslim Indonesia seolah-olah pro dengan apa yang dilakukan Penjajah Israel sekarang. Lantas untuk siapakah kehadiran bapak di sana?

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES