Thursday, 6 Rabiul Akhir 1440 / 13 December 2018

Thursday, 6 Rabiul Akhir 1440 / 13 December 2018

Amien Rais Turun Gunung dan Catatan Capres-Cawapres PAN

Rabu 13 Jun 2018 03:38 WIB

Red: Elba Damhuri

Pendiri PAN Amien Rais, dua mantan Ketua Umum PAN Sutrisno Bachir dan Hatta Rajasa, Ketua Umum PAN Zulkifli serta Sekjen PAN Eddy Soeparno berfoto usai menggelar kegiatan buka puasa bersama di rumah dinas Zulkifli Hasan di Jakarta, Sabtu, (9/6).

Pendiri PAN Amien Rais, dua mantan Ketua Umum PAN Sutrisno Bachir dan Hatta Rajasa, Ketua Umum PAN Zulkifli serta Sekjen PAN Eddy Soeparno berfoto usai menggelar kegiatan buka puasa bersama di rumah dinas Zulkifli Hasan di Jakarta, Sabtu, (9/6).

Foto: Istimewa
Jika pendiri partai turun gunung artinya situasi politik sudah luar biasa.

REPUBLIKA.CO.ID  Oleh: Didik J Rachbini 

 

Sahabat saya yang melek politik --bahkan lebih dari itu, ia sebagai seorang akademisi dan doktor di bidang politik-- berdiskusi di sosial media dan berpesan: “MAR harus maju, Mas. Kalau Mahathir bisa, MAR pasti bisa.”

MAR adalah Muhammad Amien Rais, yang sekarang turun gunung politik, menjadi oposisi, dan malakukan kritik keras terhadap pemerintah sehingga gesekan politik lumayan mengeras. Turun gunung politik, MAR membawa isu pembelaan terhadap kepentingan Islam, membela kepentingan ulama --yang selama dua tahun terakhir ini dikriminalisasi.

Juga, isu Freeport, tenaga kerja asing, reklamasi teluk Jakarta, dan sejenisnya. MAR tampil sebagai oposisi keras sehingga dirasakan sangat mengusik pemerintah yang sedang berkuasa.

Saya balik bertanya: “Apakah ini pernyataan serius?” Dijawab kembali: “MAR serius apa tidak?” Yang jelas niat awal MAR turun gunung politik bukan untuk mencalonkan diri sebagai capres atau cawapres.

Tetapi ketika ditanya wartawan MAR tidak menjawab iya atau tidak, maka wartawan langsung membuka wacana politik baru, MAR masuk kembali ke dalam politik untuk ikut bertanding.

Bagaimana sebenarnya? Asal muasalnya adalah Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan yang membuka ruang bagi tokoh-tokoh potensial PAN untuk tampil dan ditampilkan ke publik tidak saja sebagai tokoh partai tetapi juga sebagai tokoh yang bisa dicalonkan sebagai capres atau cawapres. Sebagai partai politik, PAN bergerak untuk memainkan kartu dan ketokohan empat figurnya (Zulkifli Hasan, Soetrisno Bachir, Hatta Rajasa, dan MAR) untuk meramaikan dan mendinamisasi “political market”, yang sedang hangat.

Kehadiran MAR dkk sebagai bakal capres atau cawapres wajar saja dan normal dalam politik. Ya ini permainan seperti saham yang dirasakan tidak bergerak dinamis. Lalu ada aksi korporasi untuk mendinamisasikan partai secara internal ke dalam dan menjawab pertanyaan publik ke luar, PAN bagaimana dan seperti apa langkah gerak politiknya.

“Kalau pendiri partai sudah turun, artinya sudah luar biasa, Mas. Seperti di Malaysia itu,” itu pandangan analis luar terhadap perkembangan baru yang terjadi di internal PAN.

Meskipun MAR tidak berniat maju, tetapi politik adalah seni segala kemungkinan dengan titik akhir yang juga banyak kemungkinannya. Tetapi seluruh tindakan politik dan hasil akhirnya sangat tergantung response publik dan masyarakat.

Jika respons publik bagus, maka langkah-langkah politik akan terus maju sampai pada titik kemungkinan tertinggi. Inilah tentu yang diharapkan oleh aprtai politik, yang tujuannya adalah “to maximize votes” (suara pemilih sebanyak mungkin).

Sebaliknya, jika respons publik biasa saja atau bahkan rendah maka tokoh-tokoh partai perlu atau secara rasional akan lebih realistis dengan sendirinya. Riset akademik, survei yang masuk akal dan jujur bisa membaca itu dan mengukur kekuatan politik tokoh atau partai. Tidak hanya itu, analisis sentimen dengan memanfaatkan big data bisa membaca respons masyarakat terhadap perkembangan baru yang terjadi di PAN.

PAN adalah partai menengah. PAN potensial menjadi mitra koalisi untuk mengusung capres dan cawapres. Langkah politik yang dilakukan sekarang ini memberi efek terbuka terhadap kemungkinan lebih banyak tokoh bisa mencalonkan diri sebagai capres atau cawapres.

Dengan dinamika internal seperti ini, maka ide calon tunggal sudah tutup buku karena partai-partai tidak bisa digiring lagi ke arah satu calon yang dianggap kuat. Dinamika baru ini juga membuka peluang lahirnya poros ketiga lebih besar lagi sehingga pilpres 2019 menjadi lebih dinamis.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA