Tuesday, 10 Zulhijjah 1439 / 21 August 2018

Tuesday, 10 Zulhijjah 1439 / 21 August 2018

Puasa Ramadhan-19

Senin 11 June 2018 04:00 WIB

Red: Agus Yulianto

Ustadz Imam Shamsi Ali memberikan paparannya saat kunjungan di Kantor Republika, Jalan Warung Buncit, Jakarta, Jumat (23/3).

Ustadz Imam Shamsi Ali memberikan paparannya saat kunjungan di Kantor Republika, Jalan Warung Buncit, Jakarta, Jumat (23/3).

Foto: Republika/Mahmud Muhyidin
Orang yang tidak mau berdoa boleh jadi karena merasa tidak membutuhkan.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Imam Shamsi Ali, Presiden Nusantara Foundation

 

Memasuki bulan-bulan sepuluh hari terakhir bulan Ramadan merupakan saat-saat terbaik untuk mendedikasikan segalanya untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Di hari-hari inilah kita disunnahkan untuk melakukan i’tikaf selama 10 hari. Bahkan di akhir hayat Rasulullah SAW beliau melakukannya selama 20 hari terakhir.

Dalam ajaran Islam, penentuan sebuah amalan itu dinilai pada tahap akhirnya (khawatim). Sehingga sangat wajar jika sepuluh malam terakhir Ramadan menjadi perhatian besar Rasulullah SAW dalam amalan Ramadan. 

“Al-a’malu bi khawatimiha” (amalan itu ditentukan oleh akhirnya). Demikian penegasan Rasulullah SAW. 

Jangankan amal per amal dalam hidup manusia. Hidup itu sendiri akan ditentukan akhirnya. Sehingga salah satu impian terbesar seorang Mukmin adalah berakhir hidupnya dengan baik (good ending). Atau yang dikenal dalam bahasa agama dengan “husnul khatimah”. 

Tidak mudah memang. Karena semakin besar nilai amal, termasuk nilai pada akhir-akhir Ramadan ini, semakin besar pula tantangannya. Di satu sisi kita memasuki masa-masa “lelah” (futuur). Di sisi lain, berbagai distruksi mulai tumbuh, termasuk mempersiapkan Idul Fitri misalnya. 

Intinya adalah salah salah satu kesalahan bahkan kegagalan amalan Ramadan adalah ketika di hari-hari akhir semakin semakin menurun, amal juga mengalami degradasi, bahkan malas dan perasaan letih melanda. Dan yang paling celaka adalah ketika hari-hari terakhir justeru kita kembali sibuk dengan dunia, bahkan dosa-dosa.

Kemungkinan untuk terjatuh ke dalam cengkraman dunia, dan lilitan dosa itu dapat terlihat dalam berbagai bentuk acara di media massa. Acara-acara televisi misalnya berlomba menampilkan berbagai bentuk konsumerisme yang lambat laun menumbuhkan kecenderungan hedonisme hidup.

Jika itu terjadi berarti puasa yang dilakukan mengalami kegagalan total. Sebab obyektif utama puasa adalah memerangi hawa nafsu manusia. Membabat kecenderungan hidup materialistis, konsumeris dan hedonis. Tiga penyakit dunia yang kronis saat ini. 

Oleh karenanya di sepuluh malam terakhir ini disunnahkan untuk melakukan ibadah yang bersifat sangat fokus. I’tikaf adalah berdiam di rumah Ibadah untuk melakukan rangkaian ibadah kepada Allah SWT. 

Tentu kita sadar tidak semua kita memiliki kemampuan dan waktu untuk beri’tikaf. Tapi juga tidak harus menjadi alasan untuk tidak melakukan “mujahadah” (Sungguh-Sungguh) dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT. 

Karena selain pertimbangan “al-a’malu bikhawatimiha”, bahwa amalan itu dinilai dengan akhirnya, tentu juga karena memang berbagai amalan di hari-hari akhir Ramadan Itu memilki nilai tambah. 

Salah satunya bahwa di akhir-akhir Ramadan ini Alquran sebagai “miracle of all miracles” (mukjizat terbesar) diturunkan. Bahkan akan ada satu malam yang disediakan khusus sebagai bonus hidup. Satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. 

Dan karenanya kesungguhan dalam melakukan “al-Qurbah” (mendekatkan diri) kepada Allah ada pada hari-hari ini. Mungkin ini salah satu makna penting ketika Allah menempatkan ayat kedekatanNya kepada kita di antara ayat-ayat puasa itu. 

“Dan jika hambaKu bertanya kepadamu (Wahai Muhammad) sampaikan jika AKU dekat (kepada mereka). AKU menerima doa siapa yang berdoa kepadaKu. Maka penuhilah ajakanKu dan berimanlah kepadaKu. Mudah-mudahan mereka mendapat petunjuk” (Alquran). 

Salah satu hal yang berkaitan langsung dengan upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT adalah dengan melalui doa. Doa bukan sekedar karena kita butuh. Tapi doa sekaligus menjadi tanda iman dan kedekatan itu sendiri. 

Bahkan doa sekaligus juga sebagai intisari ibadah dan ketawadhuan seorang hamba kepada Tuhannya. “Berdoalah kepadaKu niscaya Aku kabulkan”. 

Rasulullah SAW menggaris bawahi: “doa itu adalah otak ibadah”. Kata “mukhkhu” di sini diartikan sebagai “intisari” dari ibadah-ibadah yang kita lakukan. Sebab ibadah intinya kedekatan dan kerendah hatian kepada Allah. Dan pada doa keduanya menjadi substansi dasarnya.

Orang yang tidak mau berdoa boleh jadi karena merasa tidak membutuhkan. Dan perasaan tidak membutuhkan ini merupakan keangkuhan dengan sendirinya. Bagaimanapun keadaannya hanya satu yang tidak pernah ada kebutuhan. Hanya DIA yang mencipta langit dan bumi.

“Allah itu Yang Maha Kaya dan kamu semua fuqara (membutuhkan)” (ayat). 

Maka orang yang tidak merasa perlu berdoa dapat dikategorikan “mukabbir” (orang sombong). Dan kesombongan adalah salah satu penghalang untuk masuk syurga. 

“Siapa yang di hatinya ada kesombongan walau sebesar “dzarr” tidak akan masuk syurga” (hadits). 

Untuk itu, pergunakanlah hari-hari terakhir di bulan mulia ini dengan mendekatkan diri kepada Allah. Bagi yang bisa beri’tikaf lakukanlah. Bagi yang belum intensifkan ibadah-ibadah yang memungkinkan. 

Minimal, jangan justeru semakin Ramadan mendekati akhir, justeru ibadah-ibadah juga semakin menurun drastis. Hendaknya masjid-masjid semakin ke akhir Ramadan juga semakin penuh syairnya. Bukan sebaliknya, semakin kosong dari jamaah.

Mujahadah mendekatkan diri dengan berbagai ibadah dan doa dengan penuh ketawadhuan hendaknya menjadi amalan terpenting di akhir Ramadan kita. Semoga! 

 

Jamaica Hills, 5 Juni 2018 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES

In Picture: Jamaah Haji Berwukuf di Arafah

Senin , 20 August 2018, 23:56 WIB