Thursday, 9 Sya'ban 1441 / 02 April 2020

Thursday, 9 Sya'ban 1441 / 02 April 2020

Upaya Meneroriskan Muhammadiyah

Sabtu 02 Jun 2018 08:19 WIB

Red: Elba Damhuri

Logo Muhammadiyah di Masjid At-Taqwa, kantor PP Muhammadiyah, Jakarta Pusat, Jumat (27/6) malam.

Logo Muhammadiyah di Masjid At-Taqwa, kantor PP Muhammadiyah, Jakarta Pusat, Jumat (27/6) malam.

Foto: Republika/Yasin Habibi
Kiai Dahlan mengajarkan warga Muhammadiyah berpikir terbuka dan kritis.

REPUBLIKA.CO.ID  Oleh: Arif Jamali Muis, Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DIY

Akhir-akhir ini berita tentang teroris yang dikaitkan dengan Muhammadiyah begitu marak di media massa, terutama media sosial. Entah disengaja atau tidak, para penganut “ideologi maut” itu dikaitkan dengan persyarikatan Muhammadiyah.

Lihatlah salah satunya pemberitaan di satu situs Islam yang mengkutip pendapat pengamatan terorisme Muhammad In’am Amin bahwa mantan napiter 99 persen memiliki background Muhammadiyah. Baik dari latar belakang alumni sekolah Muhammadiyah maupun keluarga Muhammadiyah.

Lalu ramai-ramai orang mengatakan ada yang salah dari model pendidikan Muhammadiyah. Atau ideologi Muhammadiyah memang menyumbang bagi munculnya kekerasan atas nama agama.

Narasi-narasi itu bermunculan seakan-akan memang diproduksi untuk menyatakan Muhammadiyah memerlukan program deradikalisasi dan perubahan mendasar dalam pemahaman agamanya, baik di lembaga pendidikannya maupun secara luas organisasinya.

Bagi yang pernah merasakan pendidikan Muhammadiyah tentu merasa aneh dengan kesimpulan yang mengaitkan para terorisme dengan hasil lembaga pendidikan Muhammadiyah, logika yang terlalu dipaksakan.

Kultur berpikir
Muhammadiyah mendirikan lembaga pendidikan dari PAUD hingga perguruan tinggi, adalah cara dakwah untuk mencerdaskan anak bangsa. Karakter yang selalu muncul sejak KH Ahmad Dahlan mendirikan sekolah di Kauman selain menanamkan nilai-nilai keislaman adalah mengajarkan para siswanya berpikiran kritis dan terbuka. Cara berpikir inilah yang juga menjadi ciri khas warga Muhammadiyah.

Lihatlah KH Dahlan menjawab pertanyaan santrinya apa itu agama. Jawaban KHA Dahlan dengan meminta santrinya memainkan biola. Tentu nada yang dihasilkan tidak baik karena santrinya tidak bisa memainkan biola. Lalu Kiai Dahlan memainkan biola dengan baik yang menghasilkan nada yang merdu dan nikmat. Kata Kiai Dahlan, itulah agama. Jika kita memahaminya akan menghasilkan suasana yang damai dan merdu. Tetapi jika kita tidak memahami agama akan menghasilkan suasana yang gaduh dan tidak menyenangkan.

Kiai Dahlan ingin mengajak santrinya berpikir kritis bukan hanya doktrin dan mengikuti definisi sang Kiai belaka. Kisah lain untuk menggambarkan Kiai Dahlan mengajarkan warga Muhammadiyah berpikir terbuka, pada suatu acara dia mengundang tokoh perempuan Komunis (PKI) untuk berceramah di hadapan warga Muhammadiyah.

Selesai ceramah ada warga Muhammadiyah yang protes mengapa tokoh komunis diundang di pengajian Muhammadiyah. Kiai Dahlan menjawab mereka yang dianggap salah dan tidak mengakui Tuhan saja penuh semangat dan rapi dalam memperjuangkan keyakinan meraka, kita yang berlandaskan Alquran harusnya lebih semangat lagi.

Ambil yang baiknya untuk kita contoh dan tinggalkan yang buruknya. Betapa Kiai Dahlan ingin mengajarkan kepada warga Muhammadiyah untuk berpikir terbuka, menerima kebaikan dan kebenaran dari siapa pun bahkan dari seorang komunis yang tidak mengakui Tuhan.

Budaya berpikir kritis dan terbuka tersebut sampai saat ini menjadi ciri khas warga Muhammadiyah, termasuk di lingkungan pendidikan Muhammadiyah. Ribuan sekolah dari PAUD hingga perguruan tinggi Muhammadiyah di seluruh Indonesia menanamkan cara berpikir kritis dan terbuka ini. Sehingga alumni lembaga pendidikan Muhammadiyah berbagai macam warna dan corak pemikiran.

Kita bisa menyebut seperti Budiman Sujatmiko alumnus SMA Muhammadiyah I Yogyakarta, yang mendirikan PRD, hingga saat ini aktif di PDIP dan menjadi anggota DPR RI, Ebiet G Ade seniman senior, dan sang sutradara Hanung Bramantyo. Atau kalau kita tarik jauh ke belakang ada Sukarno yang ingin jenazahnya diselimuti bendera Muhammadiyah, Panglima Besar Sudirman, hingga Soeharto yang mengaku hasil didikan sekolah Muhammadiyah.

Masih ada lagi ribuan guru, dosen, ilmuwan hasil didikan lembaga pendidikan Muhammadiyah. Cara berpikir yang kritis dan terbuka itulah yang menghadirkan diaspora alumni lembaga pendidikan Muhammadiyah dengan berbagai macam cara melihat dunia ini.

Menafikan data di atas bahwa hasil didikan lembaga pendidikan Muhammadiyah jauh lebih banyak menampilkan profil alumni yang baik dan hanya menyoroti bahwa terorisme berlatar belakang Muhammadiyah. Kita patut curiga ada unsur kesengajaan untuk menyudutkan Muhammadiyah, dengan memframing di media bahwa bibit terorisme muncul di Muhammadiyah, entah apa kepentingan melakukan framing tersebut.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA