Thursday, 7 Rabiul Awwal 1440 / 15 November 2018

Thursday, 7 Rabiul Awwal 1440 / 15 November 2018

Sejarah Baru BKPRMI

Selasa 24 Apr 2018 11:28 WIB

Red: Karta Raharja Ucu

Badan Komunikasi Pemuda Masjid Indonesia (BKPMI)

Badan Komunikasi Pemuda Masjid Indonesia (BKPMI)

Foto: BKPMI
Ada banyak problematika yang acap mendera umat.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Dr (Cand.) Rahmat Mulyono, M.Pd. *

Menara bayonet kami

Kubah perisai kami

Masjid barak kami

Iman prajurit kami

Desember 1997, bait-bait terjemahan puisi Ziya Gökalp di atas pernah mengantarkan wali kota Istanbul masa itu, Recep Tayyip Erdogan, ke bui. Puisi yang selengkapnya berjudul "A Soldier’s Prayer” itu dianggap otoritas penguasa Turki mengancam ideologi negara yang berasaskan pada sekulerisme. Bait-bait puisi itu sarat simbol keislaman yang mengancam sekulerisme di Turki. Padahal, Gökalp, sang pembuat puisi itu, sejatinya sosok sekuler; ia membuat puisi itu tak lebih sebagai wujud patriotisme dan kenangan atas kebesaran Turki pada masa silam.

Nyatanya, puisi itu tak sekadar karya remeh-temeh. Pembuian Erdogan selama 10 bulan kelak memberikan kesan berarti bagi banyak warga Turki. Antara kumandang puisi di atas dan ketidakadilan yang diterimanya. Di tangan Erdogan, lima tahun kemudian, puisi itu seolah menjelma jadi kenyataan. Imajinasi dan fiksi dalam kata-kata, betapapun awalnya sebuah kerinduan seorang penyair, atas izin Allah dan ikhtiar Erdogan, menghadirkan satu perubahan.

Tentu puisi Ziya Gökalp bukanlah mantra yang mengubah segalanya. Hanya saja, dari puisi tersebut ada kerinduan untuk berbulat tekad menghadirkan perubahan; perubahan yang meliputi dimensi lahiriah dan terutama lagi batiniah. Betapa ruang sekulerisme menyerabut kemanusiaan sehingga dalam relung fitrah insani ada gelora untuk memenuhi panggilan kebesaran Ilahi.

Bukan satu mustahil dari kebulatan tekad, hadirnya perubahan berawal dari kata-kata mereplikasi apa yang terjadi di Turki sana. Kemauan keras untuk mengadakan, menyeriusi, dan mempertanggungjawabkan gagasan perubahan bukan hal mustahil tergapai.

Kiranya bukan karena tanpa sebuah visi bagi hadirnya peradaban gemilang pada abad XV Hijriah, para anak muda seperti Toto Tasmara, Bambang Pranggono, Ahmad Mansur Suryanegara, dan kawan-kawan, membentuk Badan Komunikasi Pemuda Masjid Indonesia (BKPMI) pada 3 September 1977 (19 Ramadhan 1397 Hijriyah) di Masjid Istiqamah Bandung, Jawa Barat.

Pada organisasi yang kelak berganti nama menjadi Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI), sekaligus lembaga otonom dari organisasi Dewan Masjid Indonesia (DMI), ada cita-cita yang hendak ditabalkan matang-matang. Artinya, bila generasi semisal Bapak M. Natsir memandang optimis abad XV, maka di pundak para junior di BKPRMI inilah ikhtiar menghadirkan perubahan bagi umat—terutama di Indonesia—dicanangkan secara tersistematis. Dengan demikian, masjid, pemuda atau remaja, dan pemajuan peradaban Islam menjadi satu simpul yang terintegrasi ketika membincangkannya.

Yang menjadi pertanyaan refleksif adalah, pada umur kepala empat lebih ini, bagaimana elan vital BKPRMI dalam menggerakkan perubahan? Ada banyak problematika yang acap mendera umat; ada pula masalah baru yang menyertai perubahan zaman. Di satu sisi, ada kendala yang teratasi, tetapi di sisi lain justru hadir lagi persoalan berbeda.

Apa pun wujudnya, masalah, kendala, tantangan, atau bahkan ancaman memang niscaya dalam perjuangan menegakkan kebenaran. Inilah kondisi yang melekat dari para dai dalam Islam. Justru di situlah perlu dipecahkan analisis dan jawaban yang presisi agar hadir solusi atau paling tidak antisipasi kemungkinan yang lebih buruk bagi umat atau bangsa ini.

Kecanggihan membaca perubahan zaman seyogianya hal yang dikuasai sejak awal bagi pegiat dakwah di BKPRMI. Jangan sampai perubahan yang direspons sekadar yang bertalian dengan iming-iming kekuasaan, sementara umat ditinggalkan. Yang ada, umat diperbudak oknum dai yang bermain-main dengan kekuasaan. Padahal, umat masih berkubang dengan sekian persoalan yang malah diabaikan kekuasaan tersebut.

Celakanya, ulah oknum dai itu dilihat sebagai bentuk wajah Islam; ya, Islam yang lemah dan seakan pasrah diperlemahkan pihak lain! Hingga tak jarang terjadilah apa yang dikatakan Buya Hamka dalam Dari Hati ke Hati (2002: 129), “orang Islam sendiri percaya bahwa dia memang lemah, dia mundur, agamanya tidak cocok lagi dengan zaman; sebab itu hentikanlah Islam dan pindahlah ke agama lain!”

Perubahan tentu saja bukan sebatas mengganti yang lama dengan “asal berbeda”. Bukan semata soal simbol karena yang lebih penting lagi adalah mengganti alam hingga model berpikir. Tegasnya, mengubah sejarah berpikir, dari yang semula mencari aman menuju pemberdayaan kapasitas diri. Inilah kredo sejarah baru ketika dilekatkan pada BKPRMI ke depan.

“Salah satu bukti dari keabadian umat ini adalah bahwa bencana dan malapetaka tidak akan dapat menghancurkan dan membinasakannya, tapi dalam diri mereka membersit jiwa perlawanan dan pertentangan,” demikian nasihat Syaikh Dr Yusuf al-Qaradhawi dalam Membangun Masyarakat Baru (1997: 184). Dalam kelemahan ataupun keterbatasan yang ada pada umat ini, upaya mengatasi hingga akhirnya umat ini menjadi kokoh, tidak perlu diragukan. Pada situasi seperti apa? Kata al-Qaradhawi, “mereka berhasil mengatasi berbagai faktor kelemahan yang mengungkung mereka dengan kekuatan jiwa yang terbentuk dalam diri mereka.”

Inilah soal kebersamaan dan kekuatan, dan di atas itu semua berupa keinsafan untuk segera mewujudkannya. Inilah potensi umat yang menyebar, tanpa terkecuali dalam dada-dada pegiat dakwah yang bernaung dalam BKPRMI. Nasihat Bapak M. Natsir kiranya patut direnungkan mendalam, “bahwa yang dinamakan kekayaan itu bukan semata-mata kekayaan uang materi. daya pikir alim ulama dan cerdik cendekiawan adalah kekayaan. Daya cipta para sastrawan dan seniman kita adalah kekayaan. Tali ukhuwah Islamiyah, rasa solidaritas yang menggerakkan untuk sama-sama memikul mana yang berat, sama-sama menjinjing yang ringan, adalah kekayaan. Cita-cita dan idealisme yang hidup di kalangan remaja putra dan putri Muslimin dan Muslimat adalah kekayaan” (Kebudayaan Islam dalam Perspektif Sejarah, 1988: 333).

Karena itu, upaya-upaya mencetak lebih banyak “kekayaan” seperti diungkap Pak Natsir, perlu segera diprioritaskan. Ini bila tekad menghadirkan sejarah perubahan hendak dikerjakan. Dan upaya tersebut akan banyak melibatkan kondisi yang terjadi di satu organisasi umat, yang dalam pembicaraan ini tidak lain BKPRMI. Evaluasi dan perbaikan mendasar yang mengubah pemikiran akan bertali erat dengan budaya organisasi. Dengan demikian, sejarah baru BKPRMI akan berkorelasi kuat dengan perbaikan mekanisme yang telah berlaku sekaligus membuat terobosan signifikan yang berfaedah bagi organisasi dan lebih jauh kepada umat.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES